FANATISME

Tidak dapat disangkal bahwa setiap penganut agama –termasuk agama Islam – harus meyakini sepenuhnya serta percaya sekukuh mungkin  kebenaran anutannya serta kesalahan anutan  yang bertentangan dengannya. Namun demikian, hal tersebut tidak menghalangi seorang muslim– dalam konteks interaksi sosial – untuk   menyampaikan ketidak kemutlakan kebenaran ajaran yang dianutnya  dan menyampaikan juga  kemungkinan kebenaran pandangan mitra bicaranya. Perhatikan redaksi ayat di atas yang menyatakan: “Sesungguhnya kami atau kamu     pasti    berada di atas  kebenaran  atau dalam kesesatan yang nyata”  Yakni kepercayaan /pandangan kita memang berbeda bahkan bertolak belakang, sehingga pasti salah satu diantara kita ada yang benar dan ada pula yang salah. Mungkin kami, yang benar, mungkin juga anda, dan mungkin kami yang salah dan mungkin juga Anda.

Fanatisme yang terlarang adalah  yang diistilahkan  oleh Al-Qur’an  Hamîyat Al-Jâhiliyah ( Q.S. [48}:26) yakni  semangat menggebu-gebu sehingga kehilangan kontrol  dan bersikap picik  dan angkuh mempertahankan nilai-nilai  yang bertentangan dengan kebenaran dan keadilan.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.