FANATISME

Fanatisme yang terlarang adalah yang diistilahkan  oleh Nabi Saw. dengan ‘Ashabîyah  atau  Ta’ashshub.  Kata ini terambil dari akar kata yang berarti melilit / mengikat Dari sini maknanya berkembang sehingga berarti keluarga, kelompok dimana anggotanya terikat satu dengan yang lain. Keterikatan yang menjadikan mereka sepakat, dan seia sekata, kendati kesepakatan itu dalam kebatilan. Masing-masing tampil dengan kukuh membela anggotanya kendati mereka salah.  Inilah yang diingatkan Nabi Saw. ketika bersabda:  Bukan dari kelompok kita (ummat Islam) siapa yang mengajak kepada sikap Ashabiyah”    Memang dalam masyarakat yang sakit, sikap demikian –  merupakan fenomena  umum. Sedemikian umum sehingga lahir ungkapan “Right or Wrong is my country”.  Ini serupa dengan  ungkapan pada masa Jahilah dahulu “Belalah saudaramu baik dia menganiaya maupun teraniaya.” Pernah suatu ketika, Nabi Muhammad Saw. mengucapkan ungkapan itu dalam konteks memberinya makna yang benar. Sahabat-sahabat beliau  yang telah memahami ajaran Islam dengan baik berkomentar, “Yang teraniaya memang wajar dibela, tetapi apakah yang menganiaya juga harus dibela?” Nabi Saw. menjawab, “Ya! Membelanya adalah dengan menghalanginya melakukan penganiayaan.”   Benar atau salah adalah negeri kita, partai kita, keluarga kita , tetapi jika dia salah kita tidak boleh membiarkan kesalahannya berlarut apalagi merestuinya  Kita berkewajiban meluruskan kesalahan itu dan memperbaikinya , kalau tidak mau dinilai agama sebagai seorang yang fanatik buta.  Demikian Wa Allah A’lam.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.