FANATISME (2)

Fanatisme (2)

Oleh: Ali Nurdin

 

Sebuah ungkapan dapat dimengerti dengan paling tidak tiga sudut pandang: pengertian kebahasaan, istilah dan pemakaian secara kebiasaan. Kata fanatik menurut bahasa dan istilah berkonotasi  netral, namun dalam pemakaian sehari-hari kesan yang muncul adalah sesuatu yang bersifat negatif. Terlebih ketika sudah menjadi sikap hidup atau paham yang kemudian disebut fanatisme, maka langsung terbayang sikap yang keras dan berlebihan. Maka muncul istilah every extreme is fault (segala yang berlebihan adalah salah).

Mari kita kaitkan dengan sebuah proses pengembangan diri. Bersikap fanatik terhadap sebuah prinsip yang benar dan baik adalah sebuah keharusan. Tetapi jika fanatik berpegang kepada sebuah prinsip yang salah maka pasti berujung kepada kegagalan dan  kehancuran. Coba tengok sebuah prinsip “Ubber Alles” atau ras yang tinggi dan prinsip Biefl its Biefl  atau perintah adalah perintah, yang selalu dikumandangkan dan dipegang teguh oleh tentara Nazi pada Perang Dunia II, awalnya memang membuat Jerman begitu perkasa namun berikutnya adalah kehancuran. Apa lagi kalau dikaitkan dengan keyakinan. Inilah yang kemudian dikecam oleh Al-Qur’an: Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. al-Baqarah[2]: 170).

Demikian juga ada sementara orang yang bersikap fanatik dalam prinsip yang benar, namun pada saat yang sama bersikap fanatik juga dalam hal paradigma/kerangka berpikir bahkan yang bersifat “cara” (how to). Padahal secara umum prinsip boleh tidak berubah, namun sebuah paradigma dan “cara” yang merupakan terjemahan dari sebuah prinsip mestinya bersifat fleksibel. Sebuah ilustrasi dapat dikemukakan di sini; setiap orang yang mencoba menyampaikan ide-ide baru untuk memperbaiki dan mengembangkan misalnya sebuah perusahaan atau kehidupan dalam masyarakat maka terkadang akan ditertawakan bahkan  dilecehkan. Contoh lain yang dapat menjelaskan hal ini adalah; ketika seseorang sakit sejak dahulu orang meyakini ini harus diobati itulah prinsip. Caranya adalah dengan mengeluarkan darah, karena pradigmanya penyebab segala penyakit ada dalam darah. Di era modern ketika ditemukan penyebab penyakit antara lain adalah virus, kuman dan bakteri maka akan  berpengaruh kepada cara pengobatannya. Dapat dibayangkan kalau orang tidak mau mengubah cara berobat /fanatik pada satu cara, padahal ternyata   penyebab penyakitnya bukan dalam darah betapa fatal hasilnya. Contoh ini dapat terjadi pada berbagai aspek kehidupan.

Di sinilah pentingnya terus mengevaluasi dan memperbaiki paradigma yang digunakan yang akan berpengaruh kepada “cara” dan teknik melaksanakannya. Isyarat ini dapat ditemukan dalam Al-Qur’an: …Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri…( QS. al-Ra’d [13]:11). Yang ada dalam diri setiap orang antara lain pikiran dan hati; maka kalau seseorang tidak mengubah cara berpikirnya maka Allah SWT pun tidak akan mengubah keadaannya. Maka untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT yaitu agar kehidupan seseorang diubah oleh Allah menjadi lebih baik pertama kali yang harus dilakukan adalah mengubah cara berpikirnya atau menjauhi sikap fanatik buta dalam memegang sebuah paradigma. Ungkapan populer yang dapat menjelaskan hal ini adalah “anda adalah apa yang anda pikirkan”. Namun demikian, ungkapan tersebut harus tetap dievaluasi dan diluruskan. Karena rasionalitas sebagai salah satu produk pikiran dapat menjebak dan menjerumuskan manusia kepada keputusasaan dan kegagalan. Lihat contoh yang diabadikan Al-Qur’an; Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah Pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku”. Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS. asy-Syu’ara’[26]: 61-63).

Perkataan pengikut Musa (Bani Israil) yang bernada putus asa karena di depannya ada laut dan di belakang pasukan Fir’aun sudah terlihat adalah sebuah hasil fanatisme terhadap rasionalitas. Mereka tidak menggunakan hatinya untuk meyakini adanya pertolongan Allah SWT yang terkadang di luar rasionalitas. Ini berbeda dengan Nabi Musa yang sangat percaya diri menyatakan “sekali-kali tidak, karena Pasti Tuhan akan memberikan pertolongan” dan akhirnya yang muncul adalah miracle pertolongan Allah SWT. Pelajaran lain yang dapat dipetik dari kisah tersebut adalah ketika mendapat  kesulitan atau masalah maka hadapilah dengan segenap kemampuan kita, kemudian berserah dirilah kepada Allah SWT, jangan ikut  memikirkan bagaimana cara Allah SWT memberi pertolongan. Ingatlah pertolongan Allah itu seringkali datang dari arah yang kita tidak duga-duga. Karena itu, jangan fanatik buta terhadap paradigma dan cara anda menyikapi hidup karena itu hanya akan menghambat kemajuan anda.

Wallahu ‘alam

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.