Bekerja dengan Baik adalah Bentuk Ibadah yang Baik

 

Bekerja dengan Baik adalah Bentuk Ibadah yang Baik

Oleh: Ali Nurdin

 

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, … (QS. 9: 105).

Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya. Om beli bunga Om.” Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk dengan laptopnya.” Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om,” rayu si gadis kecil. Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasikannya, si pemuda berkata, Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh, Om akan beli bunga dari kamu.” Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu. Setelah menyelesaikan istirahat siangnya, si pemuda segera beranjak dari kafe itu.

Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya. Sudah selesai kerja Om, sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.” Bercampur antara jengkel dan kasihan si pemuda mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya. Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Om tidak mau bunganya, anggap saja ini sedekah untuk kamu,” ujar si pemuda sambil mengangsurkan uangnya kepada si gadis kecil. Uang itu diambilnya, tetapi bukan untuk disimpan, melainkan ia berikan kepada pengemis tua yang kebetulan lewat di sekitar sana. 

Pemuda itu keheranan dan sedikit tersinggung. Kenapa uang tadi tidak kamu ambil, malah kamu berikan kepada pengemis?” Dengan keluguannya si gadis kecil menjawab, Maaf Om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta. Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang kita tidak bolah menjadi pengemis.” Pemuda itu tertegun, betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil bahwa kerja adalah sebuah kehormatan, meski hasil tidak seberapa tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan. Si pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan dompetnya dan membeli semua bunga-bunga itu, bukan karena kasihan, tapi karena semangat kerja dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran berharga hari itu. 

Tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas pada uang atau upah yang diterima. Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita. Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada manusia itu sendiri. Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangan.

Fitrah Manusia adalah Bekerja

Kita merayakan Idul Fitri yang sering secara sederhana kita maknai kembali kepada fitrah manusia setelah menjalani serangkaian ibadah Romadhan. Salah satu fitrah manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah Swt. dengan tugas untuk bekerja memakmurkan bumi (khalifah), meskipun malaikat sempat menanyakan keputusan Allah memilih manusia sebagai pengelola bumi (QS. 2:30).

Malaikat makhluk yang dianugrahi kecerdasan namun tidak memiliki hawa nafsu. Binatang adalah makhluk yang diberi hawa nafsu namun tidak memiliki akal pikiran. Kedua jenis makhluk tersebut kehidupannya monoton. Sejak pertama diciptakan sampai kapanpun begitulah keadaan kedua makhluk tersebut. Tidak bisa dibayangkan kalau kedua makhluk tersebut yang diserahi tugas untuk mengelola bumi.

Manusia adalah karya unggulan Tuhan, karena manusia dianugrahi akal pikiran dan sekaligus hawa nafsu. Maka manusia diberi mandat untuk bekerja keras membangun dan memakmurkan bumi. Siapa saja yang tidak bekerja sungguh-sungguh berarti tidak sesuai dengan fitrah penciptaan-Nya. Kesimpulan ini diisyaratkan juga dalam Al-Qur’an: Kemudian Kami berfirman, “Wahai Adam! Sungguh ini (Iblis) musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, nanti kamu mengalami kesusahan (QS. 20: 117).

Redaksi kamu mengalami kesusahan diartikan sebagai kesusahan dalam memenuhi kebutuhannya di bumi. Hal itu berbeda dengan apa yang diperolehnya ketika di surga sama sekali tidak membutuhkan kerja keras karena semua sudah disiapkan oleh Allah swt; Sungguh, ada (jaminan) untukmu di sana (surga), engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang. Dan sungguh, di sana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari.” (QS. 20: 118-119).

Keputusan sudah dijatuhkan, kita manusia keturunan Adam diberi kesempatan tinggal di bumi untuk beberapa saat. Kalau ingin menjalankan peran yang benar dalam kehidupan ini maka bekerja dengan sungguh-sungguh adalah jalan yang ditetapkan Tuhan bagi manusia. Tidak ada tempat bagi orang yang malas untuk tinggal di bumi Allah Swt., maka Rasul Saw. mewanti-wanti agar kita tidak malas, karena kemalasan adalah syetan. Nafsu manusia selalu membisikkan kepada manusia agar tidak perlu bekerja keras, kalau bisa “muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga”. Rumus hidup seperti itu tidak ada.

Bekerja adalah Ibadah

Sering kita mendengar pandangan yang membedakan antara bekerja dengan ibadah. Bekerja itu urusan dunia dan ibadah itu urusan akhirat. Benarkah pandangan demikian?

Anggapan seperti itu benar ketika melihat realitas banyaknya orang yang bekerja dengan niat dan cara yang tidak sesuai dengan petunjuk agama. Ada sementara orang yang bekerja hanya semata-mata untuk mengumpulkan harta benda tanpa menghiraukan etika. Di sisi lain orang seperti ini terkadang rajin dalam ibadah ritualnya. Namun, dalam bekerja seakan Tuhan tidak hadir bersamanya. Tuhan hanya dapat dijumpai di tempat-tempat ibadah. Bahkan lebih ekstrim lagi ada yang bekerja menabrak etika, kemudian berusaha membersihkan harta perolehannya di tempat ibadah.

Apabila seseorang memahami bahwa bekerja dengan baik itu juga salah satu bentuk ibadah yang baik maka tidak akan ada pertanyaan mana yang didahulukan urusan bekerja atau ibadah, urusan dunia atau akhirat, dan seterusnya, di mana pertanyaan seperti itu muncul karena kekeliruan dalam memahami konsep bekerja.

Sebagai contoh: Seorang dokter bedah yang ketika sedang menjalankan tugas mengoperasi pasien kemudian terdengar suara azan, apakah meneruskan tugasnya dengan resiko fatal atau berhenti untuk melaksanakan salat di awal waktu?  Seseorang yang menganggap tugas dokter sebagai urusan dunia dan salat adalah urusan akhirat pasti akan berpendapat tinggalkan tugas mengoperasi pasien apapun yang terjadi dan “utamakan Allah”. Ini adalah jawaban yang keliru.

Contoh lain: Seorang pengemudi taksi yang sedang bekerja mencari nafkah harus mengantarkan penumpang ke suatu tujuan apalagi kalau itu waktunya mendesak. Di tengah perjalanan suara azan  terdengar, apa yang harus dikerjakan, apakah melanjutkan mengantar penumpang dengan resiko salatnya tidak di awal waktu, atau minta izin ke penumpang untuk mengerjakan salat dahulu? Sekali lagi kalau paradigmanya adalah bekerja mengantar penumpang itu urusan dunia dan salat itu urusan akhirat, maka orang akan memilih yang kedua. Apakah seperti itu agama mengajarkan?!

Sebelum menengok bagaimana petunjuk agama tentang bekerja adalah ibadah, penting untuk memahami apa itu arti kerja yang dalam bahasa arab disebut dengan kata ‘amal. Secara sederhana bekerja dapat diartikan sebagai mengerahkan kemampuan manusia untuk mencapai suatu tujuan. Manusia dianugrahi dengan beberapa potensi. Ada yang bekerja mengerahkan kemampuan fisik, ada juga yang bekerja dengan mengandalkan otaknya, ada yang bekerja melalui hati/spiritualitasnya dan ada yang bekerja dengan daya manusia.

Sekarang  kita simak beberapa petunjuk agama yang menegaskan bahwa bekerja yang baik itu juga bentuk ibadah yang baik. Allah swt menegaskan: Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik pekerjaannya (QS. 67: 2). Ayat tersebut pada frasa yang diberi garis bawah tidak menyatakan “yang lebih banyak pekerjaannya” atau yang lebih baik “ibadahnya”, tetapi dengan redaksi yang lebih baik pekerjaanya/amalnya. Ini berarti Al-Qur’an menuntun dan menuntut manusia untuk berorientasi kepada kualitas dalam bekerja. Juga dapat diartikan bahwa tujuan Allah Swt. memberi manusia kehidupan agar bekerja dengan baik. Maka seseorang yang bekerja dengan baik itu berarti telah melaksanakan salah satu perintah Allah Swt. dan memenuhi tujuan penciptaan. Itu berarti bekerja dengan baik adalah bentuk ibadah yang baik. Bagaimana agar kerja yang kita lakukan itu dapat menjadi salah satu bentuk ibadah yang baik?

Mohon bersabar para pembaca.

In syaa Allah akan kita teruskan pada serial tuliskan berikutnya.

 

 

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.