AGAR BEKERJA MENJADI IBADAH

AGAR BEKERJA MENJADI IBADAH

Oleh: Ali  Nurdin

 

 

Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu. Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Al-Mulk [67]: 15).

 

Pada tulisan sebelumnya kita sudah membahas tentang bekerja secara baik itu adalah ibadah yang baik. Kali ini kita akan fokus mendiskusikan bagaimana agar kerja kita menjadi ibadah. Kita akan mulai dengan kisah di bawah ini.

Dalam sebuah perjalanan menuju bandara, seperti biasa kami mengobrol dengan pengemudi taksi yang kami naiki. Di kartu pengemudi yang terletak di depan tertulis nama yang sepertinya berasal dari jawa. Maka kami langsung menyapa dengan bahasa jawa ngoko: (dan ternyata benar asli jawa).

Penulis: “Asli pundi, Pak? (Asli dari mana, Pak)?

Pengemudi: “Solo, Pak”.

Penulis: Solone pundi? (Solonya mana?)

Pengemudi: Wonogiri.”

Sudah menjadi kebiasaan, saudara-sudara kita yang berasal dari daerah eks karisidenan Surakarta seperti Wonogiri, Klaten, Boyolali, Sragen, Karang Anyar, Sukoharjo, apabila ditanya dari mana asalnya, biasanya akan menjawab dari Solo. Ada banyak alasan mengapa demikian; bisa  jadi numpang beken, atau  kalau menyebut daerah aslinya yang bertanya tidak tahu, sehingga harus menjelaskan, seperti yang pernah penulis alami, ketika kami jawab dari Boyolali, malah menyimpulkan Boyolali itu Jawa Timur ya.

Kami pun melanjutkan mengobrol:

Penulis: “Mpun dangu mbeto taksi?” (sudah lama mengemudi taksi)

Pengemudi: “Sak untawis (sudah lumayan lama)

Penulis: “Putranipun pinten?” (anaknya berapa)

Pengemudi: “Tigo, sing mbajeng nembe rampung kuliah, Alhamdulillah, sampun nyambut damel, nomor kalih SMA klas tigo, ragil nembe SD kelas 6.” (Tiga, pertama selesai kuliah, Alhamdulillah, sudah bekerja, nomor dua SMA kelas tiga, bungsu masih SD kelas 6).

Secara spontan kami pun berkomentar, “Wah! Hebat banget bapak ini.” Sambil tersenyum sedikit tersipu beliau menjawab, “Alhamdulillah, Pak.”

Saya meneruskan, “Kok saget ngoten niku pripun critane?” (Kok bisa begitu bagaimana ceritanya?).

Pengemudi: “Nggih biasa mawon pak, pokoke kulo lampahi mawon, nyambut damel sak saget-saget kulo, sing penting berkah. (ya biasa saja pak, dijalani saja, bekerja semampu saya yang penting berkah).

Dalam hati saya berkesimpulan inilah rahasianya, si bapak ini  bekerja dengan kesungguhan dan niat yang benar.

Tujuan yang benar

Agar kerja kita bernilai ibadah maka haruslah memahami tujuan atau niat yang benar dalam bekerja seperti yang diajarkan dalam agama. Di samping mencari ridha Allah –ini yang memang utama- bekerja hendaklah memiliki tujuan yang baik, di antaranya:

Pertama, menyempurnakan tugas sebagai manusia

Dalam pandangan kitab suci Al-Qur’an manusia memiliki dua tugas pokok yaitu sebagai khalifah dan sebagai hamba yang harus menjadikan segala aktifitasnya bernilai ibadah. Yang pertama disebut pada surah al Baqarah/2: 30: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”. Tugas yang kedua disebut pada surah azd-Dzariyat/51: 56; Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Salah satu cara untuk melaksanakan kedua tugas tersebut adalah dengan bekerja secara baik dengan motif utamanya untuk menjalankan mandat yang telah diberikan oleh Allah Swt. tersebut. Ini berarti dalam pandangan agama bekerja bukanlah semata-mata urusan duniawi melainkan juga urusan ukhrawi. Tugas mulia ini  yaitu menjadi khalifah  Allah di muka bumi tidak diserahkan kepada malaikat melainkan kepada manusia. Manusialah dalam pandangan Allah Swt. yang memiliki kapasitas untuk dapat menjalankan tugas tersebut. Yang tidak mau bekerja berarti tidak menjalankan amanah Allah Swt.

Kedua, mencari nafkah

Manusia diberikan naluri untuk mempertahankan hidup. Dalam mempertahankan hidup mansia membutuhkan makan, minum, sandang, dan papan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia dituntut untuk bekerja mencari nafkah, baik untuk diri sendiri maupun keluarganya. Inilah inti dari perintah Allah Swt. seperti tertulis pada ayat yang dikutip di awal tulisan ini.

Ayat di atas paling tidak mengandung empat pelajaran penting. 1). Allah Swt. telah menyiapkan dan memudahkan bumi ini sebagai sarana untuk mencari nafkah. 2). Allah Swt. memerintahkan manusia untuk pergi ke berbagai tempat di penjuru bumi untuk mengelola kehidupan. 3). Setelah dapat meraih rezeki kemudian nikmatilah rezeki tersebut dengan baik sebagai tanda syukur kepada-Nya. 4). Namun, harus diingat bahwa kehidupan ini tidak hanya di dunia melainkan ada kehidupan akhirat. Maka, hendaklah memperhatikan tuntutan dan tuntunan Tuhan, khususnya dalam mencari nafkah.

Itu baru satu contoh dalam Al-Qur’an, masih bertebaran ayat lainnya tentang perintah agar kita bekerja dengan baik untuk menyempurnakan keimanan kita. Bagaimana dengan hadis Nabi Saw.?  Kita akan sebutkan satu contoh saja dari hadis Nabi Saw. yang intinya bahwa memberi nafkah kepada keluarga lebih utama dari pada sedekah sunnah.

Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen). (HR. Muslim no. 995)

Seorang ulama pernah menjelaskan, “Sebagian orang tatkala bersedekah untuk fakir miskin atau yang lainnya lalu mereka merasa bahwa mereka telah mengamalkan amalan yang mulia dan menganggap sedekah yang mereka keluarkan itu sangat berarti. Sedangkan ketika mengeluarkan harta mereka untuk memberi nafkah kepada keluarganya lalu seakan-akan perbuatan mereka itu kurang berarti, padahal memberi nafkah kepada keluarga hukumnya wajib dan bersedekah kepada fakir miskin hukumnya sunnah. Dan Allah lebih mencintai amalan wajib daripada amalan sunnah.”

Ketiga, meraih penghidupan yang layak

Tujuan ketiga dalam bekerja yang diajarkan agama adalah untuk memperoleh kehidupan yang layak. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah di surah an-Nahl/16: 97:

“Barangsiapa yang mengerjakan pekerjaan yang baik (amal saleh), baik laki-laki maupun perempuan, dalam Keadaan beriman maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Kehidupan yang baik yang dimaksud pada ayat di atas di antara maknanya adalah meraih kesejahteraan lahir-batin, dunia dan akhirat. Yang harus digarisbawahi adalah penghidupan yang baik tidak hanya tergantung pada materi tetapi juga memperhatikan aspek spiritual manusia. Manusia adalah makhluk jasmani dan ruhani. Kalau hanya lahiriyah saja yang dikejar bisa saja seseorang merasa senang setelah meraihnya, namun bahagia belum tentu. Karena kebahagiaan bukan hanya masalah materi, namun juga hati.

Tujuan bekerja untuk meraih kesejahteraan lahir dan batin juga didukung oleh ayat lain yang berisi doa yang dikenal dengan doa sapu jagat; “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka” (QS. al-Baqarah [2]: 201)

The Power of Intention (Kekuatan Niat)

Di bagian akhir pada tulisan ini mari kita renungkan sabda Nabi Saw.: “Segala perbuatan (tindakan dan juga pekerjaan) tergantung kepada niatnya, dan seseorang akan memperoleh apa yang diniatkan.” Hadis ini terkadang hanya dipahami dalam konteks ibadah ritual, padahal Nabi Saw. menyebut segala tindakan atau pekerjaan bahkan latar belakang sabda Nabi ini adalah peristiwa hijrah yang berarti itu adalah suatu tindakan bukan ritual semata.

Ada dua poin dari hadis di atas: pertama, betapa pentingnya untuk memastikan niat dan tujuan yang benar atas segala tindakan dan pekerjaan kita. Niat yang benar dan sungguh-sungguh akan menjadi kekuatan yang dahsyat. Rasa lelah, bosan, pesimis, malas dan segala perasaan  negatif  muncul karena tidak adanya niat yang benar.

Kedua, apa saja yang kita niatkan dengan benar dan sungguh-sungguh maka kita akan meraihnya. Ketika tujuan dan niat yang sudah terpatri kuat dalam diri seseorang maka itu akan menjadi kenyataan. Niat dan tujuan tersebut akan mengirim sinyal  yang kuat kepada pikiran yang akan menjadi landasan dalam setiap pekerjaan kita. Maka teruslah memeriksa dengan teliti tujuan dan niat dalam setiap aktifitas kita.

Agar pekerjaan kita bernilai ibadah apakah cukup mengandalkan niat dan tujuan? Tentu saja tidak, harus disempurnakan dengan faktor lainnya, dan itulah yang akan kita bahas pada tulisan selanjutnya, In Syaa Allah.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.