AL-QUR’AN MENUNTUT KITA CERDAS

 AL-QUR’AN MENUNTUT KITA CERDAS

Oleh: Ali Nurdin

 

Istantiq al-Qur’an”, biarkan al-Qur’an berbicara. Demikian ungkapan yang disampaikan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib. Sungguh masih sangat relevan untuk selalu menjadi pengingat bagi setiap muslim. Bahwa setiap masalah yang dihadapi manusia al-Qur’an akan selalu memberikan solusinya. Namun, pernyataan yang terakhir ini harus dipahami dengan benar yaitu bukan menjadikan al Qur’an hanya sebatas untuk dibaca melainkan dipahami dengan baik dan benar serta lebih dari itu adalah diamalkan isi kandungannnya. Di sinilah letak pentingnya seorang muslim untuk terus mengasah potensi kecerdasannya dan itu merupakan tuntutan dari al-Qur’an.

Mengapa Seorang Muslim Harus Cerdas

Apresiasi atau perhatian al-Qur’an terhadap kecerdasan dan ilmu pengetahuan ini dapat kita mulai dari melihat betapa seringnya al-Qur’an menyebut kata ‘ilm (yang berarti pengetahuan) dengan segala derivasinya (pecahannya) yang mencapai lebih dari 800-an kali. Belum lagi ungkapan lain yang dapat memiliki kesamaan makna menunjuk arti pengetahuan, seperti; kata al-fikr, al-nazhr, al-bashar, al-tadabbur, al-dzikr, dll. Kata ‘ilm menurut para ahli bahasa al-Qur’an mengandung arti “pengetahuan akan hakekat sesuatu”. Dari kata kunci inilah kita dapat mulai melacak bagaimana al-Qur’an khususnya dan agama Islam pada umumnya memberikan perhatian terhadap ilmu pengetahuan. Di antaranya adalah:

Pertama, wahyu al-Qur’an yang turun pada masa awal mendorong manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Mayoritas ulama khususnya ulama al-Qur’an sepakat bahwa wahyu al-Qur’an yang turun pertama kali adalah lima ayat di surat al-‘Alaq, kemudian disusul awal ayat di surat al-Qalam.

Dalam ayat-ayat  yang pertama kali turun al-’Alaq/96: 1-5 tergambar dengan jelas betapa kitab suci al-Qur’an memberi perhatian yang sangat serius kepada kecerdasan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Sehingga Allah Swt. menurunkan petunjuk pertama kali adalah terkait dengan salah satu cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang dalam redaksi ayat tersebut menggunakan redaksi ”Iqra. Makna perintah tersebut bukanlah hanya sebatas membaca dalam arti membaca teks, tetapi makna iqra adalah membaca dengan melibatkan pemikiran dan pemahaman, dan itulah kunci perkembangan ilmu pengetahuan dalam sepanjang sejarah kemanusiaan. Dalam konteks modern sekarang makna iqra’ dekat dengan makna reading with understanding (membaca disertai dengan pemahaman).

Dalam ayat pertama tersebut tidak dijelaskan obyek apa yang harus di-iqra’. Hal ini mengandung arti bahwa apa saja yang dapat kita jangkau untuk diteliti maka hal tersebut dapat menjadi obyek iqra’. Di kalangan para mufassir ada satu kaidah yang menyatakan bahwa “apabila dalam suatu perintah tidak disebutkan obyeknya maka obyeknya apa saja yang dapat dijangkau oleh perintah tersebut.

Dari pemahaman tersebut dapat juga disimpulkan, Islam sejak awal tidak membedakan antara ilmu umum dan ilmu agama atau ilmu dunia dan ilmu akhirat. Apa saja obyek yang dapat memberikan manfaat bagi kemaslahatan hidup manusia sudah sewajarnya kalau dipelajari oleh manusia. Sehingga yang menentukan baik tidaknya apa yang dipelajari bukan terletak kepada obyeknya melainkan kepada motivasi atau niatnya. Hal inilah yang diisyaratkan dalam penggalan ayat selanjutnya bismirabbik.

Yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa apa pun aktifitas iqra’ yang kita kerjakan maka syarat yang ditekankan oleh al-Qur’an adalah harus bismirabbik, (dengan nama Tuhan). Hal ini mengandung arti seperti yang diungkapkan oleh Syaikh Abdul Halim Mahmud (Mantan pemimpin tertinggi Al-Azhar Mesir) sebagaimana dikutip Quraish Shihab; Dengan kalimat iqra’ bismirabbik, al-Qur’an tidak sekadar memerintahkan untuk membaca, tetapi membaca adalah lambang dari segala yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat tersebut dalam pengertian dan jiwanya ingin menyatakan “Bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhan mu, bekerjalah demi Tuhanmu”. Demikian juga apabila anda berhenti bergerak atau berhenti melakukan aktivitas, maka hal tersebut hendaklah juga didasarkan kepada bismirabbik. Sehingga pada akhirnya ayat tersebut berarti “Jadikanlah seluruh kehidupanmu, wujudmu, dalam cara dan tujuannya, kesemuanya demi Allah Swt.”

Kalau dalam kelompok ayat yang pertama turun berkaitan dengan perintah membaca maka kelompok ayat yang kedua yaitu di surat al-Qalam menekankan pentingnya alat yang harus digunakan untuk menunjang aktifitas membaca yaitu qalam (pena) dan hasilnya yaitu tulisan. Dalam ayat tersebut seakan Allah Swt. bersumpah dengan manfaat dan kebaikan yang dapat diperoleh dari tulisan. Hal ini secara tidak langsung merupakan anjuran untuk membaca karena dengan membaca seseorang dapat memperoleh manfaat yang banyak khususnya adalah wawasan hidup dan pengetahuannya. Hal tersebut akan sangat bermanfaat bagi kesuksesan hidupnya. Atau dengan kata lain ilmu pengetahuan akan dapat terus berkembang dengan baik apabila budaya baca-tulis telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Budaya baca disimbolkan dalam perintah iqra’, sementara budaya tulis disimbolkan dalam wahyu yang kedua yaitu al-qalam (pena).

Kedua, tugas Manusia sebagai khalifah Allah di bumi akan sukses kalau memaksimalkan kecerdasannya. Hal ini ditegaskan dalam surat al-Baqarah/2: 30-31.

Penggalan ayat 31 yang berbunyi, “Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”, mengandung arti bahwa salah satu keistimewaan manusia adalah kemampuannya mengekspresikan apa yang terlintas dalam benaknya serta kemampuannya menangkap bahasa sehingga ini mengantarnya mengetahui. Di sisi lain kemampuan manusia merumuskan ide dan memberikan nama bagi segala sesuatu merupakan langkah menuju terciptanya manusia yang berpengetahuan dan lahirnya ilmu pengetahuan.

Ketiga, muslim yang baik tidak pernah berhenti untuk menambah ilmu. Ajaran ini tertuang dalam surat Thaha/20: 114 “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”

Inilah salah satu doa yang harus dipanjatkan oleh seorang muslim yang diajarkan oleh al-Qur’an. Bahwa memohon kepada Allah Swt. agar ditambahkan ilmu pengetahuan adalah bagian dari kebutuhan hidup. Dari ayat ini juga dapat dipetik pelajaran bahwa al-Qur’an mengajarkan menuntut ilmu adalah salah satu bentuk ibadah yang bernilai tinggi dan harus dilakukan oleh setiap muslim sepanjang hidupnya. Maka kalau pada masa modern dikenal istilah pendidikan seumur hidup (long live education), maka Islam sejak awal menekankan kepada umatnya untuk terus menambah ilmu pengetahuan.

Keempat, orang yang berilmu akan dimuliakan oleh Allah Swt. Hal ini disebut dalam surah al-Mujadilah/58: 11; “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Dari ayat tersebut jelas bahwa kemuliaan dan kesuksesan hidup hanya milik orang yang berilmu dan beriman. Orang yang beriman tetapi tidak memiliki ilmu pengetahuan maka tidak akan memperoleh kemuliaan di sisi Allah Swt. Sebaliknya, bagi orang yang hanya berilmu saja tanpa disertai iman maka juga tidak akan membawa manfaat bagi kehidupannya khususnya di akhirat kelak.

Wallahu a’lam.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.