Niat Saja Tidak Cukup

Niat Saja Tidak Cukup

Oleh: Ali  Nurdin

Para bijak bestari ketika mengajarkan nilai-nilai kebaikan seringkali menggunakan kisah simbolik. Salah satu tokoh yang sering didapuk memainkan peran tersebut bernama Nasruddin Hoja. Tulisan ini akan dimulai dari salah satu kisah Nasruddin.

Suatu ketika, Nasruddin di halaman rumahnya seperti sedang mencari-cari sesuatu. Kawannya yang sedang lewat kemudian bertanya, “Hai, Nasruddin! Sedang mencari apa kamu?” Nasruddin menjawab, “Mencari kunci.” “Memang kuncimu jatuh di mana?” tanya orang itu meneruskan. Dengan cepat Nasrudin menjawab, “Di dalam rumah sih.” Kawannya itu dengan penuh keheranan bertanya lagi, “Lho, kunci jatuh di dalam rumah kok dicari di halaman rumah.” Tanpa menoleh dan tanpa rasa bersalah Nasrudin menjawab, “Di dalam gelap, di luar terang.”

Kisah di atas menggambarkan kebanyakan manusia yang keliru menjalani hidup. Setiap orang pasti ingin bahagia, dan kunci kebahagiaan itu sepenuhnya ada dalam dirinya, dalam bentuk bagaimana menyikapi hidup secara benar. Namun, kebanyakan orang mencari kunci kebahagiaannya di luar dirinya, yaitu pada hal-hal yang dinilai menyenangkan. Mengapa begitu? Karena itu yang disukai hawa nafsu. Sedangkan perjuangan mengelola diri adalah membutuhkan kesungguhan dan konsitensi yang tinggi (istiqomah).

Seseorang bekerja mencari nafkah untuk mendapatkan uang.  Setelah mendapat harta maka akan terpenuhi keinginan. Kalau keinginan terpenuhi maka akan senang. Kalau hanya itu yang menjadi alur hidupnya maka sulit akan bahagia. Senang mungkin saja, tetapi bahagia tidak akan teraih. Maka, agar bekerja dapat mendatangkan kebahagian dan memiliki nilai ibadah, ternyata dengan niat saja tidak cukup. Harus ditambahkan dengan cara yang benar. Beberapa cara yang benar yang dapat  menjadikan pekerjaan kita bermakna dan bernilai ibadah adalah:

 Pertama, Halal

Pekerjaan yang halal artinya pekerjaan yang tidak dilarang dalam agama. Al Qur’an menegaskan, “Wahai manusia makanlah yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 168). Perintah makan di sini tentu juga mencakup perintah dalam mencari makan atau bekerja hendaklah yang halal. Pekerjaan yang halal menjadikan hati tenang jiwa damai. Sebaliknya, pekerjaan yang tidak halal atau haram meskipun mungkin menghasilkan banyak uang pasti tidak akan menghasilkan ketenangan. Padahal manusia bekerja keras banting tulang itu tujuannya agar meraih hidup yang tenang.

Suatu ketika kami naik taksi “Bluebird”. Sudah menjadi kebiasaan kami untuk sekadar mengisi kekosongan kami mengobrol dengan pengemudi taksi, terlebih ketika melihat penampilannya yang rapi dengan badan yang tegap kami penasaran. “Sudah lama di Bluebird, Mas?”  Tanyaku membuka percakapan. “Baru dua tahun, Pak,” jawabnya sambil tetap fokus dengan kemudinya. “Sebelumnya di mana?” Dengan tanpa menoleh karena fokus dengan kemudinya dan kebetulan jalanan yang memang agak penuh dia menjawab, “Sebelumnya saya di SPBU, Pak. Kebetulan kerja dengan saudara, diberi tanggung jawab oprasional, tetapi saudara saya itu menyuruh saya untuk curang dengan kong kalikong sama bagian distributor serta pengawas dengan cara menyiasati takaran agar bensin yang keluar tidak pas dengan harga yang dibayar.” Saya makin penasaran dengan bertanya, “Terus?” “Awalnya saya mengikuti saja, dan tentu sering diberikan bonus tambahan, hasilnya lumayan besar setiap bulannya. Lama-lama kok hati tidak tenang. Saya cerita sama istri dan Alhamdulillah, Pak, istri malah yang mengusulkan untuk mencari pekerjaan lain saja yang halal dan menenangkan.”

“Akhirnya, sebelum saya pamit keluar saya mencoba mengingatkan saudara saya itu siapa tahu dia sadar. Dia malah menjawab, ‘Tenang saja, meskipun curang saya juga banyak amal kok.’ Dari pada tidak enak kalau harus berdebat, saya memutuskan keluar dan masuk di Bluebird.”

Saya membatin dalam hati, orang ini hebat dan dia telah sukses karena sanggup mengalahkan hawa nafsunya dan memilih mengikuti suara hati nuraninya. Ketika turun setelah saya membayar saya salami dan saya katakana, “Selamat ya, Mas! Anda hebat. Semoga diberkahi.” Dia pun menjawab, “Amin. Saya yang terima kasih, Pak.”

Indahnya kalau kita menjalani hidup dengan hati yang tenang, apapun yang kita lakukan akan terasa membahagiakan.

Kedua, sungguh-sungguh

Agar pekerjaan yang kita jalani bernilai ibadah maka kita harus mengerjakannya dengan kesungguhan dan sepenuh hati. Hal ini juga ditegaskan dalam al-Qur’an, Orang-orang yang bersungguh-sungguh ingin menempuh jalan-Ku (dengan bekerja secara serius), maka akan kami berikan petunjuk…” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 69).

Sering kita mendengar orang berkata, “Tidak usah terlalu serius, santai saja kerja itu, rezeki sudah diatur.” Sekilas ucapan tersebut benar dan terkesan relijius. Namun, itu bisa menjadi jebakan syetan untuk menggoda manusia agar tidak usah bekerja serius. Dan memang salah satu pintu syetan menggoda manusia adalah melalui kemalasan. Bekerja serius bukan berarti harus “ngoyo”, namun bekerja dengan melibatkan hati (passion) dan fokus serta yang lebih penting adalah tetap menjaga norma-norma yang telah digariskan, baik oleh perusahaan atau instansi tempat kita bekerja maupun norma sosial lainnya. Bekerja dengan sungguh-sungguh akan diikuti dengan ekspresi yang penuh semangat.

Jika semangat adalah bahan bakar, maka sungguh-sungguh bagaikan pelumas. Dua hal yang menjadi sarat mutlak untuk berhasilnya suatu pekerjaan. Semangat dan sungguh-sungguh bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Yang satu sangat membutuhkan yang lain. Jika semangat merupakan sarat mutlak untuk dapat bergerak aktifnya diri maka kesungguhan adalah sarat mutlak untuk sempurna dan berhasilnya gerakan itu. Tanpa adanya kesungguhan mustahillah sesuatu itu bisa dicapai dengan sebaik-baiknya. Tanpa kesungguhan segala sesuatu akan terasa sangat berat untuk dikerjakan.

Bersungguh-sungguh adalah memberikan perhatian dengan sepenuh hati kepada segala sesuatu yang sedang kita lakukan. Jika kita bersungguh-sungguh maka Tuhan pun akan bersungguh-sungguh memberikan yang terbaik. Sehingga seringkali kita mendapat banyak hal diluar dugaan. Sebaliknya, tanpa kesungguhan kita sering kecewa dan serasa tidak mendapat apa-apa. Asas timbal balik dan hukum sebab akibat berlaku di sini. Hasil akan sangat bergantung pada kesungguhan kita dalam bekerja agar dapat bernilai ibadah.

Ketiga, profesional

Bekerja secara profesional adalah bagian dari etika bekerja yang diajarkan dalam agama. Profesional berasal dari kata profesi. Profesi dapat diartikan bidang pekerjaan yang didasari oleh keahlian dan tanggung jawab yang tinggi. Keahlian yaitu kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut karena yang bersangkutan telah memahami benar mengenai teknis pelaksanaan pekerjaan tersebut. Tanggung jawab yaitu bahwa pelaksanaan pekerjaan tersebut terhindar dari kesalahan-kesalahan sehingga hasilnya memuaskan.

Bertolak dari pengertian tersebut, maka bekerja secara profesional berarti seseorang yang melakukan pekerjaannya itu dengan keahlian yang dimilikinya dan penuh tanggung jawab. Contoh: seorang yang berprofesi sebagai dokter maka kerja dokter tersebut dapat dinilai profesioanal kalau dalam melakukan pekerjaaannya dilandasi atas ilmu dan keahlian yang dimiliki dan penuh tanggung jawab. Demikian juga dengan profesi lainnya. Misalnya, pengemudi taksi. Disebut professional ketika mengemudikan taksi didasari pada keterampilan dan keahlian yang sudah dimiliki dan dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Yang dipikirkan hanya bagaimana mengemudi dengan baik, sehingga pelanggan merasa nyaman.

Bekerja dengan profesional itu juga bagian dari ajaran agama didasarkan pada penegasan Allah Swt. yang menyatakan bahwa setiap orang itu memilki kecenderungan atau bakat tertentu dalam pekerjaannya. (QS. Al-Isra’ [17]: 84). Dengan demikian, yang bekerja secara profesional berarti mengikuti petunjuk Tuhan dan berarti bernilai ibadah.

Keempat, tidak melalaikan kewajiban

Yang dimaksud poin keempat ini adalah tidak melalaikan kewajiban yang dibebankan kepada seorang hamba Allah. Secara tegas Al-Qur’an menginformasikan bahwa orang yang baik adalah “Orang yang tidak dilalaikan oleh pekerjaannya (perdagangan dan jual beli serta lainnya) dari mengingat Allah .. (QS. An-Nur [24]: 37).

Agar bekerja kita bernilai ibadah dan mendapatkan hasil yang berkah maka kewajiban-kewajiban seperti salat, puasa dan zakat apabila mampu, harus ditunaikan secara proporsional. Bagaimana mengatur itu semua di tengah kesibukan kita bekerja tergantung kepada kondisi masing-masing orang.

Itu berarti seseorang yang bekerja tapi mengabaikan hal-hal yang telah disebut di atas seandainya berhasil sekalipun pasti tidak akan berkah. Padahal, dalam hidup sikap yang benar adalah bagaimana agar seluruh aktifitas yang kita jalani menghasilkan keberkahan. Dan itulah sebenarnya kebahagiaan yang hakiki.

Wallahu a’lam.

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.