Perspective Taking

Setelah pada bagian pertama kami mendiskusikan kemampuan fokus dan pengendalian diri (Focus and Self Control), kini bagian kedua bersama santri mendiskusikan kemampuan mengambil perspektif orang lain (Perspective Taking).

Seseorang akan meraih keberhasilan dalam hidupnya apabila memiliki kemampuan untuk melihat bagaimana perspektif orang lain dalam satu masalah. Dalam bahasa Steven R Covey disebut dengan istilah berusaha memahami orang lain sebelum minta dipahami (Seek first to understand, then to be understood) yang merupakan habit ke-5 dalam masterpiece-nya yang sangat terkenal, Seven Habits.

Apakah Al-Qur’an juga menjelaskan masalah ini? Mari kita simak ayat-ayat di bawah ini:

1.Surah al-Maidah/5: 48

Artinya: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan (syariat) dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”

 

Perhatikan Firman Allah: “… untuk setiap umat di antara kamu, kami berikan syariat (yang berbeda-beda)…” Sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu dijadikan satu umat dan satu syariat. Itu tentu mudah bagi Allah. Dijadikannya syariat yang berbeda di antara para nabi untuk disesuaikan dengan zamannya dan kemudian disempurnakan oleh Al Qur’an. Itu dimaksudkan sebagai ujian bagi manusia. Maka, kalau faktanya sekarang manusia masih berbeda meskipun sudah ada Al Qur’an, mestinya jangan bertengkar tetapi berlombalah kalian dalam melaksanakan kebaikan untuk meraih ridha-Nya. Atas apa yang kalian perselisihkan biarlah nanti di akhirat Allah Swt. yang akan memutuskan karena kalian semua akan kembali kepada-Nya.

Ayat di atas bukan berarti mengakui semua agama benar atau keyakinan orang lain itu benar. Tidak. Karena tidak ada orang yang beragama yang meyakini agama orang lain itu benar. Yang ada adalah benar menurut keyakinan masing-masing. Seperti penegasan surah al An’am/6: 108: “Setiap umat memandang baik perbuatannya.”

Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Maka, penting untuk bersikap tafahum, saling memahami, kemudian berlomba dalam kebaikan, dan akhirnya menyerahkan keputusan kepada Allah swt. Kira-kira siklusnya akan seperti ini:

Tafahumfastabiqul khairattawakkal kepada Allah.

2. Surah Saba’/34: 24-26

Artinya: “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?’ Katakanlah: ‘Allah’. Dan sesungguhnya Kami atau kalian (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” Katakanlah: “Kalian tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang Kami perbuat dan Kami tidak akan ditanya (pula) tentang apa yang kalian  perbuat”. Katakanlah: “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui”.

Perhatikan frasa di ayat 24:  “… Dan sungguh kami atau kalian (wahai kaum musyrik) pasti dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata…” Al Qur’an menggunakan pendekatan perspective taking seakan menegaskan: “Menurut kalian wahai kaum musyrik, kami (kaum muslim) itu kan sesat dan kalian yang benar, baiklah kami terima.  (Meskipun kami juga yakin yang mendapat petunjuk adalah kami dan kalian yang sesat).” Hal ini pendekatan yang sangat lembut kepada kaum musyrik.

Perhatikan lanjutan ayat yang seakan menegaskan: “Kalian tidak usah gusar apalagi marah dengan kami. Toh, apabila kami sesat seperti sangkaan kalian, kalian tidak bertanggung jawab atas dosa kami, dan kami pun tidak bertanggung jawab atas perbuatan kalian.”

Kalau dengan kaum musyrik saja kita diajarkan sikap seperti itu maka lebih lagi kalau dengan sesama muslim sudah sewajarnya lebih memahami. Dan akhirnya, Allah Swt. tegaskan bahwa kita semua akan dikumpulkan di hadapan-Nya, di akhirat, dan di sanalah Allah akan memutuskan nasib kita masing-masing.

Siklusnya adalah:

Pahami – hormati – dan serahkan kepada Allah Swt.

 

  1. Surah asy-Syura/42: 15

Artinya: “Maka karena itu, serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: ‘Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di  antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal kami dan bagi kamu amal kamu. Tidak perlu ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah akan mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali .”

Perhatikan frase kalimat: ” Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu, bagi kami amal kami dan bagi kamu amal kamu. Tidak perlu ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah akan mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kita kembali.

Ayat di atas sungguh jelas mengajarkan kita untuk menghindari pertengkaran apabila tidak ada titik temu di antara kita.

  1. Surah Yunus/10: 41

Artinya: “Jika mereka mendustakan kamu maka Katakanlah: ‘Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.’”

Pada akhirnya ayat ini menegaskan kembali prinsip perspektive taking. Seakan Allah Swt. mengajarkan, kalau kalian tidak percaya juga dengan yang kami sampaikan, ya sudahlah, masing-masing akan bertanggung jawab dengan perbuatannya.

Kemampuan melihat perspektif lain, tidak hanya penting dalam urusan keyakinan tapi juga penting dalam aspek hidup yang lain. Misalnya, dalam dakwah, seorang juru dakwah harus berorientasi kepada kondisi mad’u (obyek dakwahnya), kemampuan berpikirnya, latar belakang kehidupannya dan sebagainya, agar pesan dakwah dapat sampai dengan baik. ‎

‎Demikian juga dalam berbisnis, atau mencari nafkah, sudah banyak dibahas para ahli di bidang ini, betapa pentingnya berorientasi memahami pelanggan atau konsumen, agar produk kita disukai.

Ketika hendak mengakhiri tulisan ini, di luar sayup-sayup terdengar suara pedagang yang menawarkan jajanan dengan suara khasnya: “Tahu bulat, digoreng dadakan, anget-anget, lima ratusan, enak.”

Nah, ini dia penjual yang memiliki kemampuan perspective taking.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.