The Power of Kepepet

The Power of Kepepet

Oleh: Ali Nurdin

 Inilah kisah rahasia seseorang yang pernah beberapa puluh tahun bahkan sampai sekarang menjadi orang terkaya di dunia, di planet bumi ini yaitu Bill Gates.  Dia mengalami titik balik karir bisnisnya saat menjual program DOS (Disc Operating Sistem) kepada IBM. Tahukah Anda bahwa saat Bill menawarkan program DOS ke IBM. Bill bersama rekannya, Paul Allen dan Steve Ballmer belum memiliki program itu?! Dan lebih gilanya lagi, kata-kata DOS, dilontarkan Bill secara spontan dan tanpa diketahui terlebih dahulu oleh kedua rekannya yang saat itu berada di satu meja, di depan para direksi IBM. Berikut adalah cuplikan pembicaraan Bill dan direksi IBM dalam filmnya “Pirates of Sillicon Valley”.

Bill : “Kita punya apa yang Anda butuhkan!”

IBM : “Itu suatu permulaan.”

Bill : “Kami tahu IBM harus bangun tempat ini untuk bersaing dengan Apple. Dan berpacu membuat personal komputer untuk kalahkan mereka. Jadi kami bisa memberimu sebuah sistem kerja.”

IBM : “Sistem kerja seperti apa?”

Bill : “Namanya……. DOS (Disc Operating Sistem)”

Menakjubakan! Bukan hanya menakjubkan, bersejarah! Harusnya dimasukkan dalam buku sejarah atau dipajang di galeri nasional. Karena ini kreasi dadakan dari salah satu orang terkaya di dunia. Bill Gates menjadi orang terkaya di dunia karena bermula dari percakapan ini. Bukan tipu muslihat dan kekeliruan, tapi mereka (Microsoft) tak punya apa-apa saat itu! Tak sedikitpun !

Dalam perjalanan pulang dari IBM, saat di dalam mobil, percakapan mereka berlanjut.

Paul : “Bill, kenapa kau bilang punya sistem kerja? Kita tak punya sedikitpun untuk dijual. Tamatlah kita!”

Bill : “Kita tak akan tamat, kau yang akan memberikan kita keajaiban. Benar Paul?”

Paul : “Yang benar aja, ayolah!”

Paul : “Aku tak begitu mengenalnya. Tak begitu…..dengar..!”

Bill : “Jangan katakan itu padaku. Aku baru saja beritahu IBM !”

Dalam kondisi “kepepet” itulah Paul Allen mendatangi Seattle Computer Company dan membeli DOS hanya seharga U$$ 50.000 yang menghasilkan jutaan dolar dengan menjualnya kembali.

Hal ini adalah bukti bahwa dalam berbisnis ataupun kehidupan, kita tidak perlu menunggu kondisi sempurna untuk memulai. Bahkan orang seperti Bill pun telah membuktikannya. Percayalah, sesungguhnya ada suatu kekuatan tersembunyi dalam diri kita yang belum tereksplorasi. Setelah menciptakan The Power of Kepepet, kuncinya adalah berusaha bagaimana harus bisa dengan penuh keyakinan. Pasti ada jalan keluar dalam setiap masalah.

Judul tulisan di atas kami pinjam dari judul buku laris yang ditulis oleh sahabat kami, Jaya Setiabudi, yang biasa kami panggil Bang Jay. Pada pertengahan tahun lalu kami kebetulan bersama-sama untuk mengisi satu acara yang diadakan di Hongkong di hadapan saudara-saudara kita BMI (Buruh Migran Indonesia). Dan kisah di atas juga kami kutip dari buku tersebut.

Substansi dari judul di atas adalah bahwa manusia umumnya akan mengeluarkan tenaga atau power yang berlipat-lipat dan semangat yang menggelora ketika dalam keadaan kepepet.

Tiga Tipe Manusia

Dalam menjalani hidup pada umumnya ada  tiga tipe manusia: pertama, manusia tipe “tiba masa tiba akal”. Model manusia seperti ini adalah kalau sudah kepepet dan kepentok baru cari-cari jalan keluar atas masalahnya. Dan jalan keluar yang diperolehnya pastilah juga sedapatnya karena mencarinya juga sekenanya. Maka, model seperti ini sulit diharapkan untuk diajak bangkit maju meraih prestasi dalam bidang apapun.

Kedua, manusia tipe “pemimpi”. Banyak angan-angan yang ingin dicapai dalam hidupnya, tetapi sama sekali tidak ada langkah nyata untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Model seperti ini seperti ketika anak TK yang ditanya oleh guru, “Anak-anak nanti setelah dewasa mau jadi apa?” Saat itu anak-anak berebut menjawab, “Jadi astronot, dokter, insinyur,” dan lain-lain. Jawaban yang tidak “nyambung” dengan keseharian mereka pada umumnya dan sama sekali tidak sesuai fakta. Maka, ketika dewasa pun mereka juga tidak tahu, bahkan mungkin sudah lupa dengan apa yang mereka sebut sebagai “cita-cita” waktu kecil. Bagi anak kecil tentu tidak salah. Yang kurang tepat adalah kalau orang dewasa masih saja hanya mengangankan dan menginginkan tanpa tergerak untuk segera memulai meraih keinginannya.

Ketiga, ada tipe manusia, cerdas; tipe ini memandang hidup selalu ke arah depan dengan sesekali menengok masa lalu hanya untuk mengambil pelajaran. Seperti kalau kita naik mobil melihat spion itu sesekali saja.  Dan orang yang cerdas adalah   menyikapi apa yang diterima sekarang sebagai anugrah yang selalu layak untuk disyukuri.

Stamina dan energi hidup orang cerdas selalu ada seakan tidak ada habis-habisnya karena hati dan fikiranya diletakkan di masa depan yang dibayangkan harus lebih baik dari sebelumnya. Visi hidup tipe ketiga ini begitu nampak jelas di pelupuk matanya, sehingga tidak ada keraguan sedikitpun untuk berusaha mewujudkannya.

Apa kaitannya dengan The Power of Kepepet? Kita ingin membuktikan bahwa sebenarnya manusia itu memiliki potensi stamina dan energi hidup yang sama. Namun, sayangnya dua tipe manusia yang pertama dan kedua tidak mengaktualkan dalam kenyataan.

Mari kita contohkan: ketika dalam sebuah sesi pengembangan diri kepada peserta diberikan pertanyaan: penghasilan sebulan sekitar 3  juta, kemudian ditanyakan siapa yang bisa mengusahakan agar memiliki tabungan dua juta bahkan lebih. Tidak ada satupun yang mengangkat tangan.

Kemudian ditanyakan lagi: kalau anak kita sakit keras, dokter berkesimpulan ini harus diambil tindakan operasi, dan pihak keluarga harus bisa menyediakan uang jaminan 10 juta diberi kesempatan beberapa hari, apakah bisa sediakan? Semua peserta mengangkat tangan dan menyatakan: Bisa.

Kenapa bisa? Jawabnya: Karena terpaksa, atau kepepet. Artinya siapa saja dalam kondisi terdesak ternyata dapat mengeluarkan stamina dan energi hidup yang luar biasa, bahkan terkadang tidak diduga-duga. Seperti kisah seorang ibu, ketika mengetahui rumahnya terbakar dan menyadari bayinya ada di dalam, dengan serta merta melompat pagar dan menerabas kobaran api untuk menyelamatkan bayinya, dan ternyata dia berhasil. Itulah the power of kepepet.

Bagaimana kalau situasinya normal, agar semangat dan energi hidup tetap menyala? Para ahli pengembangan diri selalu mengingatkan tentang bahaya comfort zone (Zona nyaman). Seorang yang merasa hidupnya sudah dari sananya memang begini-begini saja maka tidak perlu untuk berpikir apalagi melakukan tindakan untuk berubah. Situasi seperti itu akan menciptakan mental blok atau tembok penghalang dalam benak untuk bersemangat menjalani hidup.

Ada dua cara yang dapat ditempuh untuk membangkitkan semangat: pertama, menghadirkan visi atau gambaran dalam benak tentang apa yang kita ingin raih, kemudian kita seakan-seakan sudah meraih hal itu, maka secara perlahan namun pasti hal itu akan terwujud.

Kedua, kita kondisikan diri kita dalan situasi yang memang terdesak, biasanya orang menyebut bonek: bondo nekat (modal nekat), namun tetap dengan perhitungan. Misalnya, seorang pengemudi taksi yang belum bisa bahasa Inggris, dia nekat ambil turis dan sok bisa bahasa Inggris, karena terdesak mau tidak mau dia akan berusaha bagaimana caranya agar bisa bahasa Inggris. Segala cara dapat ditempuh dan pada akhirnya bahkan menjadi mahir.

Yang paling cerdas

Pemaparan di atas berkutat pada tataran kehidupan dunia untuk meraih prestasi memang begitulah syaratnya, harus terus konsisten bersemangat menjalani hidup. Bagaimana dengan kehidupan akhirat?

Bagi orang yang beriman, kebahagiaan yang sebenarnya tentu bukan hanya di dunia. Visi seorang yang beriman adalah: bahagia di dunia dan akhirat (QS.2: 201). Maka ‎sungguh tepat  pandangan Rasul Saw. ketika mendefinisikan siapa orang yang paling cerdas. Sahabat Ibn Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah Saw.,  tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi Saw. dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.,’” (HR. Ibnu Majah).

Yang mempersiapkan masa depannya di dunia dengan baik dan sungguh-sungguh tentu adalah orang yang cerdas, namun yang paling cerdas adalah yang mempersiapkan kehidupannya di akhirat dengan sungguh-sungguh.

Kalau untuk hari tua yang mungkin hanya berlangsung beberapa tahun kita bisa merancang dan merencanakannya dengan serius maka untuk kehidupan kita yang abadi tentu lebih penting lagi. Allah Swt. mengingatkan kita dengan berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, (baik di dunia, terlebih di akhirat), …” (QS. 59: 18).

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.