MENGHAFAL AL-QUR’AN ITU PENTING TETAPI YANG LEBIH PENTING ADALAH BERAKHLAQ AL-QUR’AN.

MENGHAFAL AL-QUR’AN ITU PENTING TETAPI YANG LEBIH PENTING ADALAH BERAKHLAQ AL-QUR'AN.

MENGHAFAL AL-QUR’AN ITU PENTING TETAPI YANG LEBIH PENTING ADALAH BERAKHLAK AL-QUR’AN

Oleh: Ali Nurdin

Seperti kita maklumi, bahwa tidak semua sahabat Nabi Saw. itu hafal Al-Qur’an, tidak semua hafal ribuan hadis, atau tidak semua alim dalam ilmu agama, tetapi mengapa semua sahabat Nabi dipuji oleh Allah Swt. sebagai orang yang yang telah diridhai (QS. At-Taubah [9]: 100). Karena itulah, dalam ilmu mustalah hadis dikenal kaidah “Kullu Sohabah Udul”, semua sahabat itu bersikap adil dalam meriwayatkan hadis.

Fakta sejarah mencatat bahwa para sahabat Nabi Saw. di bawah komando Nabi Saw. lebih banyak menghabiskan waktu untuk amaliyah terjun langsung di medan dakwah bahkan medan perang  fi sabilillah. Sampai-sampai ada ayat yang turun untuk menghimbau agar tidak semua pergi berperang, “Hendaklah ada segolongan kecil/thoifah, yang tetap tinggal untuk mendalami agama dengan baik/tafaqquh fiddin” (QS. At-Taubah [9]: 122).

Itulah mengapa Nabi Saw. memberi tugas kepada para sahabat sesuai dengan bidang keahlian yang mereka miliki. Bahkan dalam bidang ilmu agama pun sudah dikenal kepakaran masing-masing sahabat, sekadar contoh: untuk Al-Qur’an dan Tafsir, di samping empat khulafaurrasyidin, nama Ibn Abbas dan Ubay bin Kaab adalah tokoh bidang tersebut. Untuk bidang Fiqih, Muadz bin Jabal. Demikian juga bidang lainnya di luar agama.

Anggapan yang Keliru

Ada hal yang kurang tepat di sebagian kalangan kaum muslim, berkaitan dengan menghafal Al-Qur’an. Berapa banyak hafalan Al-Qur’an menjadi barometer kecerdasan. Sehingga hal ini menjadikan banyak madrasah dan sekolah sejak TK sampai perguruan tinggi “menjual” hafalan Al-Qur’an sebagai daya tariknya.

Sebenarnya bukan hal keliru, bahkan harus disyukuri, tetapi menjadi kurang tepat ketika itu dilakukan dengan melupakan esensi pendidikan itu sendiri. Fenomena ini bukan hanya dalam hal menghafal Al-Qur’an namun dalam semua bidang, bahwa kecerdasan seorang anak hanya dinilai dari aspek kognitif akademis semata, sehingga para pemangku kepentingan di sekolah mencurahkan perhatian di sekitar itu sebagai tolok ukur prestasinya.

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kecerdasan kognitif akademis yang diajarkan di sekolah dengan porsi hampir 80 persen ternyata hanya memberi sumbangan tidak lebih dari 20 persen bagi keberhasilan kehidupan seseorang. Sedang yang 80 persen lagi ditentukan oleh sikap atau akhlak. Itulah mengapa banyak orang yang ketika sekolah mendapat nilai bagus tidak selalu berhasil dalam kehidupannya. Sebaliknya tidak sedikit orang yang ketika belajar nilainya biasa saja, bahkan banyak yang tidak sampai level pendidikan yang tinggi namun sangat berhasil dalam kehidupannya. Dan ini bukan hanya materi ukurannya tetapi dalam segala macam aspeknya.

 

 

 

 

 

 

Menuju Perubahan

Al-Qur’an menegaskan bahwa “Setiap orang melakukan sesuai dengan kecenderungan atau bakat bawaan yang dimiliki.” (QS. Al-isra’ [17]: 84). Hal ini menunjukkan apa yang sering disebut sebagai bentuk kecerdasan dalam arti yang sempit yaitu kecerdasan kognitif pada setiap orang berbeda dan itu menjadi keunggulan masing-masing orang. Teori multiple intlegensia dalam batas-batas tertentu membantu kita memahami ini.

Dengan kata lain, orang tua dan para pendidik semestinya tidak memaksakan si anak harus memiliki level yang sama dalam segala kemampuan akademisnya. Termasuk dalam menghafal Al-Qur’an. Ada anak yang memang dianugerahi daya ingat yang kuat dan mudah menghafal Al-Qur’an, namun rendah dalam kreatifitas. Ada anak yang sejak awal menunjukkan bakat kepemimpinan yang menonjol namun sulit sekali menghafal, dan masih akan bertemu banyak variasi masalah pada anak, bahkan dalam teori modern diyakini setiap anak adalah unik dengan kecenderungannya masing-masing.

Catatan penting di sini adalah bakat, kecenderungan, talenta adalah anugerah sedangkan sikap atau akhlak adalah hasil ikhtiar. Dan itulah mengapa Rasul Saw. bersabda, “Sungguh aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Inilah sebenarnya esensi tugas pendidikan yaitu menyempurnakan akhlak. Dan akhlak itu adalah Al-Qur’an, seperti yang ditegaskan sayyidah Aisyah RA dalam satu hadis.

Saatnya kita berubah untuk tidak hanya berorientasi kepada kecerdasan kognitif yang itu memang tidak bisa diubah karena anugerah, yang bisa dilakukan adalah memberi ruang yang kondusif untuk berkembang. Sedang fokus pendidikan khususnya yang berbasis Al-Qur’an adalah membangun sikap-sikap positif atau akhlak Al-Qur’an, bukan hanya menghafal.

Para pendidik kontemporer sering menyebut dengan istilah kecerdasan meta kognitif yaitu sikap dalam menggunakan kecerdasan kognitif yang telah dianugerahkan.

Menghafal adalah wasilah/cara sedangkan berakhlak Al-Qur’an adalah ghoyah/tujuan. Inilah yang menjadi kesimpulan akhir tulisan ini, menjadi seorang penghafal Al-Qur’an semestinya bukan tujuan utama, tetapi itu adalah wasilah atau cara agar seseorang dapat berakhlaq Al-Qur’an. Dan semua program yang dijalankan sebuah lembaga pendidikan yang berbasis Al-Qur’an adalah membentuk kepribadian anak agar memiliki akhlak Al-Qur’an. Dan inilah yang sedang dilakukan oleh Pesantren “Nurul Qur’an” dengan beberapa programnya.

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.