POTRET KERAGAMAN UMAT ISLAM DI DUNIA ISLAM (Bagian 1)

POTRET KERAGAMAN UMAT ISLAM DI DUNIA ISLAM (Bagian 1)

POTRET KERAGAMAN UMAT ISLAM DI DUNIA ISLAM

(Bagian 1)

Oleh: Ali Nurdin

 

Keragaman adalah sunnatullah, yaitu sebuah keniscayaan yang tidak  bisa dinafikan dengan alasan apapun. Sejak awal penciptaan manusia, Allah Swt. sudah mengabarkan bahwa akan menciptakan manusia dalam berbagai macam suku bangsa yang berbeda-beda. Apakah Allah Swt. tidak mampu menciptakan segalanya sama atau tunggal? Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, pastilah mampu untuk melakukan hal tersebut. Kalau manusia diciptakan beragam pastilah mengandung hikmah yang tinggi. Atas kondisi manusia yang beraneka macam tersebut yang menjadi tolok ukur kemuliaan adalah ketaqwaan. Hal ini diisyaratkan dalam surah al-Hujurat/49: 13:

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS. al-Hujurat [49]: 13)

Dan bahkan keragaman  ini disebut oleh Allah Swt. sebagai salah satu tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang mengetahui saja.  Firman Allah dalam surah ar-Rum/30: 22 menyatakan hal ini:

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. ar-Rum [30]: 22)

Tulisan ini  akan membahas tentang potret keragaman umat Islam di dunia Islam, meliputi: keragaman dalam lintasan sejarah, Keragaman umat Islam di era sekarang, Usaha-usaha menuju  sinergitas dan urgensi membangun sinergitas dalam Islam.

1. Sekilas tentang Keragaman dalam Lintasan Sejarah

Untuk memotret keragaman umat Islam di dunia Islam sungguh sebuah tema yang sangat luas. Supaya menjadi lebih fokus maka akan dimulai dari lintasan sejarah umat Islam khususnya yang berkaitan dengan kehidupan sosial politik umat Islam. Karena kedua hal itulah yang paling banyak mendapatkan perhatian dan relatif dapat mewakili gambaran umum perjalan umat Islam di dunia. Rasululllah Saw. bersabda tentang periode perjalanan umat Islam secara umum dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal:

عن حذيفة بن اليمان أن النبي قال: “تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة، فتكون فيكم ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون ملكاً عاضاً، فتكون فيكم ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون ملكاً جبرياً فتكون فيكم ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة”[1]

Dalam hadis di atas Nabi Saw. memberi isyarat tentang periodesasi perjalanan sejarah umatnya. Periode pertama disebut dengan periode nubuwwah yaitu masa di mana kaum muslim hidup bersama Rasulullah Saw. Kedua, periode khilafah’ ala minhajinnubuwwah yaitu periode khulafaur-Rasyidin yang berlangsung sekitar 30 tahun, diawali dari khalifah Abu bakar dan diakhiri khalifah Ali bin Abi Tholib. Ketiga, Periode mulkan ‘adhan yaitu masa di mana para raja atau penguasa  suka menindas dan berlaku sewenang-wenang, meski sistem pemerintahannya secara formal mengklaim berdasarkan Islam. Menurut sebagian ahli sejarah Islam masa ini dimulai sejak berakhirnya khulafaur-Rasyidin sampai berakhirnya dinasti Usmaniyah. Keempat, periode Mulkan Jabariyan yaitu masa di mana umat Islam secara formal tidak lagi memiliki system pemerintahan tunggal di bawah sistem khilafah. Kaum muslim hidup di bawah sistem pemerintahan yang beraneka macam dalam wadah negara bangsa (nation state) yang berbeda-beda. Perioede ini dimulai sejak berakhirnya era khilafah yaitu runtuhnya dinasti Usmaniyah pada tahun 1924 sampai sekarang dan akan berakhir  sampai dimulainya periode kelima yaitu khilafah ‘ala minhajin- nubuwwah, yaitu periode di mana umat Islam dapat memainkan peran yang penting di bawah nilai-nilai Islam. Dan periode inilah yang menjadi tujuan aneka macam organisasi Islam di berbagai negara.[2]

Keragaman umat Islam di masa lalu digambarkan lebih detail oleh para ahli sejarah Islam yang membagi dalam tiga periode:

  1. Periode Klasik.

Periode Klasik (abad I – abad VI H/abad VII – XIII M) merupakan zaman pertumbuhan dan kemajuan  serta  dibagi kedalam dua fase yaitu fase ekspansi, integrasi dan puncak kemajuan berlangsung antara abad I-IV H). Di masa inilah wilayah Islam meluas ke Afrika utara sampai ke Spanyol di bagian barat, dan di bagian timur mencapai India setelah terlebih dahulu menguasai Persia. Semua wilayah tersebut tunduk kepada kekuasaan khalifah yang awalnya berkedudukan di Madinah kemudian pindah ke Damaskus dan terakhir di Baghdad. Di masa inilah berkembang ilmu pengetahuan baik dalam bidang agama maupun non agama. Pada masa ini muncul para ulama dan pemikir Islam yang menjadi cikal bakal munculnya aneka macam madzhab dalam Islam. Pada masa ini umat Islam sudah mulai mengelompok dalam madzhab-madzhab di antaranya yang paling besar dan berpengaruh adalah  sunni-syiah, di samping juga para imam madzhab Fiqh yang dalam perkembangannya memiliki banyak pengikut di berbagai belahan dunia.[3]

Pada masa ini digambarkan oleh Ira M Lapidus sebagai periode yang menghasilkan kultur kosmopolitan yaitu sebuah kultur yang merupakan perpaduan dari tiga unsur yang sangat komplek yaitu: pertama, unsur etnis kesukuan, di mana umat Islam sudah dipeluk oleh berbagai macam suku bangsa. Kedua, unsur keagamaan yaitu ekspresi keberagamaan Islam yang juga sudah beraneka ragam disebabkan aneka macam faktor. Ketiga unsur aristokratik, di mana pemegang kekuasaan politik juga memainkan peranan penting akan tumbuh kembangnya satu madzhab atau aliran ke agamaan.[4]

Fase kedua dari periode ini disebut dengan fase disintegrasi (abad IV-VI H/abad XI-XIII M). Pada masa sebelumnya meskipun keragaman  dan perbedaan sudah terlihat jelas namun integrasi dan ukhuwah di kalangan umat Islam masih terjaga dan terjalin kuat, sehingga umat Islam dapat mencapai kejayaannya. Namun, pada fase kedua ini disintegrasi sudah mulai nampak, diawali dengan kekuatan politik umat Islam yang mulai pecah dan puncaknya adalah dihancurkannya pusat kekhalifahan di Baghdad yang merupakan lambang kesatuan politik umat Islam, oleh Hulagu Khan.[5]

Di antara  penyebab terjadinya disintegrasi di kalangan umat Islam saat itu adalah adanya fanatisme kebangsaan (syu’ubiyah). Persaingan antara bangsa Arab dan Persia untuk memperebutkan kekuasaan saat itu begitu tajam sehingga menjadikan kekuatan umat Islam lemah.[6] Yang juga tidak kalah besarnya ikut menyumbang terjadinya kemunduran umat Islam saat itu adalah fanatisme keagamaan. Konflik antara umat yang berpaham sunni dengan syiah semakin meruncing. Dan masih ditambah aliran-aliran lain yang saling menyalahkan. Keberagaman yang mulai muncul di kalangan umat Islam tidak diikuti dengan sinergi atas kelebihan masing-masing. Potret umat Islam saat itu dilukiskan dengan baik oleh Syed Ameer Ali dengan mengatakan:

“Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit  dari perbedaan. Perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia seperti soal kehendak bebas manusia telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam.”[7]

  1. Periode Pertengahan

Periode pertengahan (abad VI – X H/abad XIII- XIX M). Periode ini juga terbagi dalam tiga fase: pertama, fase kemunduran (abad VI – IX H/XIII – XVI M). Pada fase ini desentralisasi dan disintegrasi bertambah meningkat. Pertentangan antara sunni dan syi’ah juga antara Arab dan Persia semakin tajam. Dunia Islam terbelah menjadi dua bagian: bagian Arab yang terdiri atas Arabia, Irak, Suria, Palestina, Mesir dan Afrika Utara dengan Mesir sebagai pusat. Bagian lainnya adalah Persia yang terdiri atas Balkan Asia Kecil, Persia dan Asia Tengah dengan Iran sebagai pusat.

Fase kedua adalah masa tiga kerajaan besar (IX-XIV H/ XVI – XIX M), tiga kerajaan besar tersebut adalah  Usmani di Turki, Safawi di Persia dan kerajaan Mughal di India. Pada masa ini meskipun umat Islam mengalami kemunduran karena berbagai sebab, namun usaha-usaha untuk meraih kemajuan banyak dilakukan khususnya oleh tiga kerajaan besar terebut.[8]

  1. Periode Modern

Periode ini dimulai dari abad XIV H/XIX M sampai awal abad ke-20. (Sengaja untuk tidak memasukkan era modern sekarang, karena perode ini akan dibahas tersendiri). Pada periode ini para pemimpin Islam mulai menyadari betapa telah muncul kekuatan baru yaitu bangsa Barat.  Di sisi lain kaum muslim sudah mulai kehilangan simbol kekuatan politik yaitu khilafah. Kaum muslim mulai membangun kesadaran pentingnya merebut kembali kejayaan yang pernah dimiliki, namun dalam bingkai semangat antar wilayah yang berbeda. Dari sinilah munculnya semangat kebangsaan yang pada akhirnya melahirkan konsep nation state (negara bangsa). Pada periode ini usaha-usaha untuk mensinergikan kekuatan umat Islam mulai muncul. Di antara tokoh yang berpengaruh di beberapa wilayah Islam antara lain:

a. Di Mesir

Di antara tokoh yang berpengaruh dalam usaha-usaha untuk mensinergikan kekuatan-kekuatan Islam adalah Jamaluddin al-Afghani (1838/9-1897 M). Dia  merupakan salah satu tokoh yang pertama kali menyatakan kembali tradisi Muslim dengan cara yang sesuai untuk menjawab berbagai problem penting yang muncul akibat Barat semakin mengusik Timur Tengah di abad kesembilan belas.

Sebagai modernis Islam pertama, yang pengaruhnya dirasakan di beberapa negara, Afghani memicu kecenderungan menolak tradisionalisme murni dan westernisme murni. Pada masa mudanya, ia dididik di Iran, dan juga di kota-kota suci Syi’ah di Irak. Dia piawai dalam filsafat Islam.

Di antara usahanya untuk mensinergikan kekuatan Islam adalah ide-idenya tentang pentingnya membangun persaudaraan dalam Islam. Di atas segala-galanya persatuan umat Islam harus diwujudkan kembali. Dengan  bersatu dan mengadakan kerjasama yang eratlah umat Islam akan dapat kembali memperoleh kemajuan. Persatuan dan kerjasama merupakan sendi yang amat penting dalam Islam.[9]

Tokoh lain di Mesir yang berpengaruh dalam usaha-usaha mensinergikan kekuatan umat Islam adalah Muhammad Abduh yang diikuti oleh murid-muridnya  di antara yang menonjol adalah Rasyid Ridho. Para ulama tersebut menyadari bahwa kemerosotan politik Islam adalah sesuatu yang tidak terelakkan, dan sulit dicegah secara politis, karena kemerosotan tersebut disebabkan adanya demoralisasi di berbagai bidang kehidupan muslimin, baik aqidah, akhlaq maupun pemikiran. Hanya ada satu cara untuk mewujudkan peran penting umat Islam di dunia yaitu dengan membangun kembali semangat ukhuwah di internal umat Islam.[10]

b. Di India-Pakistan

Nama yang tidak boleh dilewatkan ketika membahas tentang perjuangan Pan Islam adalah Muhammad Iqbal (w. 1938 M). Ide Iqbal bahwa umat Islam India (Pakistan) merupakan suatu bangsa dan oleh karena itu memerlukan satu negara tersendiri tidaklah bertentangan dengan pendiriannya tentang persaudaraan dan persatuan umat Islam. Ia bukanlah seorang nasionalis dalam arti sempit. Ia sebenarnya adalah seorang pan Islamis.[11]

Dalam karya monumentalnya The Reconstruction of Religious Thought In Islam,  Iqbal menyatakan “Bukanlah nasionalisme dan bukan pula imperialisme, tetapi liga bangsa-bangsa. Islam dapat menerima batas-batas yang memisahkan antara satu daerah atau negara dengan negara yang lain dan dapat menerima perbedaan bangsa hanya untuk memudahkan soal hubungan antara sesama mereka. Batas dan perbedaan bangsa tersebut tidak boleh mempersempit ufuk pandangan sosial umat Islam.[12] Bagi Iqbal, dunia Islam seluruhnya merupakan satu keluarga yang terdiri atas republik-republik, dan Pakistan yang dia usulkan sebagai negara yang berdiri sendiri terlepas dari kerajaan Inggris yang saat itu menguasai India adalah salah satu dari republik itu.

Di era ini kesadaran akan keragaman dalam tubuh umat Islam mulai tumbuh dan pikiran-pikiran tentang perlunya mensinergikan kekuatan-kekuatan di antara umat Islam mulai didengungkan oleh para pemikir muslim, meskipun gerakan-gerakan tersebut masih bersifat individual dan parsial belum dalam wujud yang kongkrit. Bagaimana kelanjutan usaha-usaha tersebut? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut akan terlebih dahulu diuraikan sekilas tentang potret umat Islam pada era sekarang.

Bersambung … ke bagian 2

[1] Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, IV: 273

[2] Salim Segaf al-Jufri dalam pengantar buku karya Husain Bin Muhammad bin Ali Jabir yang berjudul  Ath-Thoriq ila Jama’atil Muslimin. Di antara organisasi yang memiliki tujuan seperti tersebut di atas adalah Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Juga Hizbut-Tahrir yang berpusat di Syuriah.

[3] Harun Nasution, Pembaruan dalam Islam: Sejarah dan Pemikiran, h. 13

[4] Ira M Lapidus, A History of Islamic societies, Pengantar h. IX

[5] Harun Nasution, Pembaruan dalam Islam: Sejarah dan Pemikiran, h. 13

[6] Ahmad Amin, Dhuhal Islam, h. 21. Sebagai contoh adalah pada periode Abbasiyah kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah terasa sejak awal. Akan tetapi karena khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan maka stabillitas politik dapat terjaga.

[7] Syed Ameer Ali, Api Islam, h. 464. Pada masa itu para penguasa sering memaksakan aliran keagamaannya kepada pihak lain dan bahkan banyak memakan korban bagi yang menolak, sejarah mencatat peristiwa mihnah pada masa khalifah al Makmun dari Bai AAbasiyah adalah contoh tragis dari peristiwa tersebut.

[8] Harun Nasution, Pembaruan dalam Islam, h. 14. Di antara bukti yang menunjukkan kemajuan pada masa ini adalah bangunan-bangunan dengan arsitektur yang berkualitas tinggi masih dapat disaksikan hingga kini.

[9] Harun Nasution, h. 56. Semasa hidupnya al-Afghani berusaha untuk mewujudkan persatuan antar umat Islam. Ide Pan Islam adalah bukti tentang  hal ini. Gagasannya dipublikasikan dalam majalah al-‘Urwatul Wustha, yang didirikan bersama muridnya Muhammad Abduh.

[10] Salim Segaf al-Jufri dalam pengantar buku karya Husain Bin Muhammad bin Ali Jabir yang berjudul  Ath-Thoriq ila Jama’atil Muslimin. H.3

[11] Harun Nasution, h. 194

[12] Muhammad Iqbal, The Reconstruktion of Religious Thought In Islam, h. 56

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.