POTRET KERAGAMAN UMAT ISLAM DI DUNIA ISLAM (Bagian 2)

POTRET KERAGAMAN UMAT ISLAM DI DUNIA ISLAM (Bagian 2)

POTRET KERAGAMAN UMAT ISLAM DI DUNIA ISLAM

(Bagian 2)

Oleh: Ali Nurdin

B. Keragaman Umat Islam di Era Sekarang

Potret umat Islam di era modern sekarang ini dapat dilihat dalam dua perspektif; negatif dan positif. Bagi yang berpandangan negatif akan melihat dan menilai bahwa umat Islam sekarang sama sekali jauh dari ajaran Islam. Sedangkan yang bernada positif akan melihat cahaya kebangkitan Islam sedang mewabah di seluruh dunia. Terlepas dari penilaian tersebut, berikut ini akan dipaparkan tentang kondisi riil umat Islam di dunia dalam beberapa aspek.

  1. Populasi Umat Islam Di Dunia

Jumlah populasi muslimin dunia tercatat mencapai satu setengah miliar jiwa atau sekitar 23 persen dari seluruh penduduk bumi. Umat Islam tersebar di lebih dari 120 negara, sementara di 35 negara, warga Muslim tercatat sebagai mayoritas sementara di sekitar 29 negara, umat Islam adalah warga minoritas yang berpengaruh. Di 28 negara, Islam ditetapkan sebagai agama resmi seperti di Republik Islam Iran, Mesir, Kuwait, Irak, Maroko, Pakistan dan Arab Saudi.

Dari seluruh negara di dunia, Indonesia menempati urutan teratas jumlah populasi Muslim terbanyak dengan lebih dari 200 juta jiwa, menyusul setelahnya Pakistan dengan lebih dari 170 juta jiwa dan India dengan 160 juta jiwa. Tempat keempat hingga keenam diduduki oleh Bangladesh, Mesir dan Nigeria. Sementara Iran, Turki, Aljazair dan Maroko berada di urutan berikutnya.

Berdasarkan data yang dihimpun tahun 1980, populasi umat Islam tercatat sebanyak 800 juta jiwa. Jumlah itu membengkak menjadi 1,3 miliar jiwa pada tahun 2004. Sejak tahun 1995, India tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan warga Muslim paling pesat di dunia disusul kemudian oleh Pakistan, Indonesia, Nigeria dan Bangladesh. Perkembangan dan meningkatnya jumlah populasi Muslim di dunia khususnya di Eropa menjadi fenomena yang menarik perhatian para sosiolog. Fenomena ini ditanggapi oleh para pemimpin negara-negara Barat dengan sinis dan dianggap sebagai bahaya yang mengancam kepentingan mereka.[1]

Pertumbuhan populasi umat Islam di dunia dianggap sebagai ancaman oleh sejumlah rezim Barat dengan mengesankannya sebagai revolusi populasi kependudukan dunia oleh umat Islam. Hal itu sengaja dilakukan sebagai upaya dari Islamphobia yang memang sedang digalakkan oleh Barat. Padahal dalam 30 tahun terakhir, keluarga Muslim cenderung mengurangi jumlah anak yang tentunya berakibat pada menurunnya jumlah populasi umat.

Tahun 1975 tercatat rata-rata keluarga Muslim memiliki 6,5 anak. Angka ini menurun menjadi 4 anak pada tahun 2004, bahkan di sejumlah negara Muslim penurunan terjadi lebih drastis menjadi 2,6 anak dalam setiap keluarga. Kondisi yang lebih parah terjadi di masyarakat Muslim di Indonesia, Aljazair dan negara-negara Asia tengah termasuk Rusia. Sementara kondisi di Turki dan Azerbaijan sama dengan kebanyakan masyarakat Eropa. Memang di sejumlah kawasan, mengingat peningkatan jumlah warga Muslim di wilayah yang berdekatan dengan kawasan non Muslim terjadi peningkatan yang signifikan akibat pertumbuhan internal atau imigrasi umat Islam dalam skala besar.

2.Kondisi Sosial Ekonomi

Potret kondisi sosial ekonomi umat Islam yang tinggal di negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) khususnya yang tergabung menjadi anggota Islamic Development Bank (IDB), seperti yang dilaporkan oleh Didin S Damanhuri dalam hasil kajiannya yang dilakukan bersama Ahadillah Azizy, secara umum dapat digambarkan sebagai berikut;

Negara-negara Islam merupakan pasar yang sangat potensial. Penduduk sekitar 1,6 Miliar yang tinggal di 56 negara-negara Islam (2010) yang diprediksi akan terus meningkat mencapai 1,7 Miliar ditahun 2015. Sebanyak 28% berada di (ASIA-8: negara-negara di Asia termasuk Asia Tenggara, yang berjumlah 8 negara). Sebanyak 40%, berada di kawasan Middle Eastland North Africa (MENA-19) a.l. Mesir, Alzajair, Tunisia, Libya, Moroko, Negara-negara Teluk, Yaman, dan Yordania.

Sebanyak 27% berada di kawasan Sub-Sahara Africa (SSA-22) terdapat 22 negara, seperti Nigeria, Algeria, Sudan dan negara-negara Afrika Barat dan Utara. Sebanyak 5% berada di kawasan Countries in Transition (CIT-7 terdapat 7 negara) seperti Azerbeijan, Turkmenistan,Usbekistan.

Dari negara-negara Islam ini, sebanyak 29% masuk dalam kategori anggota negara terbelakang (The Least Develop Member Countries/LDMCs) dan non LDMC ssebanyak 71%.[2]

Terdapat perkembangan menarik yg menjadi tipologi dari negara-negara Islam (dipetakan dari 56 negara-negara yg menjadi anggota IDB):

– Negara-negara yg sedang dilanda revolusi rakyat,

– kemajuan iptek tinggi,

– eks-Uni Soviet  berjuang menuju Uni-Eropa,

– negara di Asia Tenggara,

– negara penuh konflik dan kemiskinan

 

Tipologi negara-negara Islam:

 

Orientasi Contoh Negara Keterangan

 

Petro dollar Saudi Arabia, UEA, Qatar, Kuwait, Oman, Bahrain Kemajuan pesat dlm pembangunan fisik dan industrialisasi
Transisi demokrasi Tunisia, Mesir, Libya, Yordania, Suriah Terjadi Revolusi rakyat dan tuntutan reformasi
Peradaban iptek tinggi Iran, Malaysia Menghasilkan nuklir yg mencemaskan USA
Kemajuan ekonomi dan demokrasi paling maju Turki, Indonesia Kekuatan ekonomi ke-6 terbesar di Eropa
Eks-Uni Soviet Turkmenistan, Usbekistan, Azerbeijan, Kirgizstan, Kemajuan pesat dalam bidang ekonomi
Asia Tenggara Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam Penduduk besar, pertumbuhan ekonomi stabil
Afrika Barat dan Utara Nigeria, Sudan, Algeria, Senegal, Mali, dll Kemiskinan dan Keterbelakangan
Kepulauan Maldive, Mauritania Keterisolasian dan skala ekonomi kecil
Penuh konflik Afghanistan, Irak Konflik & perebutan kekuasaan

Secara umum pembangunan ekonomi di negara-negara Islam masih di bawah negara-negara Barat. Tiga pendapat tertinggalnya negara-negara Islam tersebut: Pertama, kemunduran terjadi karena paradigma pembangunan ekonomi serta operasionalnya tidak dilakukan secara konsekuen. Kedua, orientasi kalangan elit yang tidak sesuai ajaran Islam, juga dengan nilai-nilai yang dituntut dalam pembangunan ekonomi. Ketiga, bangsa-bangsa di negara mayoritas muslim ini cenderung tersubordinasi terhadap kepentingan negara-negara maju/Barat.[3]

Tingkat kemiskinan di negara-negara Islam adalah sebagai berikut;

Selama periode rentang waktu dari tahun 2000-2010, proporsi orang di negara-negara anggota IDB yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional berkisar dari 3,8% di Malaysia sampai 66,4% di Sierra Leone.

Jika diukur dengan standar Bank Dunia bahwa kategori miskin adalah jika mempunyai pendapatan di bawah $1,25 perhari. Maka dengan kriteria ini, terdapat 10 (sepuluh) negara yang memiliki tingkat kemiskinan kurang dari 2% (Malaysia, Kazakhstan, Yordania, Albania, Azerbeijan, Iran, Maladewa, Suriah, Republik Kirgizstan dan Mesir). Sedangkan jika standard kemiskinan $2 perhari maka Nigeria memiliki tingkat kemiskinan tertinggi pada 64,4%.[4]

 

Kondisi Negara-negara Islam dari Aspek Visi Pembangunan dan Problemnya.

Sebagian negara berorientasi membangun peradaban pengetahuan dan kebudayaan yang tinggi (a.l. Malaysia, ArabSaudi, Turki dan UEA) Membangun ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai simbol perlawanan terhadap negara-negara maju (baca:Barat) (a.l.Iran). Tersubordinasi dalam hegemoni negara-negara Barat dan mengalami kemiskinan serta keterbelakangan (a.l. Irak, Afghanistan dan beberapa negara Afrika). Reformasi ekonomi dan politik melalui gerakan revolusi rakyat (a.l. Mesir, Libya, Tunisia, Yaman) Negara-negara secara ekonomi tumbuh tinggi dan stabil (a.l.Indonesia,Malaysia,Brunei). Negara-negara yang paling maju dalam proses demokratisasi politik (a.l. Indonesia dan Turki).[5]

Melihat gambaran di atas maka adalah suatu keharusan untuk melakukan usaha-usaha yang mengarah kepada sinergi atas kondisi masing-masing bangsa untuk mewujudkan cita-cita bersama.

3.Peta Aliran Keagamaan di Dunia Islam

Di dunia Islam terdapat dua madzhab keagamaan yang dominan yaitu sunni dan syi’ah. Prosentasenya adalah 90 %  kaum muslim di dunia adalah penganut sunni dan sekitar 10 % adalah penganut syi’ah. Peta penyebarannya di negara-negara Islam sebagai berikut:

a. Sunni

Sunni atau juga dikenal dengan Ahlus-Sunnah wal Jama’ah, menggunakan empat mazhab fiqh yang paling banyak diikuti. Di dalam keyakinan Sunni, empat mazhab yang ada valid untuk diikuti, perbedaan yang ada pada setiap mazhab tidak bersifat fundamental. Keempat madzhab tersebut adalah:

Mazhab Hanafi dinisbatkan kepada Imam Abu Hanifah (w.150 H/), adalah yang paling dominan di dunia Islam (sekitar 45%), penganutnya banyak terdapat di Asia Selatan (Pakistan, India, Banglades, Sri Langgka dan Maladewa), Mesir bagian Utara, separuh Irak, Syiria, Libanon dan Palestina (campuran Syafi’i dan Hanafi), Kaukasia (Chechnya dan Dagestan).

Madzhab Maliki dinisbatkan kepada Imam Malik (w. 179 H), diikuti oleh sekitar 25% muslim di seluruh dunia. Mazhab ini dominan di negara-negara Afrika Barat dan Utara. Madzhab Syafi’I dinisbatkan kepada Imam Syafi’I (w. 204 H), memiliki penganut sekitar 28% muslim di dunia. Pengikutnya tersebar terutama di Indonesia, Tturki, Irak, Syria, Iran, Mesir, Somalia, Yaman, Thailand, Singapura, Filipina, Sri Langka dan menjadi mazhab resmi negara Malaysia dan Brunei Darus-Salam.

Madzhab Hambali dinisbatkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal (w. 231 H). Mazhab ini diikuti oleh sekitar 5% muslim di dunia dan dominan di daerah semenanjung Arabia. Mazhab ini merupakan mazhab yang saat ini dianut di Arab Saudi.[6]

b. Syi’ah

Syi’ah pada awal mula perkembangannya juga banyak memiliki aliran. Namun demikian hanya tiga aliran yang masih ada sampai sekarang, yaitu Itsna ‘Asyariah (paling banyak diikuti), Ismailiyah dan Zaidiyah.

Mazhab Ja’fari atau Mazhab Dua Belas Imam (Itsna ‘Asyariah) adalah mazhab dengan penganut yang terbesar dalam Muslim Syi’ah. Dinisbatkan kepada Imam ke-6, yaitu Ja’far Ash-Shadiq Mazhab ini menjadi mazhab resmi dari Negara Republik Islam Iran.

C. Usaha-Usaha Menuju Sinergitas

Upaya untuk mengembalikan peran penting umat Islam dengan melakukan usaha-usaha penyamaan persepsi telah dirintis sejak tahun 1920 an. Sebagian telah disinggung di atas dalam bentuk pikiran-pikiran para cendekiawan muslim. Usaha lainnya adalah pertemuan puncak umat Islam antara lain:

– Konggres kekhalifahan Islam di Kairo 1926

– Konggres Muslim dunia di Mekkah, 1926

– Konfrensi Islam al-Aqsha di al-Quds, Desember 1931

– Konfrensi Islam Internasional kedua di Karachi. 1949

– Konfrensi Islam Internasional ketiga  di Karachi. 1951

– Pertemuan Puncak Islam di Mekkah, Agustus 1954

– Konfrensi Muslim Dunia di Mogadishu, 1964[7]

Dan puncaknya adalah dibentuk sebuah lembaga yang disebut Organisasi Konfrensi Islam.

1. Pembentukan OKI

Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang kemudian diubah menjadi Organisasi Kerjasama Islam (منظمة المؤتمر الإسلامي / Organisation of the Islamic Cooperation) merupakan organisasi internasional non militer yang didirikan di Rabat, Maroko, pada tanggal 25 September 1969. Dipicu oleh peristiwa pembakaran Masjid Al Aqsha yang terletak di kota Al Quds (Jerusalem) pada tanggal 21 Agustus 1969 telah menimbulkan reaksi keras dunia, terutama dari kalangan umat Islam. Saat itu dirasakan adanya kebutuhan yang mendesak untuk mengorganisir dan menggalang kekuatan dunia Islam serta mematangkan sikap dalam rangka mengusahakan pembebasan Al Quds.

Atas prakarsa Raja Faisal dari Arab Saudi dan Raja Hassan II dari Maroko, dengan Panitia Persiapan yang terdiri dari Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, Somalia, Arab Saudi dan Maroko, terselenggara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam yang pertama pada tanggal 22-25 September 1969 di Rabat, Maroko. Konferensi ini merupakan titik awal bagi pembentukan Organisasi Konferensi Islam (OKI).

a..Secara umum latar belakang terbentuknya OKI sebagai berikut :

1) Tahun 1964 : Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab di Mogadishu timbul suatu ide untuk menghimpun kekuatan Islam dalam suatu wadah internasional.

2) Tahun 1965 : Diselenggarakan Sidang Liga Arab sedunia di Jeddah Saudi Arabia yang mencetuskan ide untuk menjadikan umat Islam sebagai suatu kekuatan yang menonjol dan untuk menggalang solidaritas Islamiyah dalam usaha melindungi umat Islam dari zionisme khususnya.

3) Tahun 1967 : Pecah Perang Timur Tengah melawan Israel. Oleh karenanya solidaritas Islam di negara-negara Timur Tengah meningkat.

4) Tahun 1968 : Raja Faisal dari Saudi Arabia mengadakan kunjungan ke beberapa negara Islam dalam rangka penjajagan lebih lanjut untuk membentuk suatu Organisasi Islam Internasional.

5) Tahun 1969 : Tanggal 21 Agustus 1969 Israel merusak Masjid Al Aqsha. Peristiwa tersebut menyebabkan memuncaknya kemarahan umat Islam terhadap Zionis Israel.

Seperti telah disebutkan di atas, Tanggal 22-25 September 1969 diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara Islam di Rabat, Maroko untuk membicarakan pembebasan kota Jerusalem dan Masjid Al Aqsha dari cengkraman Israel. Dari KTT inilah OKI berdiri.

b.Tujuan Didirikannya OKI

Secara umum tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk mengumpulkan bersama sumber daya dunia Islam dalam mempromosikan kepentingan mereka dan mengkonsulidasikan segenap upaya negara tersebut untuk berbicara dalam satu bahasa yang sama guna memajukan perdamaian dan keamanan dunia muslim. Secara khusus, OKI bertujuan pula untuk memperkokoh solidaritas Islam di antara negara anggotanya, memperkuat kerjasama dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan iptek.

Pada Konferensi Tingkat Menteri (KTM) III OKI bulan February 1972, telah diadopsi piagam organisasi yang berisi tujuan OKI secara lebih lengkap, yaitu :

1). Memperkuat/memperkokoh :

  1. a) Solidaritas di antara negara anggota;
  2. b) Kerjasama dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan iptek.
  3. c) Perjuangan umat muslim untuk melindungi kehormatan kemerdekaan dan hak- haknya.

2). Aksi bersama untuk :

  1. a) Melindungi tempat-tempat suci umat Islam;
  2. b) Memberi semangat dan dukungan kepada rakyat Palestina dalam memperjuangkan haknya dan kebebasan mendiami daerahnya.

3). Bekerjasama untuk :

a) Menentang diskriminasi rasial dan segala bentuk penjajahan;

b) Menciptakan suasana yang menguntungkan dan saling pengertian diantara negara anggota dan negara-negara lain.

c. Prinsip OKI

Untuk mencapai tujuan di atas, negara-negara anggota menetapkan 5 prinsip, yaitu:

1) Persamaan mutlak antara negara-negara anggota

2) Menghormati hak menentukan nasib sendiri, tidak campur tangan atas urusan dalam negeri negara lain.

3) Menghormati kemerdekaan, kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara.

4) Penyelesaian setiap sengketa yang mungkin timbul melalui cara-cara damai seperti perundingan, mediasi, rekonsiliasi atau arbitrasi.

5) Abstein dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah, kesatuan nasional atau kemerdekaan politik suatu negara.[8]

 

Salah satu pendekatan sinergitas ialah dengan pendekatan antar madzhab bagaimana bentuknya. Tunggu bagian terakhir dari tulisan ! Bersambung…

Bagian akhir tulisan di sini.

Bagian pertama tulisan ini bisa dibaca di sini

[1] www.irib.ir. 1 Juni 2012

[2] Didin S Damanhuri dan Ahadillah Azizy, hasil kajian yang dilakukan oleh INDEF (Institute for Development Economics & Finance), Jakarta, dikutip dari www.indef.or.id. 1 Juni 2012

[3] Didin S Damanhuri dan Ahadillah Azizy, h. 6

[4] Didin S Damanhuri dan Ahadillah Azizy, h. 7

[5] Didin S Damanhuri dan Ahadillah Azizy, h. 8

[6] Mapping the global Muslim Population dalam  www.pewforum.org. 9 Juni 2012

[7] Salim Segaf al-Jufri, h. 4

[8] www.oic-oci.org. diunduh pada 8 Juni 2012

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.