POTRET KERAGAMAN UMAT ISLAM DI DUNIA ISLAM (Bagian Akhir)

POTRET KERAGAMAN UMAT ISLAM DI DUNIA ISLAM (Bagian Akhir)

POTRET KERAGAMAN UMAT ISLAM DI DUNIA ISLAM (Bagian Akhir)

Bagian awal tulisan ini bisa baca di sini. Dan bagian ke dua baca juga di sana.

2. Usaha Pendekatan Antar Madzhab

Di luar kerangka OKI, usaha lain yang dilakukan oleh para tokoh muslim dunia untuk mensinergikan umat Islam cukup banyak. Di antara yang monumental adalah pembentukan Dar at-Taqrib Baina al-Madzahib al-Islamiyah pada tanggal 29 Rabiul Awal 1336 H, di Kairo, Mesir. Lembaga ini dibentuk dengan tujuan mendekatkan mazhab-mazhab Islam. Pembentukan lembaga ini diprakarsai oleh Syeikh Mahmoud Syaltut, Syeikh al-Azhar dan Ayatullah al-Udzma Boroujerdi, marji terbesar Syiah.

Pasca pembentukan lembaga tersebut berbagai macam ikhtiar dilakukan dari berbagai macam kelompok dan golongan terus digelorakan. Salah satu dokumen penting tentang usaha ini apa yang disebut sebagai Pesan Amman (the Amman Message/Risalatu ‘Amman), merupakan hasil konferensi yang diadakan di Amman, Yordania, dengan tema “Islam Hakiki dan Perannya dalam Masyarakat Modern” (27-29 Jumadil Ula 1426 H. / 4-6 Juli 2005 M.) yang dihadiri oleh berbagai macam kelompok umat Islam di dunia. Konferensi ini diprakarsai oleh Raja Yordania Abdullah II dihadiri tidak kurang 200 tokoh umat Islam dari berbagai negara. Butir-butir kesepakatan tersebut adalah:

Pertama, Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan. Lebih lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang mengamalkan tasawuf (sufisme). Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (Saw.) dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam.

Kedua, Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam mazhab-mazhab Islam dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam yang telah disebutkan di atas semuanya sepakat dalam prinsip-prinsip utama Islam (Ushuluddin). Semua mazhab yang disebut di atas percaya pada satu Allah yang Maha Esa dan Makakuasa; percaya pada Al-Qur’an sebagai wahyu Allah; dan bahwa Baginda Muhammad Saw. adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia. Semua sepakat pada lima rukun Islam: dua kalimat syahadat (syahadatayn); kewajiban shalat; zakat; puasa di bulan Ramadhan, dan Haji ke Baitullah di Mekkah. Semua percaya pada dasar-dasar akidah Islam: kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah. Perbedaan di antara ulama kedelapan mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang agama (furu’) dan tidak menyangkut prinsip-prinsip dasar (ushul) Islam. Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat Ilahi. Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara ‘ulama adalah hal yang baik.

Ketiga, Mengakui kedelapan mazhab dalam Islam tersebut berarti bahwa mengikuti suatu metodologi dasar dalam mengeluarkan fatwa: tidak ada orang yang berhak mengeluarkan fatwa tanpa keahlihan pribadi khusus yang telah ditentukan oleh masing-masing mazhab bagi para pengikutnya. Tidak ada orang yang boleh mengeluarkan fatwa tanpa mengikuti metodologi yang telah ditentukan oleh mazhab-mazhab Islam tersebut di atas. Tidak ada orang yang boleh mengklaim untuk melakukan ijtihad mutlak dan menciptakan mazhab baru atau mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak bisa diterima hingga membawa umat Islam keluar dari prinsip-prinsip dan kepastian-kepastian syariah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh masing-masing mazhab yang telah disebut di atas.

Keempat, Esensi Risalah Amman, yang ditetapkan pada Malam Lailatul Qadar tahun 1425 H dan dideklarasikan dengan suara lantang di Masjid Al-Hasyimiyyin, adalah kepatuhan dan ketaatan pada mazhab-mazhab Islam dan metodologi utama yang telah ditetapkan oleh masing-masing mazhab tersebut. Mengikuti tiap-tiap mazhab tersebut di atas dan meneguhkan penyelenggaraan diskusi serta pertemuan di antara para penganutnya dapat memastikan sikap adil, moderat, saling memaafkan, saling menyayangi, dan mendorong dialog dengan umat-umat lain.

Kelima, Kami semua mengajak seluruh umat untuk membuang segenap perbedaan di antara sesama Muslim dan menyatukan kata dan sikap mereka; menegaskan kembali sikap saling menghargai; memperkuat sikap saling mendukung di antara bangsa-bangsa dan negara-negara umat Islam; memperkokoh tali persaudaraan yang menyatukan mereka dalam saling cinta di jalan Allah. Dan kita mengajak seluruh Muslim untuk tidak membiarkan pertikaian di antara sesama Muslim dan tidak membiarkan pihak-pihak asing mengganggu hubungan di antara mereka.[1]

D.Urgensi Membangun Sinergitas dalam Islam

Pentingnya umat Islam harus bersatu dan bersinergi sebagai sebuah umat telah diperintahkan jauh-jauh hari oleh al-Qur’an. Cukup banyak ayat yang mengisyaratkan akan hal ini. Di antara ayat-ayat yang mengisyaratkan hal tersebut adalah:

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali ‘Imran [3]: 103).

Sayyid Quthb ketika menafsirkan ayat ini menyatakan salah satu nikmat terbesar yang dianugerahkan oleh Allah kepada umat Islam adalah rasa persaudaraan dalam ikatan yang kuat yaitu tali Allah. Tidak ada selain tali Allah yang dapat menghimpun semua pihak hingga dengan nikmat Allah tersebut mereka menjadi saling bersaudara. Tidak ada yang dapat menghimpun semua hati ini kecuali persaudaraan di jalan Allah, yang menjadikan semua dendam sejarah, permusuhan antar etnik, ambisi pribadi dan panji fanatisme menjadi kecil. Dengan persaudaraan di jalan Allah barisan bersatu terhimpun di bawah panji Allah Yang Mahabesar lagi Mahatinggi.[2]

Sementara itu, Quraish Shihab ketika menafsirkan ayat ini khususnya dalam frasa “mempersatukan hati kalian” mengatakan bahwa hal ini menunjukkan betapa kuat jalinan kasih sayang dan persatuan mereka, karena yang diharmoniskan Allah bukan hanya langkah-langkah mereka, tetapi juga hati mereka. Dan kalau hati telah menyatu, maka segala sesuatu akan menjadi ringan dipikul dan segala kesalahpahaman jika seandainya muncul akan mudah diselesaikan. Memang yang terpenting adalah kesatuan hati umat bukan kesatuan organisasi atau kegiatannya.[3]

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (QS. al-Hujurat [49]: 10).

Ayat di atas merupakan ketetapan syariat berkaitan dengan persaudaraan antara orang-orang mukmin dan mengakibatkan dampak keagamaan serta hak-hak yang ditetapkan agama.[4] Dalam ayat di atas juga menegaskan bahwa persatuan dan kesatuan serta hubungan yang harmonis antar anggota masyarakat muslim akan melahirkan limpahan rahmat bagi mereka semua. Sebaliknya perpecahan dan keretakan hubungan mengundang lahirnya bencana, yang pada puncaknya dapat melahirkan pertumpahan darah dan perang saudara.[5]

Sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (QS. al-Anbiya’ [21]: 92).

Ungkapan ummatan wahidah terulang dalam al-Qur’an sebanyak enam kali, masing-masing letaknya adalah Q.S. al-Baqarah/2: 213; Q.S. al-Maidah/5: 48; Q.S. Yunus/10: 19; Q.S. Hud/11: 118; Q.S. al-Nahl/16: 93; serta Q.S. al-Anbiya’/21: 92.

Bahwa pada mulanya manusia itu adalah satu umat ditegaskan dalam Q.S. al-Baqarah/2: 213

Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab), setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Maka dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.

Dalam ayat ini secara tegas dikatakan manusia dari dahulu hingga kini merupakan satu umat. Allah Swt. menciptakan mereka sebagai makhluk sosial yang yang saling berkaitan dan saling membutuhkan. Mereka sejak dahulu hingga kini baru dapat hidup jika bantu membantu sebagai satu umat, yakni kelompok yang memiliki persamaan dan keterikatan. Karena kodrat mereka demikian, tentu saja mereka harus berbeda-beda dalam profesi dan kecenderungan. Ini karena kepentingan mereka banyak, sehingga dengan perbedaan tersebut masing-masing dapat memenuhi kebutuhannya.[6]

Dalam kenyataannya manusia tidak mengetahui sepenuhnya bagaimana cara memperoleh kemaslahatan mereka, juga tidak tahu bagaimana mengatur hubungan antar mereka, atau menyelesaikan perselisihan mereka. Di sisi lain, manusia memiliki sifat egoisme yang dapat muncul sewaktu-waktu, sehingga dapat menimbulkan perselisihan. Karena itu Allah Swt. mengutus para nabi menjelaskan ketentuan-ketentuan Allah dan menyampaikan petunjuk-Nya sambil menugaskan para nabi itu menjadi pemberi kabar gembira bagi yang mengikuti petunjuk. Hal ini diperkuat dengan Q.S. Yunus/10: 19

            Dan manusia itu dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu, pastilah telah diberi keputusan (di dunia) di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.[7]

Adanya faktor pembeda di antara individu dan kelompok dalam mesyarakat memberi peluang timbulnya perpecahan. Namun, peluang tersebut mestinya dapat diminimalisir, bahkan ditiadakan dan harus diarahkan pada kompetisi ke arah kebajikan.

Dalam Q.S. al-Hujurat /49: 13 yang dikutip di awal tulisan ini, secara tegas mengakui adanya faktor pembeda itu. Ayat ini memberi legitimasi terhadap adanya faktor pembeda itu sebagai sesuatu yang alami yang memang diciptakan oleh Tuhan. Tetapi ajaran agama menyatakan agar hal itu diperlakukan untuk saling mengenal (ta’aruf). Selain alami, keberagaman itu juga mengandung manfaat. Namun, manusia harus ingat bahwa mereka tergolong dalam umat manusia yang satu. Agama –salah satunya- berfungsi untuk mengingatkan persamaan di antara manusia itu sebagai landasan utuk persahabatan, tolong-menolong dan persaudaraan. Perbedaan itu tidak akan menjadi persoalan apabila kesemuanya itu mengacu pada nilai-nilai kebajikan. Oleh karena itu, dalam suatu masyarakat perlu ada suatu kelompok yang melembaga yang berorientasi pada nilai-nilai keutamaan. Kelembagaan itu bisa merupakan organisasi yang mewakili kepentingan bersama. Tetapi setiap individu bisa membantu terciptanya kepentingan umum itu, yaitu apabila mereka bertaqwa. Orang yang bertaqwa adalah orang yang selalu cenderung mendekat pada yang ma’ruf dan menjauh dari yang mungkar atas dasar kesadaran dan bukannya paksaan dari luar.

Dengan demikian, kedatangan Islam dengan al-Qur’an sebagai kitab sucinya, selain mengembalikan bangsa yang terpecah kepada kepercayaan yang murni atau hanif –dalam arti sesuai dengan fitrah kejadian manusia yang paling primordial –juga mengandung misi mempersatukan individu-individu dalam satuan masyarakat yang lebih besar yang disebut dengan ummah wahidah, yaitu suatu ummat yang bersatu berdasarkan iman kepada Allah dan mengacu kepada nilai-nilai kebajikan. Namun, ummat tersebut tidak terbatas kepada bangsa di mana mereka merupakan bagian. Arti ummat mencakup pula seluruh ummat manusia. Dalam hal ini, seluruh bangsa adalah bagian dari ummat yang satu. Dengan demikian, maka kesatuan masyarakat didasarkan pada doktrin kesatuan ummat manusia.

Wallahu a’lam

[1] www.ammanmessage.com. diunduh pada 8 Juni 2012

[2] Sayyid Quthb, Fi Dzilal al-Qur’an, II, H. 244

[3] Quraish Shihab, al-Mishbah, vol.2, h. 161

[4] Thabathaba’I, al-Mizan, XII. H. 214

[5] Quraish Shihab, al-Mishbah, vol.13, h. 249

[6] Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, op. cit., vol. I, h. 425.

[7] Dalam terjemahan yang diberikan oleh Kementrian  Agama diberikan catatan: Manusia pada mulanya hidup rukun, bersatu dalam satu agama, sebagai suatu keluarga. Tetapi setelah mereka berkembang biak dan  setelah kepentingan mereka berlainan, timbullah berbagai kepercayaan yang menimbulkan perpecahan. Oleh karena itu Allah mengutus rasul yang membawa wahyu dan untuk memberi petunjuk kepada mereka. Terjemah al-Qur’an Kementrian  Agama R.I, h.  306.

 

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.