CIRI DAN KARAKTERISTIK MODERASI ISLAM (Bagian 1)

CIRI DAN KARAKTERISTIK MODERASI ISLAM (Bagian 1)

CIRI DAN KARAKTERISTIK MODERASI ISLAM

Oleh: Ali Nurdin

 

 

Islam adalah agama yang moderat dalam pengertian tidak mengajarkan sikap ekstrim dalam berbagai aspeknya. Pengertian ini didasarkan atas pernyataan al Qur’an dalam surah al-Baqarah/2: 143 yang pada intinya menyatakan bahwa umat yang akan dibangun oleh al Qur’an adalah umat yang wasat (moderat).

 

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.( al-Baqarah [2]: 143)

Kata wasat dengan berbagai perubahannya terulang dalam al-Qur’an sebanyak lima kali, semuanya menunjuk arti pertengahan. Di samping Q.S. al-Baqarah/2: 143 sebagaimana telah disebut di atas, keempat ayat lainnya adalah Q.S. al-‘Adiyat/100: 5, Q.S. al-Maidah/5: 89, Q.S. al-Qalam/68: 28 dan Q.S. al-Baqarah/2: 238.

Dari ayat-ayat tersebut dapat dipahami bahwa ummatan  Wasatan  adalah masyarakat yang berada di pertengahan dalam arti moderat. Posisi pertengahan menjadikan anggota masyarakat tersebut tidak memihak ke kiri dan ke kanan, hal mana mengantar manusia berlaku adil. Posisi itu juga menjadikannya dapat menyaksikan siapa pun dan di manapun. Allah menjadikan umat Islam pada posisi pertengahan agar menjadi saksi atas perbuatan manusia yakni ummat yang lain.

Abdullah Yusuf ‘Ali mengartikan wasat  sebagai justly balanced, yang kemudian diberi komentar bahwa esensi ajaran Islam adalah menghilangkan segala bentuk ekstrimitas dalam berbagai hal. Kata wasat ternyata juga menunjuk pada geografi, yaitu letak geografi tanah Arab menurut Yusuf ‘Ali berada di pertengahan bumi.[1]

Wasatiyah (moderasi atau posisi tengah) mengundang ummat Islam untuk berinteraksi, berdialog dan terbuka dengan semua pihak (agama, budaya dan peradaban), karena mereka tidak dapat menjadi saksi atau berlaku adil jika mereka tertutup atau menutup diri dari lingkungan dan perkembangan global.

Dalam tulisan ini akan difokuskan membahas ciri-ciri dan karakteristik moderasi dalam Islam.

A. Memahami Realitas

Ungkapan bijak menyatakan bahwa dalam hidup ini tidak ada yang  tetap atau tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Demikian halnya dengan manusia adalah makhluk yang dianugrahi Allah subhanahu wa ta’ala  potensi untuk terus berkembang. Konsekuensi dari pemberian potensi tersebut adalah bahwa manusia akan terus mengalami perubahan dan perkembangan. Di sisi lain ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah telah sempurna dalam arti tidak akan ada penambahan ayat dan hadis yang baru. Berdasarkan hal inilah para ulama kemudian membagi ajaran Islam ada dua macam yaitu ajaran Islam yang berisikan ketentuan-ketentuan yang tsawâbit (tetap), dan hal-hal yang dimungkinkan untuk berubah sesuai dengan perkembangan ruang dan waktu (mutaghayyirât). Yang tsawâbit hanya sedikit, yaitu berupa prinsip-prinsip akidah, ibadah, mu`malah dan akhlaq, dan tidak boleh diubah. Sedangkan selebihnya mutaghayyirât yang bersifat elastis/ fleksibel (murûnah) dan dimungkinkan untuk dipahami sesuai perkembangan zaman.

Sejak periode awal perkembangan Islam sejarah telah mencatat bahwa banyak fatwa yang berbeda karena disebabkan oleh realitas kehidupan masyarakat yang juga berbeda. Umar bin Khatthab RA., adalah tokoh yang banyak disebut karena kecerdasan beliau dalam  memahami realitas untuk kemudian dijadikan alasan untuk memutuskan satu perkara yang secara lahiriyah terkadang nampak seperti tidak sesuai dengan bunyi teks ayat Al-Qur’an maupun hadis. Demikian juga dengan Imam Asy-Syafi’i (w. 204 H), yang sangat populer dengan istilah qaul qadim/fatwa yang lama dan qaul jadid/fatwa yang baru. Di era modern banyak dijumpai  karena realitas kehidupan masyarakat yang berbeda maka melahirkan fatwa yang juga berbeda, sebagai contoh adalah apa yang terjadi di beberapa lembaga fatwa terkemuka di negara-negara minoritas Muslim untuk mengambil pandangan yang berbeda dengan apa yang selama ini dipahami dari kitab-kitab fiqih.

Sebagai contoh dalam konteks ke Indonesia-an, adalah  bagaimana  menerapkan syariat Islam dalam kehidupan bernegara seperti Indonesia ini. Sementara pandangan akan merujuk kepada ayat-ayat al-Qur ‘an untuk menjawab pertanyaan tersebut di antaranya adalah surah al-Maidah/44 ;

….Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (al-Maidah/44)

Demikian juga dalam surah al-Maidah/45

… Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (al-Maidah/45)

Satu lagi ayat yang hampir senada adalah surah al-Maidah/47

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik (al-Maidah/47)

Dari ketiga ayat di atas sementara kelompok memahami bahwa menerapkan hukum Allah dalam setiap aspek kehidupan termasuk bernegara adalah harga mati, maka bagi seseorang/kelompok/ Negara yang tidak menerapkan hukum Allah dapatlah dinilai sebagai kafir, dzalim dan fasiq.

Di sisi lain ada kelompok yang memahami bahwa ketiga ayat di atas hanya ditujukan kepada orang Yahudi  dan Nasrani bukan untuk umat Islam.  Pandangan seperti ini lahir dari paradigma sekuler yang sangat berkeinginan untuk memisahkan antara urusan agama di satu sisi yang hanya menyangkut masalah pribadi dan spiritual dan masalah Negara di sisi yang lain.

Kedua pandangan ekstrim tersebut akan sulit diterapkan dan diamalkan dalam konteks ke-Indonesia-an. Kesimpulan tersebut sangat tidak realistis, karena tidak memahami realitas Negara Indonesia yang dari aspek kesejarahan, komposisi demografinya dan konfigurasi sosialnya berbeda dengan Negara-negara lain termasuk Negara yang secara resmi berdasarkan Islam.  Terlebih mayoritas ulama tafsir pun tidak memahami seperti itu.

Sebelum menghidangkan pendapat para ulama tafsir menyangkut ayat di atas hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa para ulama secara umum berpendapat bahwa masalah hukum (Syari’ah-fiqh) adalah merupakan persoalan furu’ (cabang), bukan masalah ushul/pokok. Jika perbedaan pendapat dalam masalah furu’ menghasilkan penilaian benar atau salah maka dalam masalah ushul (aqidah) dapat menjadikan seseorang terjerumus pada kekafiran. Dari prinsip ini dapat dikatakan bahwa seseorang yang tidak menjalankan hukum Islam karena melanggar bukan karena pengingkaran dan penentangan maka tidak dapat dinilai sebagai kafir.

Dalam hal ini harus dibedakan antara pelanggaran dan penentangan; Pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah akan mengakibatkan dosa/fasiq, sedangkan penentangan terhadap hukum-hukum Allah dapat mengakibatkan kekafiran. Dalam konteks Negara-negara yang tidak  menjadikan agama Islam sebagai dasar bernegara secara resmi dan formal seperti Indonesia tidak dapat dinilai sebagai Negara kafir, karena sistem yang dijalankan tidak membatasi dan bertentangan dengan ajaran Islam yang bersifat ushul. Seandainya terlihat seperti ada pelanggaran maka hal tersebut dikategorikan sebagai perbuatan dosa/fasiq.[2]

Penjelasan lebih konkrit disampaikan oleh Fahmi Huwaidi, sebagaimana dikutip oleh Tim penulis buku “Kekerasan Atas nama Agama” yang diterbitkan oleh Pusat Studi al-Qur’an Jakarta, yang  menyatakan paling tidak ada dua alasan mengapa realitas penerapan suatu hukum selain syariat Allah bukanlah suatu bentuk kekufuran. Pertama, agama tidak menganggap “pelanggaran” terhadap hukum Allah sebagai bentuk kekufuran. Karenanya tidak aneh ketika banyak khalifah di masa-masa awal Islam, di mana para sahabat dan Tabi’in masih hidup, memaksa rakyat untuk membaiat putra-putra mahkota mereka, yang merupakan suatu bentuk pelanggaran terhadap hukum syura yang ditetapkan Allah. Bahkan system ini sampai sekarang juga masih berlangsung di beberapa Negara Islam di Timur Tengah khususnya yang monarchi/kerajaan. Tidak ada di antara sahabat Nabi yang masih hidup, Tabi’in dan ulama-ulama lainnya mengkafirkan para khalifah tersebut, kecuali kelompok khawarij. Kedua, menerapkan hukum selain hukum Allah  seperti telah disinggung di atas bukanlah persoalan aqidah dan keimanan, maka bagi yang belum melaksanakan bukanlah dinilai kafir melainkan fasiq/dosa.[3]

Dalam konteks ke Indonesia-an yang perlu juga digarisbawahi adalah meskipun mayoritas penduduknya muslim namun dalam pandangan politiknya beraneka ragam. System syura yang dikembangkan adalah dengan melibatkan partisipasi seluruh rakyat yang telah memenuhi syarat untuk memberikan suaranya dalam pemilu yang menghasilkan kepemimpinan dan keterwakilan dalam syura. Maka, kelompok manapun yang ingin memperjuangkan penerapan syariat Islam boleh dan sah saja sepanjang mempertimbangkan kondisi real masyarakat Indonesia yang memang majemuk termasuk dalam memahami ajaran Islam dan tidak memaksakan kehendak terlebih bersifat anarkhis.

Realitas lain yang harus dipahami bagi siapapun agar terhindar dari sikap ekstrim adalah bahwa manusia adalah makhluk yang beraneka ragam jenisnya. Ini adalah sebuah fakta yang tidak dapat dielakkan dan merupakan ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala . Isyarat ini dapat ditemukan di antaranya dalam surah al-Hujurat/49: 13

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS. al-Hujurat [49]: 13).

Suku bangsa yang berbeda-beda dan pengalaman sejarah masing-masing bangsa yang juga berbeda-beda sedikit banyak berpengaruh dalam hal mengekspresikan sikap beragama. Sebagai contoh realitas kaum muslimin Indonesia menerima ajaran Islam untuk pertama kalinya diajarkan oleh para pendakwah yang dikenal dengan wali songo yang menggunakan pendekatan kultural untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Dengan pendekatan itulah akhirnya Islam diterima secara masal. Pendekatan ini adalah pendekatan yang moderat karena sesuai dengan realitas masyarakat saat itu.

Contoh lain adalah adanya para pekerja urban, di mana realitas ini tidak ditemukan pada masa Rasulullah şallallāhu ‘alaihi wasallam maupun masa awal perkembangan Islam. Untuk mengekspresikan keberagamaan mereka di akhir Ramadhan mereka berbondong-bondong mudik ke kampung halaman. Melihat realitas ini ada sementara kelompok yang menilainya sebagai bid’ah karena Nabi şallallāhu ‘alaihi wasallam tidak mencontohkannya. Pandangan seperti ini jelas menodai ciri moderasi Islam yang sangat memperhatikan realitas kehidupan masyarakat.

Realitas perbedaan bukan hanya menyangkut suku bangsa yang beraneka ragam tersebut, namun juga diikuti perbedaan bahasa dan warna kulit. Hal ini diisyaratkan dalam surah ar-Rum/30: 22

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.  (QS. ar-Rum [30]: 22).

Realitas lain yang juga dijelaskan al-Qur’an adalah adanya satu agama dengan aneka ragam syariah. Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan hanya satu agama yaitu Islam/tauhid. Tidak ada perbedaan di antara para rasul yang diutus, semuanya membawa misi yang sama yaitu tegaknya tauhid. Banyak ayat yang mengisyaratkan hal ini, di antaranya adalah surah al-Anbiya’/21: 25

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku. (al-Anbiya’/21: 25).

Di sisi lain meskipun agama yang diturunkan Allah subhanahu wa ta’ala  hanya satu namun syariat masing-masing rasul berbeda. Hal ini diisyaratkan dalam surah al-Maidah/5: 48

Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah  engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan, (al-Maidah/5: 48).

Al-Qur’an menggunakan kata syari’at dalam arti yang lebih sempit dari kata Din yang biasa diterjemahkan dengan agama. Syariat adalah jalan terbentang untuk satu umat tertentu, dan nabi tertentu, seperti syariat Nuh, syariat Ibrahim, syariat Musa, syariat Isa dan syariat  Muhammad şallallāhu ‘alaihi wasallam. Ayat di atas menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala  memberikan aturan/syariat bagi masing-masing umat. Yang perlu diberikan catatan adalah bahwa khusus untuk syariat Nabi Muhammad şallallāhu ‘alaihi wasallam  tidak lagi hanya berlaku bagi orang-orang yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad şallallāhu ‘alaihi wasallam  melainkan berlaku sepanjang masa dan untuk seluruh manusia.

Penegasan bahwa satu agama namun dengan syariat yang berbeda-beda juga ditegaskan dalam surah asy-Syura/42: 13

Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya). (asy-Syura/42: 13).

Keragaman itu akan tetap berlaku sepanjang masa, termasuk keragaman manusia. Tidak dapat dibayangkan bahwa manusia adalah satu dalam segala hal-nya. Kalau ada usaha untuk menyeragamkan manusia itu berarti melawan ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala . Isyarat ini dapat ditemukan dalam surah Hud/11: 118-119. Dalam Ayat ini ditegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala  tidak menghendaki manusia dalam keadaan tunggal, manusia akan tetap selalu berselisih, yang tidak berselisih adalah yang mendapat rahmat Allah subhanahu wa ta’ala . Itulah salah satu tujuan penciptaan manusia. Hal tersebut merupakan keputusan dan ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala  yang telah sempurna dan tidak akan berubah. Sunnatullah tersebut tidak akan berubah selamanya.[4] Karena sifatnya yang abadi maka keragaman dan kemajemukan tersebut adalah sebuah realitas yang dapat dijadikan pedoman dan landasan  tindakan manusia dalam menjalani hidup dan menghadapi persoalan-persoalan hidup.

Bersambung…

ke bagian 2 di sini

[1]Abdullah Yusuf ‘Ali, The Holy Qur’an, op. cit., h. 58.

[2] Quraish Shihab, al-Mishbah, III, h. 125

[3] Syahrullah Iskandar (Ed), Kekerasan Atas Nama Agama, Jakarta: Pusat Studi al-Qur’an, 2008, h. 60- 61.

[4] Penjelasan ini antara lain disebut dalam surah Fatir/35: 43

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.