CIRI DAN KARAKTERISTIK MODERASI ISLAM (Bagian 2)

CIRI DAN KARAKTERISTIK MODERASI ISLAM (Bagian 2)

CIRI DAN KARAKTERISTIK MODERASI ISLAM (Bagian 2)

Oleh: Ali Nurdin

Bagian pertama baca di sini

B. Memahami Fiqih Prioritas

Ciri lain dari ajaran Islam yang moderat adalah pentingnya menetapkan prioritas dalam beramal. Dengan mengetahui tingkatan prioritas amal maka seorang muslim akan dapat memilih mana amal  yang paling penting di antara yang penting, yang lebih utama di antara yang biasa dan mana yang wajib di antara yang sunnah.

Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa prioritas dalam melakukan amalan agama haruslah diketahui dan diamalkan bagi setiap muslim. Ayat yang menyatakan hal tersebut di antaranya surah at-Taubah/9: 19-20:

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam, kamu samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. “(QS. at-Taubah [9]: 19-20)

Ada beberapa riwayat tentang sebab turun dari ayat ini, di antaranya yang dinilai paling kuat adalah riwayat yang bersumber dari sahabat Nu’man bin Basyir yang menyatakan bahwa suatu ketika pada hari jum’at ia duduk dekat mimbar  Nabi Saw. bersama beberapa orang sahabat beliau. Salah seorang di antaranya berkata: “Saya tidak peduli apabila tidak mengerjakan satu pekerjaan setelah memeluk Islam kecuali bila tidak memberi minum jamaah haji”. Yang lain berkata: “Yang lebih baik adalah memakmurkan masjidil haram”. Yang ketiga berkata: “Berjihad di jalan Allah adalah lebih baik dari apa yang kalian katakan”. Umar bin Khattab RA yang mendengar perbincangan tersebut lalu menegur mereka dan menjanjikan setelah selesai salat jum’at akan menanyakan hal tersebut kepada Nabi Saw. Setelah salat jum’at maka turunlah ayat ini.[1]

Pada ayat 19 di atas ditegaskan bahwa mereka tidak sama, maka pada ayat 20 siapa yang lebih mulia dan yang lebih utama yaitu orang-orang yang beriman dengan iman yang benar dan membuktikan kebenaran iman mereka antara lain dengan taat kepada Allah dan rasul-Nya  dan berhijrah serta berjihad  di jalan Allah untuk menegakkan agama-Nya dengan harta benda mereka dan diri mereka, adalah lebih agung derajatnya di sisi Allah dari mereka yang tidak menghimpun ketiga sifat ini. Dan itulah yang sangat tinggi kedudukannya adalah mereka yang secara khusus dinamai orang-orang yang benar-benar beruntung secara sempurna.[2]

Kata a’dhamu darajatan (lebih agung/mulia derajatnya) menunjukkan bahwa amalan lainnya juga memiliki keagungan namun keagungannya tidak sampai pada derajat yang tinggi seperti ketiga amal yang disebut pada ayat 20. Hal ini menjadi dasar bahwa amal-amal dalam agama memiliki peringkat-peringkat keutamaan.

Sebagai contoh dalam hal ini antara lain adanya khilafiyah dalam amalan-amalan ajaran agama, khususnya yang  berkaitan dengan masalah fiqh. Seringkali seseorang bersikap ekstrim dalam berpegang kepada salah satu madzhab fiqh untuk amalan yang hukumnya sunnah, dan menyalahkan pihak lain yang berbeda, sehingga memunculkan pertentangan dan permusuhan. Kalau orang tersebut memahami fiqh prioritas dengan baik maka hal itu tidak akan terjadi. Karena menjaga persaudaraan dengan sesama muslim adalah wajib hukumnya, sedangkan amalan yang diperselisihkan hukumnya sunnah. Sikap moderat ajaran Islam tidak akan  muncul apabila seseorang tidak memahami fiqh prioritas.

C. Menghindari Fanatisme Berlebihan

Tidak jarang orang mencela sikap fanatik atau yang kemudian dikenal dengan istilah fanatisme. Celaan itu bisa pada tempatnya dan bisa juga tidak, karena fanatisme dalam pengertian bahasa sebagaimana dikemukakan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: “Keyakinan atau  kepercayaan yang terlalu kuat terhadap ajaran  (politik, agama dsb)”.[3]  Sifat ini bila menghiasi diri seseorang dalam agama dan keyakinannya dapat dibenarkan bahkan terpuji, tetapi ia menjadi tercela jika sikapnya itu mengundangnya melecehkan orang lain dan merebut hak mereka menganut ajaran, kepercayaan atau pendapat yang dipilihnya.

Umat Islam walaupun dituntut untuk meyakini ajaran Islam, konsisten dan berpegang teguh  dengannya, -dengan kata lain harus fanatik terhadap ajaran agamannya-  namun dalam saat yang sama Islam mengajarkan sikap toleran dalam surah al-Kafirun/109;

“Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir * aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah * dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah * dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah * dan kalian tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah *untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku’.” (QS. al-Kafirun [109]: 1-6).

Sebab turun surat ini oleh sementara ulama adalah berkaitan dengan peristiwa di mana beberapa tokoh kaum musyrikin di Makkah, seperti al-Wâlid ibn al-Mugirah, Aswad ibn Abd al Muthalib, Umayyah ibn Khalaf, datang kepada Rasul Saw. Menawarkan kompromi menyangkut pelaksanaan tuntunan agama. Usul mereka adalah agar Nabi Saw. bersama umatnya mengikuti kepercayaan mereka, dan mereka pun akan mengikuti ajaran Islam. “Kami menyembah Tuhanmu -hai Muhammad- setahun dan kamu juga menyembah tuhan kami setahun. Kalau agamamu benar, kami mendapatkan  keuntungan karena kami juga menyembah Tuhanmu dan jika agama kami benar, kamu juga tentu memperoleh keuntungan”. Mendengar usul tersebut Nabi Saw. menjawab tegas: “Aku berlindung kepada Allah dari tergolong orang-orang yang mempersekutukan Allah”. Kemudian turunlah surat di atas yang mengukuhkan sikap Nabi Saw. tersebut.[4]

Usul kaum musyrik tersebut ditolak Rasulullah Saw. karena tidak mungkin dan tidak logis pula terjadi penyatuan agama-agama. Setiap agama berbeda dengan agama yang lain dalam ajaran pokoknya maupun dalam perinciannya. Karena itu, tidak mungkin perbedaan-perbedaan itu digabungkan dalam jiwa seseorang yang tulus terhadap agama dan keyakinannya. Masing-masing penganut agama harus yakin sepenuhnya dengan ajaran agama atau kepercayaannya. Selama mereka telah yakin, mustahil mereka akan membenarkan ajaran yang tidak sejalan dengan ajaran agama atau kepercayaannya, turunlah surah tersebut.

Untuk menghindari fanatisme yang berlebihan maka kerukunan hidup antar pemeluk agama yang berbeda dalam masyarakat yang plural harus diperjuangkan dengan catatan tidak mengorbankan aqidah. Kalimat yang secara tegas menunjukkan hal ini seperti terekam dalam surat di atas adalah: “Bagimu agamamu (silakan yakini dan amalkan) dan bagiku agamaku (biarkan aku yakini dan melaksanakannya). Ungkapan ayat ini merupakan pengakuan eksistensi  secara timbal balik, sehingga masing-masing pihak dapat melaksanakan apa yang dianggapnya benar dan baik, tanpa memutlakkan pendapat kepada orang lain sekaligus tanpa mengabaikan keyakinan masing-masing. Apabila ada pihak-pihak yang tetap memaksakan keyakinannya kepada umat Islam, maka Al-Qur’an memberikan tuntunan agar mereka menjawab sebagaimana terekam dalam Surah Saba’/34: 24-26:

Katakanlah: ‘siapakah yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan dari bumi?’ Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu pasti berada di atas kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.* Katakanlah; “kamu tidak akan ditanya menyangkut dosa yang telah kami perbuat dan kami tidak akan ditanyai tentang apa yang kamu perbuat.* Katakanlah: ‘Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui. (QS. Saba’ [34]: 24-26)

Tidak dapat disangkal bahwa setiap penganut agama –termasuk agama Islam – harus meyakini sepenuhnya serta percaya sekukuh mungkin kebenaran anutannya serta kesalahan anutan yang bertentangan dengannya. Namun demikian, hal tersebut tidak menghalangi seorang muslim– dalam konteks interaksi sosial – untuk   menyampaikan ketidak kemutlakan kebenaran ajaran yang dianutnya dan menyampaikan juga  kemungkinan kebenaran pandangan mitra bicaranya. Perhatikan redaksi ayat diatas yang menyatakan: “Sesungguhnya kami atau kamu pasti berada di atas  kebenaran  atau dalam kesesatan yang nyata”  Yakni kepercayaan /pandangan kita memang berbeda bahkan bertolak belakang, sehingga pasti salah satu di antara kita ada yang benar dan ada pula yang salah. Mungkin kami, yang benar, mungkin juga anda, dan mungkin kami yang salah dan mungkin juga Anda.

Fanatisme yang terlarang adalah yang diistilahkan oleh Al-Qur’an Hamiyat Al-Jahiliyah dalam surah al-Fath/48:26

“Ketika orang-orang yang kafir menanamkan kesombongan dalam hati mereka (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin; dan (Allah) mewajibkan kepada mereka tetap taat menjalankan kalimat takwa dan mereka lebih berhak dengan itu dan patut memilikinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS al-Fath [48]: 26)

Fanatisme yang terlarang adalah yang diistilahkan  oleh Nabi Saw. dengan ‘Ashabîyah  atau  Ta’ashshub.  Kata ini terambil dari akar kata yang berarti melilit /mengikat. Dari sini maknanya berkembang sehingga berarti keluarga, kelompok dimana anggotanya terikat satu dengan yang lain. Keterikatan yang menjadikan mereka sepakat, dan se-ia se-kata, kendati kesepakatan itu dalam kebatilan. Masing-masing tampil dengan kukuh membela anggotanya kendati mereka salah.  Inilah yang diingatkan Nabi Saw. ketika bersabda:  Bukan dari kelompok kita (ummat Islam) siapa yang mengajak kepada sikap Ashabiyah.   Memang dalam masyarakat yang sakit, sikap demikian merupakan fenomena  umum. Sedemikian umum sehingga lahir ungkapan “Right or Wrong is my country”  Benar atau salah adalah negeri kita, partai kita, keluarga kita, tetapi jika dia salah kita tidak boleh membiarkan kesalahannya berlarut apalagi merestuinya  Kita berkewajiban meluruskan kesalahan itu dan memperbaikinya, kalau tidak mau dinilai agama sebagai seorang yang fanatik buta.

Dari penjelasan di atas maka  jelaslah bahwa fanatik buta adalah sesuatu yang buruk. Al-Qur’an hadir salah satu misinya adalah untuk menghilangkan sikap fanatik buta tersebut. Hal ini diisyaratkan dalam beberapa ayat, di antaranya adalah:

Surah az-Zukhruf/43: 21-24

” Atau Adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al Quran, lalu mereka berpegang dengan kitab itu ? Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya Kami mendapati bapak-bapak Kami menganut suatu agama, dan Sesungguhnya Kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka”. Dan Demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”. (Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) Sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” Maka Kami binasakan mereka Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. az-Zukhruf [43]: 21-24)

Maka sungguh aneh kalau ada sementara kaum muslim yang telah mendapat anugrah berupa ajaran yang begitu sempurna dan bersifat moderat justru ada sementara kalangan yang bersikap fanatik. Al-Qur’an juga mengecam sikap fanatik buta yang dilakukan sementara golongan dari ahli kitab. Hal ini di antaranya disebut dalam surah at-Taubah/9: 31:

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah[dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah [9]: 31)

D. Mengedepankan Prinsip Kemudahan dalam beragama

Semua sepakat bahwa Islam adalah merupakan agama yang mudah, mencintai dan menganjurkan kemudahan. Banyak argument yang dapat dituliskan menyangkut hal tersebut, di antaranya adalah surah al-Baqarah/2: 185

…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.. (QS. al-Baqarah [2]: 185)

 Demikian juga dalam surah an-Nisa’/4: 28

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. an-Nisa’ [4]: 28)

Ayat yang semakna terdapat dalam surah al-Hajj/22: 78

…dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…(QS. al-Hajj [22]: 78)

Dari Hadis-hadis Nabi Saw. juga sedemikian banyak di antaranya adalah;

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ [5]

“Sesungguhnya agama ini mudah”

Demikian juga ketika Nabi Saw. mengutus Muadz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy’ari ke Yaman, beliau berpesan kepada keduanya:

يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا, وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا, وَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا [6]

“Hendaknya kalian mempermudah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat lari,  saling membantu dan jangan berselisih” (HR. Bukhori dan Muslim)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ : مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا, فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ [7]

Aisyah berkata: “Tidaklah Rasulullah diberi pilihan di antara dua perkara kecuali beliau memilih yang paling ringan selagi hal tersebut bukan dosa. Adapun bila hal tersebut merupakan dosa maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Secara umum para ulama membagi kemudahan dalam ajaran Islam menjadi dua kategori yaitu: Pertama, kemudahan yang asli; kemudahan yang memang merupakan ciri khas dari ajaran Islam yang memang moderat dan sesuai dengan naluri manusia. Kedua, jenis kemudahan dikarenakan ada sebab yang lebih memudahkan lagi. Sebagai contoh adalah seseorang yang sedang dalam perjalanan/safar maka mendapat kemudahan untuk melakukan salat secara jama’ dan qasar, demikian juga diperbolehkan untuk tidak puasa di bulan Ramadhan bagi yang  safar maupun sakit, dan masih banyak contoh lainnya.

Yang perlu mendapat catatan adalah bahwa kemudahan tersebut hendaklah mengikuti kaidah-kaidah dalam agama yang telah ditetapkan oleh para ulama, di antaranya adalah:

  1. Benar-benar ada udzur yang membolehkannya mengambil keringanan,
  2. Adanya dalil syar’I yang membolehkan untuk mengambil keringanan,
  3. Mencukupkan pada kebutuhan saja dan tidak melampui batas dari garis yang telah ditetapkan oleh dalil.[8]

Prinsip kemudahan yang diajarkan Islam ini semestinya menjadikan pemeluknya untuk dapat selalu bersikap moderat dalam mengekspresikan sikap beragamanya.

E. Memahamai teks-teks keagamaan secara komprehensif

Ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis akan dapat dipahami dengan baik apabila  dilakukan secara komprehensif, tidak parsial (sepotong-sepotong). Ayat-ayat Al-Qur`an, begitu pula hadis-hadis Nabi, harus dipahami secara utuh, sebab antara satu dengan lainnya saling menafsirkan (al-Qur`ân yufassiru ba`dhuhu ba`dhan).

Salah satu metode tafsir yang dapat membantu menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara komprehensif adalah metode tematik. Metode ini adalah salah satu metode yang dinilai paling obyektif. Dikatakan obyektif karena seolah Al-Qur’an dipersilakan untuk menjawab secara langsung atas setiap masalah yang disodorkan oleh seorang mufassir.[9]

Dengan memahami ayat-ayat Al-Qur’an secara komprehensif maka akan menghasilkan pengertian yang lengkap dan utuh yang pada gilirannya dapat memperlihatkan ajaran Islam yang moderat. Di antara hal positif yang diraih dengan memahami teks agama secara komprehensif antara lain:

  1. Akan mengetahui hubungan dan persesuaian antara beberapa ayat dalam satu judul bahasan, sehingga bisa menjelaskan arti dan maksud-maksud ayat-ayat A1-Qur’an dan petunjuknya, ketinggian mutu seni, sastra dan bala
  2. Akan memberikan pandangan pikiran yang sempurna, yang bisa mengetahui seluruh nash-nash Al-Qur’an mengenai topik tersebut secara sekaligus, sehingga ia bisa menguasai topik tersebut secara lengkap.
  3. Menghindari adanya pertentangan dan menolak tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang, yang mempunyai tujuan jahat terhadap Al-Qur’an, seperti dikatakan bahwa ajaran Al-Qur’an adalah bersifat radikal dan ekstrim, atau juga tuduhan yang menyatakan bahwa ayat Al-Qur’an bertentangan dengan ilmu pengetahuan,
  4. Lebih sesuai dengan kondisi zaman sekarang yang menuntut adanya penjelasan tuntutan-tuntutan Al-Qur’an yang umum bagi semua pranata kehidupan sosial dalam bentuk peraturan-peraturan dan perundang-undangan yang sudah difahami, dimanfaatkan dan diamalkan,
  5. Mempermudah bagi para juru dakwah, serta pengajar untuk mengetahui secara sempurna berbagai macam topik dalam Al-Qur’an,
  6. Akan bisa cepat sampai ke tujuan untuk mengetahui atau mempelajari sesuatu topik bahasan Al-Qur’an tanpa susah payah,
  7. Akan menarik orang untuk mempelajari, menghayati dan mengamalkan isi Al-Qur’an, sehingga Insya Allah tidak ada lagi semacam kesenjangan antara ajaran-ajaran Al-Qur’an dengan pranata kehidupan mereka.[10]

Sebagai contoh adalah memahami pengertian jihad; kalau dilakukan secara parsial maka akan menghasilkan kesimpulan yang keliru tentang jihad. Wajah Islam yang ramah dan moderat akan nampak garang dan ekstrim. Dengan membaca ayat-ayat Al-Qur`an secara utuh akan dapat disimpulkan bahwa kata jihad dalam al-Qur`an tidak selalu berkonotasi perang bersenjata melawan musuh, tetapi dapat bermakna jihad melawan hawa nafsu dan setan.[11]  Ajaran al-Qur`an akan tampak sebagai sebuah rahmatan lil âlamîn, berwatak toleran dan damai bila dicermati semangat umum ayat-ayatnya. Sebaliknya bila ayat-ayat qitâl (perang) yang diperhatikan, terlepas dari konteks dan kaitannya dengan ayat-ayat lain, maka al-Qur`an akan terkesan sebagai ajaran keras, kejam dan tidak toleran.

Bersambung… ke bagian akhir di sini

 

[1] Ibn Kasir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, II/450

[2] Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, 5/526

[3] Kamus Besar bahasa Indonesia, h. 235

[4] Al-Suyuthi, Lubab al-Nuqul Fi Asbab al-Nuzul, dalam Hamisyah Tafsir Jalalain, h. 382; Ali ash-Shabuni, Mukhtashar, op. cit., III, h. 685.

[5] Al-Bukhari, Sahih al- Bukhari, NH. 39

[6] Al-Bukhari, Sahih al- Bukhari, NH. 3038, Imam Muslim Sahih Muslim,  NH. 1733

[7] Al-Bukhari, Sahih al- Bukhari, NH. 3560 dan Muslim, Sahih Muslim NH. 2327

[8] Lihat Qowaidul Ahkam al-Izzu bin Abdus Salam 2/7, Al-Asybah wa Nadhoir as-Suyuthi hlm. 80-81, al-Muwafaqot asy-Syathibi 1/302-303, Dhowabit al-Maslahah al-Buthi hlm. 278, Rof’ul Haroj Ibnu Humaid hlm. 143-146, Manhaj Taisir al-Mu’ashir ath-Thowil hlm. 55-56.

[9] Uraian lebih lengkap tentang seputar metoda Tafsir Tematik dapat dilihat dalam setiap Pendahuluan Buku Tafsir Tematik Kementrian Agama yang telah diterbitkan terlebih dahulu. Pendahuluan tersebut ditulis oleh ketua Tim Tafsir Tematik Kementrian Agama RI, Dr. Muchlis M Hanafi, MA

[10]Abdul Djalal, Urgensi Tafsir Maudlin ‘i Pada Masa Kini, Kalam Mulia, Jakarta, 1990, hal. 101-102.

[11] Al-Raghib al-Ashfahani, Al-Mufradat fi Gharib al-Qur`an, h. 101

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.