CIRI DAN KARAKTERISTIK MODERASI ISLAM (Bagian Akhir)

CIRI DAN KARAKTERISTIK MODERASI ISLAM (Bagian Akhir)

CIRI DAN KARAKTERISTIK MODERASI ISLAM (Bagian Akhir)

Oleh: Ali Nurdin

Bagian 1 baca di sini

Bagian 2 bisa baca di sini

F. Keterbukaan dalam Menyikapi Perbedaan

Ciri lain ajaran Islam yang moderat adalah sangat terbuka dalam menyikapi perbedaan baik dalam intern umat beragama  maupun dengan antar umat beragama yang berbeda. Prinsip ini didasari pada realitas bahwa perbedaan pandangan dalam kehidupan manusia adalah suatu keniscayaan. Isyarat ini diantaranya ditemukan dalam surah Hud/11: 118-119

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka Senantiasa berselisih pendapat, Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: Sesungguhnya aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.( Hud/11: 118-119).

Dalam kaidah tafsir diformulasikan oleh para ulama bahwa kata law yang sering diartikan dengan sekiranya atau seandainya menunjukkan bahwa hal tersebut tidak dikehendaki-Nya, atau tidak akan wujud dalam kenyataan. Ini berarti bahwa dalam ayat di atas Allah Swt. tidak menghendaki menjadikan manusia sejak dahulu hingga kini dan seterusnya satu umat saja, yakni satu pendapat, satu kecenderungan bahkan satu agama dalam segala prinsip dan rinciannya. Karena jika Allah Swt. menghendaki yang demikian, Dia tidak akan memberi manusia kebebasan memilih termasuk kebebasan memilih agama dan kepercayaan.[1]

Dalam realitasnya seringkali perbedaan yang terjadi dalam masyarakat manusia dapat menimbulkan permusuhan dan ini pada gilirannya akan menimbulkan kelemahan serta ketegangan  antar mereka. Di sisi lain manusia dianugerahi Allah Swt. kemampuan untuk dapat mengelola aneka perbedaan tersebut menjadi kekuatan manakala dapat disinergikan. Untuk dapat bersinergi maka diperlukan sikap terbuka, disinilah peran ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk terus melakukan upaya-upaya perbaikan guna menjadikan perbedaan tersebut bukan sebagai tittik awal perpecahan melainkan menjadi berkah untuk mendinamisir kehidupan manusia yang memang ditakdirkan sebagai makhluk sosial.

Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang memaparkan hakikat kemanusiaan yang meskipun berbeda-beda namun ada banyak titik untuk membangun sebuah sikap saling terbuka, pengertian dan toleran. Di antara poinnya adalah:

1.Manusia adalah makhluk yang selalu memiliki ketergantungan dengan pihak lain.

Isyarat ini antara lain ditemukan dalam surah al-‘Alaq/96: 2

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (‘alaq).

Dalam menafsirkan ayat tersebut Quraish Shihab memberi penjelasan cukup panjang yang pada intinya adalah bahwa Al-Qur’an berbicara tentang manusia meliputi banyak aspek antara lain sifat-sifat potensialnya. Di antaranya manusia bersifat tergesa-gesa,[2] ada juga manusia diciptakan dalam keadaan lemah kemudian menjadi kuat, kemudian lemah kembali dan beruban[3]. Kedua hal tersebut dapat mengantarkan seseorang untuk memperoleh kesan bahwa ayat 2 surah al-‘Alaq tidak hanya berbicara tentang reproduksi manusia melainkan juga berbicara tentang sifat bawaan manusia sebagai makhluk sosial.[4]

Pandangan tersebut didasarkan kepada analisa kebahasaan tentang arti ‘alaq. Kata tersebut menurut para ahli bahasa tidak hanya bermakna tunggal yaitu segumpal darah melainkan ada pengertian lainya, di antaranya; pertama, darah yang membeku, kedua, makhluk yang hitam seperti cacing yang terdapat di dalam air. Apabila air itu diminum oleh binatang maka makhluk itu menyangkut dikerongkongan, ketiga, bergantung atau berdempet.[5]

Dari analisa kebahasaan tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah Swt. dengan memiliki sifat ketergantungan kepada pihak lain sampai akhir perjalanan hidupnya, bahkan melampaui hidupnya di dunia ini. Sebagai makhluk sosial yang mempunyai ketergantungan kepada pihak lain, maka kehidupan manusia suka tidak suka ada dalam keadaan interdependensi. Artinya manusia tidak dapat memenuhi semua kebutuhannya secara mandiri tanpa bantuan pihak lain.

Di samping itu makhluk sosial ini tidak dapat hidup dalam bentuk apa pun kecuali bila menggantungkan dirinya kepada Allah Swt.   Dari penjelasan tersebut dapat dimengerti kalau ayat di atas tidak hanya berbicara tentang salah satu periode kejadian manusia, melainkan sekaligus menggambarkan keadaan makhluk tersebut dalam perjalanan hidupnya sejak dalam kandungan  sampai akhir hayatnya. Kesan tersebut jelas tidak akan didapatkan apabila kata ‘alaq ditukar dengan kata turab atau yang lainnya.

Kata ‘alaq yang diartikan sebagai salah satu periode kejadian manusia mengantar manusia kepada kesadaran tentang asal kejadiannya, yang pada akhirnya dapat mengantar manusia menyadari lingkungan sosialnya, dunianya bahkan menyadari kebesaran Allah Yang Maha Pencipta.

2.Asal kejadian manusia adalah sama

Salah satu alasan yang dijelaskan al-Qur’an adalah bahwa manusia  itu meskipun banyak sisi perbedaanya namun harus tetap bersikap terbuka karena pada hakikatnya manusia satu sama lain bersaudara karena mereka berasal dari sumber yang satu, Q.S. al-Hujurat/49: 13 mengaskan hal ini;

Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (al-Hujurat/49: 13)

Persamaan seluruh umat manusia ini juga ditegaskan oleh Allah dalam surat al-Nisa’/4: 1

Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhan kamu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan menciptakan darinya pasangannya; Allah memperkembangbiakkan dari keduanya laki-laki yang banyak dan perempuan. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah pula) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah Maha mengawasi kamu.( al-Nisa’/4: 1)

Kedua ayat di atas adalah ayat-ayat yang turun setelah Nabi  Saw. hijrah ke Madinah (Madaniyah), yang salah satu cirinya adalah biasanya didahului dengan panggilan يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا (ditujukan kepada orang-orang yang beriman), namun demi persaudaraan persatuan dan kesatuan, ayat ini mengajak kepada semua manusia yang beriman dan yang tidak beriman يَاأَيُّهَا النَّاسُ  (wahai seluruh manusia) untuk saling membantu dan saling menyayangi, karena manusia berasal dari satu keturunan, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, kecil dan besar, beragama atau tidak beragama. Semua dituntut untuk menciptakan kedamaian dan rasa aman dalam masyarakat, serta saling menghormati hak-hak asasi manusia.

Ayat tersebut memerintahkan bertaqwa kepada rabbakum tidak menggunakan kata Allah, untuk lebih mendorong semua manusia berbuat baik, karena Tuhan yang memerintahkan ini adalah rab, yakni yang memelihara dan membimibng, serta agar setiap manusia menghindari sanksi yang dapat dijatuhkan oleh Tuhan yang mereka percayai sebagai pemelihara dan yang selalu menginginkan kedamaian dan kesejahteraan bagi semua makhluk. Di sisi lain, pemilihan kata itu membuktikan adanya hubungan antara manusia dengan Tuhan yang tidak boleh putus. Hubungan antara manusia dengan-Nya itu, sekaligus menuntut agar setiap orang senantiasa memelihara hubungan antara manusia dengan sesamanya. Dalam kaitan inilah sayyid Quthb menyatakan bahwa sesungguhnya berbagai fitrah yang sederhana ini merupakan hakikat yang sangat besar, sangat mendalam dan sangat berat. Sekiranya manusia mengarahkan pendengaran dan hati mereka kepadanya niscaya telah cukup untuk mengadakan berbagai perubahan besar di dalam kehidupan mereka dan mentransformasikan mereka dari beraneka ragam kebodohan kepada iman, keterpimpinan dan petunjuk, kepada peradaban yang sejati dan layak bagi manusia.[6]

3.Manusia adalah Makhluk yang Memiliki Tugas yang Sama

Tugas seluruh manusia adalah sama yaitu menjadi khalifah di muka bumi. Hal ini diisyaratkan dalam surah al-Baqarah/2: 30

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah/2: 30)

Kalau Allah Swt. berkehendak menjadikan semua manusia sama, tanpa perbedaan, maka Dia menciptakan manusia seperti binatang tidak dapat berkreasi dan melakukan pengembangan, baik terhadap dirinya apalagi  lingkumgannya. Namun, hal itu tidak dikehendaki Allah Swt., karena Dia menugaskan manusia sebagai khalifah. Dengan perbedaan itu manusia dapat berlomba-lomba dalam kebajikan dan dengan demikian akan terjadi kreatifitas dan peningkatan kualitas. Karena hanya dengan perbedaan dan perlombaan yang sehat kedua hal itu akan tercapai.[7]

Berdasarkan atas pemikiran di atas maka dalam menyikapi perbedaan yang merupakan keniscayaan dibutuhkan sikap terbuka dan toleran baik terhadap sesama muslim maupun dengan non muslim. Dari sinilah dapat dipahami mengapa segala jenis pemaksaan kehendak terhadap pihak lain yang tidak sependapat harus dihindari. Hal ini diisyaratkan dalam surah al-Baqarah/2: 256

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (al-Baqarah/2: 256)

Dalam ayat di atas secara gamblang dinyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam menganut keyakinan agama; Allah menghendaki agar setiap orang merasakan kedamaian. Kedamaian tidak dapat diraih kalau jiwa tidak damai. Paksaan menyebabkan jiwa tidak damai, karena itu tidak ada paksaan dalam menganut aqidah agama Islam. Konsideran yang dijelaskan ayat tersebut adalah karena telah jelas jalan yang lurus.

Sebab turun ayat tersebut sebagaimana dinukil oleh Ibn Katsir yang bersumber dari sahabat Ibn ‘Abbas adalah seorang laki-laki Anshar dari Bani Salim ibn ‘Auf yang dikenal dengan nama Husain mempunyai dua anak laki-laki yang beragama Nasrani. Sedangkan ia sendiri beragama Islam. Husain menyatakan kepada Nabi Saw. “Apakah saya harus memaksa keduanya? (Untuk masuk Islam?), kemudian turunlah ayat tersebut di atas.[8]

Penjelasan yang senada juga terdapat dalam surah Yunus/10: 99

Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya  (Yunus/10: 99)

Ayat di atas secara tegas mengisyaratkan bahwa manusia diberi kebebasan beriman atau tidak beriman. Kebebasan tersebut bukanlah bersumber dari kekuatan manusia melainkan anugerah Allah, karena jikalau Allah Tuhan Pemelihara dan Pembibingmu (dalam ayat di atas diisyaratkan dengan kata rabb), menghendaki tentulah beriman semua manusia yang berada di muka bumi seluruhnya. Ini dapat dilakukan-Nya antara lain dengan mencabut kemampuan manusia memilih dan menghiasi jiwa mereka hanya dengan potensi positif saja, tanpa nafsu dan dorongan negatif seperti halnya malaikat. Tetapi hal itu tidak dilakukan-Nya, karena tujuan utama manusia diciptakan dengan diberi kebebasan adalah untuk menguji. Allah Swt.  menganugerahkan manusia potensi akal agar mereka menggunakannya untuk memilih.

Dengan alasan seperti di atas dapat disimpulkan bahwa segala bentuk pemaksaan terhadap manusia untuk memilih suatu agama tidak dibenarkan oleh al-Qur’an. Karena yang dikehendaki oleh Allah adalah iman yang tulus tanpa pamrih dan paksaan. Seandainya paksaan itu diperbolehkan maka Allah sendiri yang akan melakukan, dan seperti dijelaskan dalam ayat di atas Allah Swt tidak melakukannya. Maka tugas para Nabi hanyalah untuk mengajak dan memberikan peringatan tanpa paksaan. Manusia akan dinilai terkait dengan sikap dan respon terhadap seruan para nabi tersebut.

Dalam ayat di atas terdapat klausa yang awalnya ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw. Yaitu “Apakah engkau, engkau memaksa manusia (أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ ). Hal itu dipaparkan oleh al-Qur’an terkait dengan sikap Nabi Muhammad Saw. yang secara sungguh-sungguh ingin mengajak manusia semua beriman, bahkan sikap beliau terkadang berlebihan dalam arti di luar batas kemampuannya, sehingga hampir mencelakakan diri sendiri. Penggalan ayat di atas dari satu sisi menegur Nabi Muhammad Saw. dan orang yang bersikap dan melakukan hal serupa, dan dari sisi yang lain memuji kesungguhannya.[9]

G.Komitmen Terhadap Kebenaran dan Keadilan

Ciri lain dari ajaran Islam yang moderat adalah adanya komitmen untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Kebenaran dan keadilan yang dimaksud bukan saja eksklusif bagi umat Islam, melainkan juga bagi seluruh manusia secara universal.

Perintah untuk menegakkan keadilan dan menghilangkan kedzaliman adalah sebuah keniscayaan, dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara  terlebih bagi orang-orang yang beriman. Sikap adil ini lebih dekat kepada taqwa. Hal ini disiyaratkan secara jelas dalam Q.S. al-Maidah/5: 8

Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi qaww±m³n karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah sekali-kali kebencianmu  terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil, berlaku adillah karena ia lebih dekat kepada taqwa, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Maidah/5: 8)

Ada hal yang cukup menarik dari ayat di atas yaitu dengan redaksi yang hampir sama, disebut dalam Q.S. al-Nisa’/4: 135 (كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ ), sedangkan dalam redaksi di atas berbunyi (كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ). Perbedaan redaksi tersebut oleh sementara mufassir diberi penjelasan bahwa dalam surat al-Nisa’ dikemukakan dalam konteks ketetapan hukum dalam pengadilan yang disusul dengan pembicaraan tentang kasus seorang muslim yang menuduh seorang Yahudi secara tidak sah,[10] selanjutnya dikemukakan uraian tentang hubungan laki-laki dan perempuan,  sehingga yang ingin digarisbawahi dalam ayat itu adalah pentingnya keadilan kemudian disusul dengan kesaksian. Karena itu redaksinya mendahulukan kata al-qisth (adil) baru kata syuhada’ (saksi-saksi). Adapun ayat al-Maidah ini, ia ingin mengingatkan perjanjian-perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya, sehingga yang ingin digarisbawahi adalah pentingnya melaksanakan secara sempurna seluruh perjanjian itu, dan itulah yang dikandung oleh kata (قَوَّامِينَ لِلَّهِ)[11].

Terlepas dari perbedaan tersebut, yang perlu digarisbawahi dalam ayat ini adalah bahwa keadilan adalah salah satu sifat yang dekat kepada taqwa, sementara taqwa secara sederhana dapat diartikan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Untuk dapat memilih mana yang merupakan perintah Allah yang harus dilaksanakan, dan apa yang merupakan larangan Allah yang harus ditinggalkan sangat membutuhkan pertimbangan-pertimbangan yang adil.

Keadilan bukan hanya sifat yang harus dimiliki oleh setiap anggota masyarakat, namun yang harus lebih memperhatikan adalah seseorang yang memegang kekuasaan dalam pemerintahan misalnya. Secara khusus al-Qur’an memberikan penjelasan masalah ini, yaitu dalam kish Nabi Daud as. Yang disamping seorang Nabi juga seorang raja. Kisah ini direkam dalam Q.S. Shad/38: 21-22

Dan adakah telah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar mihrab? * Ketika mereka masuk menemui Daud, maka ia takut kepada mereka. Mereka berkata: “janganlah takut; (kami adalah) dua pihak yang sedang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat dzalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan Haq dan janganlah engkau pergi terlalu jauh serta tunjukilah kami ke jalan tengah. (Shad/38: 21-22)

Rincian tentang ciri dan karakteristik ajaran Islam yang moderat bukan hanya dibatasi pada poin-poin di atas, namun secara garis besar apa yang telah dipaparkan dapat menjelaskan ciri utama ajaran Islam yang moderat.

 

[1] Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, VI, h. 363

[2] Al-Anbiya’/21: 73 juga dalam al-Isra’/17: 11

[3] Ar-Rūm/30: 54

[4] Quraish Shihab, Tafsir Al-Qur’an al-Karim: Tafsir surah-surah pendek berdasarkan turunnya wahyu, Bandung: Pustaka Hidayah, 1997, h. 92

[5] Quraish Shihab, Tafsir Al-Qur’an al-Karim, h. 90

[6] Sayyid Quthb, Fi  Dzilal al-Qur’an, op. cit., II, h. 101.

[7] Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, VI, h. 363

[8] Ali al-Shabuni , Mukhta¡ar Tafsir Ibn Kasir, op. cit., Jilid I, h. 232.

[9] Dalam kaitan itulah dalam ayat yang lain, Q.S. al-Kahf/18: 6, Allah swt berfirman :

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

Artinya: Maka (apakah) barangkali engkau akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini?” Ayat yang senada juga dijelaskan dalam Q.S. Fâthir/35: 8: فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka”

[10] Ali al-Shabuni, Mukhtashar, op. cit., I, 447.

[11] Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, III, h. 39; Ulama tafsir ini juga mengutip pandangan bahwa surat al-Nis±’ dikemukakan dalam konteks kewajiban berlaku adil terhadap diri sendiri, kedua orang tua dan kerabat, sehingga wajar jika kata al-qisth yang didahulukan, sedang dalam ayat al-Maidah di atas dikemukakan dalam konteks permusuhan dan kebencian, sehingga yang perlu lebih dahulukan  diingatkan adalahkeharusan melaksanakan segala sesuatu demi karena Allah, karena hal ini yang akan lebih mendorong untuk meninggalkan permusuhan dan kebencian.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.