TUJUAN KISAH DALAM AL-QUR’AN

TUJUAN KISAH DALAM AL-QUR’AN

TUJUAN KISAH DALAM AL-QUR’AN

Oleh: Ali Nurdin

 

Salah satu pola komunikasi yang digunakan Al-Qur’an adalah dengan kisah. Kata kisah terambil dari bahasa Arab qishah yang terserap ke dalam bahasa Indonesia. Kata qishah terambil dari kata qassa yang pada awalnya mengandung arti mengikuti jejak. Dari makna inilah kemudian qishah  diartikan sebagai upaya mengikuti jejak peristiwa yang benar-benar terjadi atau imajinatif, sesuai dengan urutan kejadiannya dan dengan jalan menceritakannya.[i]

Dari pengertian di atas jelaslah mengapa Al-Qur’an banyak menggunakan kisah sebagai pilihan pola komunikasinya. Pola ini dinilai efektif untuk dapat menyampaikan nilai-nilai kebenaran yang hendak ditanamkan oleh Allah melalui Al-Qur’an. Kisah dalam Al-Qur’an adalah sesuatu yang faktual bukan fiktif. Demikian pendapat mayoritas ulama. Di antara argumennya adalah surah an-Nisa’/4: 87

 

… Siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah? (QS. an-Nisa’ [4]: 87).

Penggalan ayat tersebut diberikan penjelasannya oleh Quraish Shihab dengan menyatakan bahwa Allah yang paling benar ucapannya, karena makhluk –katakanlah manusia dapat menyampaikan satu berita yang menurut pengetahuannya benar, tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. Dalam hal tersebut manusia sudah dapat dikatakan berkata benar tetapi belum sepenuhnya benar. Hal ini berbeda dengan berita atau kisah yang disampaikan oleh Allah. Berita atau kisah tersebut pastilah benar, bukan saja dalam pengetahuan-Nya, tetapi juga dalam kenyataan. Boleh jadi manusia menyampaikan satu berita yang benar dalam kenyataan dan pengetahuannya, tetapi berita itu tidak menyeluruh atau boleh jadi juga tidak  mencakup segala apa yang terjadi. Itu karena pengetahuan manusia terbatas. Inilah yang menjadi  pembeda utama berita/kisah yang bersumber dari Allah maupun yang bersumber dari manusia.[ii]

Dalam ayat yang lain secara tegas Allah Swt.  menyatakan bahwa: “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yusuf [12]: 111).

Di antara kisah yang disebutkan Al-Qur’an ada kisah yang disebut sebagai sebaik-baik kisah yaitu kisah Nabi Yusuf, as. Seperti yang disebut dalam surah Yusuf/12: 3

Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui. (QS. Yusuf [12]: 3).

Perbedaan Kisah dalam Al Qur’an dengan Buku Sejarah

Al-Qur’an yang memuat kisah tersebut tidak dapat disimpulkan sebagai kitab sejarah dalam pengertian yang dipahami oleh para sejarawan. Kesimpulan ini didasarkan atas beberapa perbedaan dalam pemaparan kisah dalam Al-Qur’an dengan apa yang dipaparkan oleh para sejarawan, di antaranya adalah:

  1. Al-Qur’an terkadang mengesampingkan unsur-unsur penting sebuah peristiwa sejarah, maka sering tidak ditemukan dalam pemaparan kisah-kisah Al-Qur’an tentang waktu, tempat dan nama pelaku peristiwa. Bahkan tidak ditemukan satu pun dalam kisah Al-Qur’an waktu kejadian peristiwa tersebut secara pasti. Adapun tempat kejadian, dalam kisah tertentu diterangkan dengan jelas.[iii]
  2. Al-Qur’an sering menonjolkan beberapa potong saja dari suatu peristiwa dan tidak menceritakannya dengan tuntas. Misalnya ketika menceritakan suatu kejadian yang menimpa orang-orang tertentu atau kaum tertentu hanya diceritakan bagian tertentu saja yang dinilai dapat berfungsi sebagai mediator penyampaian pesan khusus yang menjadi tujuan utama diceritakannya kisah tersebut. Atas dasar itulah maka Al-Qur’an juga sering menceritakan lebih dari satu kisah yang bertujuan sama dalam satu waktu.[iv]
  3. Al-Qur’an sering menceritakan satu kisah dalam dua versi pendeskripsian. Di satu tempat kisah-kisah tersebut disandarkan kepada para pelaku tertentu namun di tempat lain pelaku-pelaku tersebut diganti dengan pelaku-pelaku baru. Sebagai contoh dapat dikemukakan dalam kisah Fir’aun bersama para pemuka dan juga tukang sihirnya seperti yang direkam dalam surah al-A’raf/7: 109: “Pemuka-pemuka kaum Fir‘aun berkata, “Orang ini benar-benar pesihir yang pandai”, dalam surah asy-Syu’ara’/26: 34 pelaku tersebut kemudian diganti: “Dia (Fir‘aun) berkata kepada para pemuka di sekelilingnya, “Sesungguhnya dia (Musa) ini pasti seorang pesihir yang pandai,”
  4. Dalam kisah-kisah Al-Qur’an yang diulang sering dijumpai karakteristik atau kondisi jiwa pelakunya berbeda, padahal masih dalam kejadian yang sama. Misalnya ketika Al-Qur’an menggambarkan sikap Allah Swt. kepada nabi Musa ketika melihat api. Dalam surah an-Naml/27: 8 Allah berfirman: “Maka ketika dia tiba di sana (tempat api itu), dia diseru, “Telah diberkahi orang-orang yang berada di dekat api, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.”

Tujuan Kisah dalam Al-Qur’an

Di antara tujuan yang hendak dicapai dalam penggunaan pola komunikasi berupa kisah dalam Al Qur’an antara lain:

    1.Meringankan beban jiwa yang dialami oleh Rasul

Respon dan sikap orang-orang musyrik dalam menanggapi dakwah Nabi Saw. terkadang  sangat menyakitkan. Terutama sikap mereka yang menolak mentah-mentah ajaran yang beliau bawa. Hal ini diungkapkan dalam surah al-Hijr/15: 97

Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, (QS. al-Hijr [15]: 97)

Dalam surah yang lain al-An’am/6: 33 Allah Swt. berfirman:

Sungguh, Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu (Muhammad), (janganlah bersedih hati) karena sebenarnya mereka bukan mendustakan engkau, tetapi orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah .(Qs. al-An’am [6]: 33).

Dalam menjelaskan ayat al-An’am tersebut Imam ath-Thabari dalam tafsirnya meriwayatkan bahwa ketika terjadi perang Badr, salah seorang pemuka kaum musyrik yakni al-Akhnas bin Syuraiq berkata kepada bani Zuhrah, “Muhammad adalah salah seorang keluarga kalian, dan kalian paling berhak membelanya, jika dia seorang Nabi, maka tidak wajar kalian memeranginya, dan jika dia berbohong kalian yang paling wajar membela keluarga. Tunggulah sebentar sampai sampai aku bertemu  dengan Abu al-Hakam (Abu Jahal) agar kalau Muhammad menang kalian dapat kembali dengan selamat, dan kalau dia kalah, kalian pun akan selamat.” Al-Akhnas kemudian bertemu dengan Abu Jahal lalu bertanya, “Wahai Abu al-Hakam beritahulah pendapatmu tentang Muhammad, apakah dia benar atau bohong? Tidak ada seorang pun selain engkau dan aku di sini sehingga tidak ada yang mendengar percakapan kita.” Abu Jahal menjawab, “Alangkah aneh pertanyaanmu. Demi Allah, Muhammad adalah seorang yang benar, Muhammad tidak pernah berbohong, tetapi kalau anak cucu Qushai (leluhur Nabi Muhammad) telah mendapat kehormatan kenabian, maka tidak tersisa lagi satu kehormatan untuk suku Quraisy lainnya”. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Jahal berkata kepada Nabi Muhammad Saw., “Kami tidak mencurigaimu, tetapi kami mencurigai apa yang kamu sampaikan.”[v]

Pengaruh ucapan orang-orang musyrik tersebut begitu kuat dalam diri Nabi Saw. sebab ancaman orang-orang kafir musyrik tersebut sering melampaui batas. Agaknya ucapan bahkan ancaman orang-orang musyrik itulah yang membuat Nabi Saw. bersama pengikutnya sangat sedih. Untuk menguatkan hati Nabi Saw. bersama para sahabat tersebut Allah Swt. berfirman dalam surah Yunus/10: 94

            Maka jika engkau (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang yang membaca kitab sebelummu. Sungguh, telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang yang ragu. (QS. Yunus [10]: 94).

Atas situasi psikologis yang dialami oleh Rasulullah Saw. tersebut di kesempatan lain Allah menurunkan firman-Nya dalam surah al-Qalam/68: 48-49

 

            Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih. Sekiranya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, pastilah dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.(QS. al-Qalam [68]: 48-49)

Ayat-ayat lain yang senada di antaranya dalam surah al-Kahf/18: 6, juga dalam surah Hud/11: 120. Ayat-ayat tersebut memperlihatkan bahwa salah satu tujuan utama disampaikannya kisa-kisah adalah meringankan beban yang dialami oleh Rasulullah Saw. dalam medan dakwah. Secara lebih gamblang Allah berfirman dalam surah Hud/11: 120

 

Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat dan peringatan bagi orang yang beriman.(QS. Hud [11]: 120)

Mengomentari ayat di atas Quraish Shihab menjelaskan bahwa dengan kisah-kisah itu Rasulullah Saw. akan bertambah yakin bahwa apa yang beliau alami tidak berbeda dengan apa yang dialami oleh para nabi sebelumnya, karena seperti itulah sunnatullah yang berlaku bagi seluruh nabi dan kaum mereka. Ini pada gilirannya akan mengantar beliau lebih bersabar menghadapi ganngguan, dan akan semakin yakin bahwa pada akhirnya sukses akan beliau raih karena Allah Swt. selalu menyertai dan akan menolong para rasul-Nya.[vi]

Hal yang sama juga disebut dalam surah Yusuf/12: 111

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yusuf [12]: 111).

Demikian juga dalam surah al-Qasas/28: 3-6

Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir‘aun dengan sebenarnya untuk orang-orang yang beriman. Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadi­kan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir‘aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi dan Kami perlihatkan kepada Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya apa yang selalu mereka takutkan dari mereka.( QS. al-Qasas [28]: 3-6)

Kisah-kisah dalam al-Qur’an yang bertujuan untuk meringankan beban Nabi Saw. dalam dakwah cukup banyak di antaranya adalah kisah Nabi Musa dalam surah Taha/20 1-9, demikian juga kisah Nabi  Nuh dalam surah Nuh, dan beberapa kisah lainnya.

   2. Menguatkan keimanan dan keyakinan terhadap aqidah Islam serta mengobarkan semangat berkorban baik jiwa maupun raga di jalan Allah.

Maksud disampaikannya kisah tersebut terutama adalah untuk menempa jiwa agar istiqomah di jalan dakwah dengan menjauhi aneka perilaku buruk yang pernah dilakukan oleh kaum para nabi terdahulu. Di antara perilaku buruk yang ditunjukkan Al-Qur’an antara lain:

1) Perilaku-perilaku moral  yang menyimpang yang pernah dilakukan oleh kaum para nabi terdahulu di antaranya kaum Luth yang berlaku amoral juga kaum Syu’aib yang melakukan kecurangan dalam transaksi ekonomi.

Hal ini dijelaskan dalam surah al-Qamar/54: 4-5

Dan sungguh, telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat ancaman (terhadap kekafiran), (itulah) suatu hikmah yang sempurna, tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka), (QS. al-Qamar [54]: 4-5).

2) Iblis dan syetan sebagai musuh utama yang harus dijauhi. Kisah tentang permusuhan Iblis dan Adam  yang disebut dalam beberapa surat dapat menjelaskan poin ini. Di antaranya adalah dalam surah Thaha/20: 118-120, demikian juga dalam surah al-A’raf/7: 11-27. Dari apa yang dipaparkan Al-Qur’an tentang kisah permusuhan Iblis dengan Adam dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap larangan yang diturunkan oleh Allah Swt. pasti mengandung hikmah yang besar. Maka apabila larangan tersebut dilanggar maka akibat buruk akan menimpanya. Dari kisah ini diharapkan setiap yang membaca dan merenungkannya dapat mengambil manfaat betapa pentingnya menjauhi godaan syetan dan istiqamah dalam memelihara kesucian jiwa.

3) Sifat lain yang harus dijauhi manusia adalah sifat sombong. Kisah yang tepat untuk menjelaskan tentang hal ini adalah kisah Fir’aun. Apabila seseorang ingin mengetahui bagaimana kesudahan orang berperilaku sombong maka dapat membaca dengan seksama bagaimana kisah Fir’aun ketika berhadapan dengan dakwah Nabi Musa, as. Kisah ini diulang di beberapa surah di antaranya adalah dalam surah Yunus/10: 75-92 surah al-A’raf/7: 103-136 dan lain-lain.

4) Perilaku lain yang harus dijauhi adalah Syirk. Dan inilah yang menjadi misi utama diutusnya para rasul yaitu agar manusia menjauhi sifat syirk. Kisah yang paling baik untuk melukiskan tentang hal ini adalah kisah kaum Nabi Ibrahim, seperti yang dijelaskan dalam surah  al-An’am/6: 74-79, juga dalam surah asy-Syu’ara’/26: 69-104.

Pemaparan Al-Qur’an tentang kisah Nabi Ibrahim sarat akan petunjuk bagi manusia dalam berbagai dimensi. Ini menjadi bukti betapa efektifnya pola komunikasi menggunakan kisah bagi keberhasilan dakwah. Di antara poin-poin penting yang dapat digarisbawahi dari kisah Nabi Ibrahim adalah:

a) Dimensi Teologis; Kondisi sosial keagamaan kaum Nabi Ibrahim yang menyembah berhala menjadi ladang dakwah utama beliau. Kisah Nabi Ibrahim menggambarkan  bagaimana beliau merespon terhadap keyakinan kaumnya pada saat itu. Pendekatan yang dibawanya sungguh sederhana namun mendasar sehingga langsung dapat meruntuhkan keyakinan kaumnya yang memang jelas rapuh. Hal ini dapat dilihat dalam surah al-Anbiya’/21: 52-57

b) Dimensi Kosmologis; Argumen yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dalam kisahnya berhadapan dengan kaumnya bersifat kosmologis. Yaitu Nabi Ibrahim menggiring kaumnya untuk melihat fenomena alam sebagai tanda (ayatayat ) tentang ke-Esaan Allah. Hal ini berbeda dengan argument metafisik yang mungkin bagi kaum Nabi Ibrahim sulit diterima. Surah al-An’am/6: 74-79 menggambarkan hal ini dengan sempurna.

c). Dimensi Eskatologis; Dalam kisah Nabi Ibrahim juga disinggung dimensi yang berkaitan dengan masalah keimanan kepada kehidupan setelah mati, hari kebangkitan dan hari pembalasan. Dalam hal ini yang menjadi penekanan kisah adalah tentang kesadaran akan datangnya suatu hari yang penuh keadilan sebagai wujud janji Allah untuk memberi pahala kepada setiap orang yang beriman dan beramal salih dan sebaliknya akan memberikan  siksa kepada setiap orang yang durhaka kepada Tuhan. Yang menarik dimensi eskatologis dalam kisah Ibrahim selalu diletakkan pada bagian akhir kisah.[vii] Pemaparan ini dapat dilihat dalam surah Maryam/19: 44-45 dan surah asy-Syu’ara’/26: 77-82.

    3. Membuktikan kerasulan Nabi Muhammad Saw., dan kebenaran wahyu yang dibawanya

Persamaan antara wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw. dengan para nabi sebelumnya adalah dari segi sumber dan substansi ajaran. Bukan mutlak persamaan dalam segala hal. Wahyu yang diterima oleh para nabi bersumber dari Allah Swt. demikian juga yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw. Substansi ajaran yang disampaikan para nabi adalah Tauhid, demikian juga yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

Dalam surah asy-Syura/42: 13 Allah berfirman:

Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya). (QS. asy-Syura [42]: 13).

[i] Quraish Shihab, al-Mishbah, VI, 381.

[ii] Quraish Shihab, al-Mishbah, II, 518

[iii] Muhammad Ahmad Khalafullah, Al-Fann al-Qashash fil Qur’an al-Karim¸, diterjemahkan oleh Zuhairi Misrawi “al-Qur’an bukan kitab sejarah”, Jakarta: Paramadina, 2002, h. 47, selanjutnya disebut Khalafullah

[iv] Muhammad Ahmad Khalafullah, Al-Fann al-Qashash fil Qur’an al-Karim¸ h. 48

[v] Ibn Jarir ath-Thabari, Jami al-Bayan, 11/330

[vi] Quraish Shihab, al-Mishbah, VI/368

[vii] Muhbib Abdul Wahhab, Kontekstualisasi Metode Dakwah Nabi Ibrahim, Makalah dalam Jurnal PTIQ, Mei 2009

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.