HARTA KEKAYAAN MENURUT AL QUR’AN

HARTA KEKAYAAN MENURUT AL QUR’AN

HARTA KEKAYAAN MENURUT AL QUR’AN

Oleh: Ali Nurdin

 

 

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung serta Kami tumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan padanya sumber-sumber kehidupan untuk keperluanmu, dan (Kami ciptakan pula) makhluk-makhluk yang bukan kamu pemberi rezekinya. (QS. al-Hijr [15]: 19-20).

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Allah Swt. telah menyiapkan aneka fasilitas yang terhampar di alam semesta bagi kehidupan manusia. Kekayaan alam tersebut tentu saja belum menjadi sesuatu yang langsung dapat digunakan manusia, melainkan harus diusahakan sampai akhirnya dapat dimanfaatkan manusia.

Indonesia adalah salah satu Negara di dunia dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Namun, apabila dilihat dari Anggaran  Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang menjadi salah satu tolok ukur kemampuan suatu Negara nampaknya belum sebanding dengan kekayaan alam yang dimilikinya. Fakta ini memunculkan pertanyaan ada apa dengan Negara Indonesia. Apa yang keliru dengan pengelolaan sumber daya alam Indonesia.

Uraian kita tidak akan menjawab pertanyaan di atas, karena memang bukan bagian dari fokus tulisan ini. Tulisan ini akan menguraikan bagaimana penjelasan Al-Qur’an tentang sumber daya alam dan hakikat harta.

Aset dan Sumber  Kekayaan

Kehidupan suatu Negara akan dapat berlangsung dengan baik salah satu prasayaratnya adalah memiliki aset dan sumber daya untuk dapat menopang keberlangsungannya. Ukuran-ukuran kemajuan suatu Negara sedikit banyak ditentukan oleh kepemilikan dan pengelolaan terhadap aset dan sumberdayanya. Jenis aset dan sumber kekayaan suatu negara di antaranya adalah;

Sumber Daya Alam

Allah Swt. menciptakan alam semesta dengan segala isinya untuk kepentingan manusia. Di antara ayat-ayat yang menjelaskan hal ini antara lain;

Surah Luqman/31: 20

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (QS. Luqman [31]: 20).

Surah al-Hajj/22: 65

Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menundukkan bagimu (ma-nusia) apa yang ada di bumi dan kapal yang berlayar di lautan dengan perin-tah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit agar tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penya-yang kepada manusia. (QS. al-Hajj [22]: 65).

Surah al-Baqarah/2: 29

Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. al-Baqarah [2]: 29).

Taha/20: 6

 

Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah. (QS. Taha [20]: 6).

 

Sumber Daya Laut

Al Qur’an menyebut paling tidak ada 32 ayat yang membicarakan tentang laut dalam berbagai aspeknya; ada sebagai perumpamaan keluasan ilmu Allah Swt., ada yang menunjukkan kewilayahan dalam aktivitas dan tempat yang mengandung resiko bagi yang ada di dalamnya kecuali dengan pertolongan Allah swt. Dan beberapa ayat yang secara khusus mengisayaratkan untuk pemanfaatannya, demi kemakmuran suatu Negara.

Bukan hanya itu, Keistimewaan Al-Qur’an dalam menguraikan masalah lautan juga terlihat dari perbandingan jumlah ayat. Dalam Al-Qur’an terdapat 32 ayat yang menyebut kata ‘laut’. Sedang kata ‘darat’ terkandung dalam 13 ayat Al-Qur’an. Jika dijumlahkan, keduanya menjadi 45 ayat. Angka 32 itu sama dengan 71,11 persen dari 45. Sedang 13 itu identik dengan 28,22 persen dari 45. Berdasar ilmu hitungan sains, ternyata memang 71,11 persen bumi ini berupa lautan dan 28,88 persen berupa daratan.

Di antara ayat yang berbicara tentang laut antara lain;

Surah al-Baqarah/2: 164

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti. (QS. al-Baqarah [2]: 164)

Sayyid Quthb dalam memberikan tafsirnya pada ayat 164 surat al Baqarah; وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ adalah bahwa kebesaran kapal-kapal yang berlayar di atas laut dengan segala kemegahan dan muatannya tidak ada apa-apanya dibanding dengan kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya.

Surah an-Nahl/16: 14

Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. (QS. an-Nahl [16]: 14).

Ayat ini diberi penjelasan oleh As-Sa’di dengan menyatakan bahwa Allah Swt. sendiri yang menyediakan kebutuhan yang bermacam-macam bagi manusia; dari berbagai jenis ikan, juga kapal-kapal yang berlayar dari satu negeri ke negeri lain dengan membawa barang-barang perdagangan dan para penumpang yang bepergian.

Al-Isra’/17: 66

Tuhanmulah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari karunia-Nya. Sungguh, Dia Maha Penyayang terhadapmu. (QS. Al-Isra’ [17]: 66)

Ar-Rum/30: 46

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan agar kamu merasakan sebagian dari rahmat-Nya dan agar kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) agar kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. (QS. Ar-Rum [30]: 46).

Fatir/35: 12

Dan tidak sama (antara) dua lautan; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari (masing-masing lautan) itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai, dan di sana kamu melihat kapal-kapal berlayar membelah laut agar kamu dapat mencari karunia-Nya dan agar kamu bersyukur. (QS. Fatir [35]: 12).

Manfaat Laut

Pada zaman dahulu (sebelum Islam datang dan masa awal Islam sampai abad pertengahan) fungsi laut adalah sebagai salah satu jalur transportasi yang sangat populer bagi manusia setelah jalur darat, laut memberikan kontribusi yang sangat luas bagi kemakmuran hidup manusia. Ini bisa dimaklumi dikarenakan secara geografis pun komposisi laut jauh lebih besar dari pada daratan. Sehingga manusia senantiasa berusaha dengan segala upaya agar mampu memanfaatkan jalur ini untuk kepentingan perdagangan mereka dan juga kepentingan transportasi laut lainnya.

Sarana Transportasi

Manfaat laut untuk kepentingan transportasi ini sudah dijelaskan dalam firman-Nya di surat al Baqarah ayat 164; وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ   “dan kapal-kapal yang berlayar di lautan dengan membawa apa yang bermanfaat bagi manusia”. Dengan segala bentuk aktivitas para nelayan dan mungkin juga dari angkatan perang yang memanfaatkan jalur ini tentu harus dalam koridor senantiasa untuk melakukan inovasi-inovasi agar lebih maju baik dari segi peralatan dan sarana pendukung agar mampu menundukkan segenap bencana yang ada di laut apakah itu badai, kehilangan arah dan tidak adanya angin yang membuat kapal-kapal konvensional berhenti tidak mampu bergerak, Allah juga berfirman: وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya. Itulah mengapa kita senantiasa dimaklumkan oleh Allah untuk senantisa memikirkan kondisi alam yang demikian menakjubkan ini, di mana semua harapan inovasi ini hanya akan bisa dilakukan bagi mereka yang mau memikirkannya.

Sebagai jalur transportasi laut yang mengantarkan manusia kemana yang dia mau, dari satu negeri ke negeri lain, dari satu pulau ke pulau lain; dengan berbagai kepentingannya apakah sebagai transportasi perang, perdagangan, atau ekspedisi biasa. Hal ini tidak akan bisa ada tanpa rahmat-Nya yang menundukkan kapal-kapal yang berlayar itu dan juga laut dengan segalam gejala alam yang melingkupinya.

Tentu masih banyak lagi uraian tentang aneka sumber daya yang juga menjadi sumber kesenangan hidup bagi manusia. Namun dari itu semua yang lebih penting adalah bagaimana mensyukurinya dengan sebanyak-banyak untuk kemaslahatan manusia.

 

Wallahu a’lam

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.