Prinsip Hukum Islam: Prinsip Tauhid

Prinsip Hukum Islam: Prinsip Tauhid

Prinsip Hukum Islam: Prinsip Tauhid
Oleh: Ali Nurdin

Islam sebagai agama memiliki beberapa prinsip yang harus dipegang teguh oleh pemeluknya. Salah satu prinsip krusial yang terdapat dalam Islam ialah prinsip tauhid. Prinsip ini menjelaskan bahwa seluruh manusia ada di bawah ketetapan yang sama sebagai hamba Allah. Beberapa ayat yang menjelaskan tentang prinsip ini di antaranya adalah :
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS. Al A’raf [7]: 172)
Dari ayat tersebut nampak jelas bahwa seluruh manusia pada awalnya yaitu ketika belum terlahir ke dunia (alam ruh) telah mengakui ke esaan Allah Swt. Maka dalam pandangan Islam pada dasarnya semua manusia mempunyai potensi dan kualitas yang sama yaitu potensi bertauhid di mana hal tersebut pernah dikukuhkan/diakui sebelumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain ayat di atas, ayat berikut juga menjelaskan tentang prinsip tauhid.
“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran [3]: 64)
Berdasarkan prinsip tauhid tersebut, maka pelaksanaan dan pengamalan hukum Islam merupakan suatu ibadah, yaitu penghambaan manusia kepada Allah Swt. Ibadah tersebut merupakan perwujudan pengakuan atas ke-Esaan Allah Swt. Dengan demikian adalah suatu pelanggaran yang dinilai berat oleh Islam apabila ada manusia yang menuhankan sesama makhluk.
Berdasarkan prinsip tauhid tersebut maka sudah semestinya kalau manusia mengikuti dan menetapkan hukum dalam kehidupannya sesuai dengan apa yang digariskan oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya.
Dari prinsip umum tersebut dapat ditarik beberapa prinsip khusus, di antaranya sebagai berikut:
1. prinsip berhubungan langsung dengan Allah Swt. tanpa perantara. Di antara ayat yang menjelaskan hal ini ialah:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah [2]: 186)
2. Beban hukum yang diciptakan oleh Allah bertujuan untuk kemaslahatan hidup manusia, bukan untuk kepentingan Allah Swt. Sehingga Allah Swt. pasti tidak akan membebani hamba-Nya di luar kemampuannya. Seperti Allah jelaskan tentang prinsip ini dalam firman-Nya:
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (QS. Al Israa’ [17]: 7)
Juga dijelaskan dalam ayat lain:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah [2]: 185)
Ayat tersebut ada dalam rangkaian ayat yang menjelaskan tentang puasa Ramadhan, Sehingga dalam urusan ibadah Mahdhah dapat dirumuskan suatu prinsip asas kemudahan atau meniadakan kesulitan.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.