Menuju Masyarakat Khairu Ummah

Menuju Masyarakat Khairu Ummah

Menuju Masyarakat Khairu Ummah

Oleh: Ali Nurdin

Istilah khairu ummah yang berarti umat terbaik atau umat unggul atau masyarakat ideal hanya sekali saja disebut di antara 64 kata ummah dalam Al Qur’an yakni dalam firman Allah berikut:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran [3]: 110)

Abdullah Yusuf ‘Ali, sebagaimana para ahli tafsir pada umumnya, menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan umat pilihan itu adalah kaum muslimin. Dari penafsiran ini timbul pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan kaum muslimin atau umat Islam itu adalah kaum muslimin sepanjang masa atau hanya mereka yang hidup pada zaman Rasulullah Saw.

Penjelasan dari pertanyaan tersebut bisa dimulai dari penjelasan kebahasaan. Kata kuntum yang digunakan dalam ayat di atas ada yang memahaminya sebagai kata kerja yang sempurna sehingga diartikan wujud yakni kamu wujud dalam keadaan sebaik-baik umat. Ada juga yang memahaminya dalam arti kata kerja yang tidak sempurna dan dengan demikian ia mengandung makna wujudnya sesuatu pada masa lampau tanpa diketahui kapan itu terjadi, dan tidak juga mengandung isyarat bahwa dia pernah tidak ada atau suatu ketika akan tiada. Jika demikian, maka ayat ini berarti kamu dahulu dalam ilmu Allah adalah sebaik-baik umat.

Sebenarnya dengan mencermati ayat-ayat di atas, dapat ditarik definisi khaira ummah dengan melihat kriteria yang disebutkan di dalamnya. Kriteria yang disebutkan dalam ayat tersebut di atas adalah pertama, menyuruh kepada ma’ruf. Kedua, mencegah dari yang munkar dan ketiga, beriman kepada Allah. Jika kita memerhatikan ayat itu pula, kita akan mengetahui bahwa Al Qur’an sebenarnya hanya memberikan ciri-ciri yang digambarkan sebagai tugas dari fungsi-fungsi organik masyarakat tersebut, bukannya gambaran konkret tentang wujud masyarakat tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kemudian jika kita mengacu kepada kriteria di atas, maka kita akan mengacu pula kepada sebuah ayat lain dalam surah yang sama, yakni:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3]: 104)

Dari ayat di atas dapat diperoleh kata kunci yang dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan khairu ummah, yaitu pertama, al khair yang secara harfiah diterjemahkan dengan kebajikan. Dalam berbagai ayat Al Qur’an dan hadis, al khair bisa berarti kekayaan atau juga kemakmuran.

Istilah kedua, yang menjadi sangat populer dan sering dijadikan slogan politik adalah apa yang kemudian dirumuskan sebagai amar ma’ruf nahi munkar.  Amar ma’ruf tidak bisa dipisahkan dari nahi munkar. Artinya, dalam perbuatan amar ma’ruf terdapat pengertian mencegah yang munkar. Jika kebaikan ditegakkan maka dengan sendirinya, yang buruk dapat dicegah. Demikian pula sebaliknya, dalam pengertian nahi munkar tercakup pengertian amar ma’ruf, karena mencegah kejahatan adalah termasuk ke dalam perbuatan baik.

Dari sini bisa dipahami, bahwa penjelasan tentang khairu ummah yang dimaksud yaitu kumpulan orang yang memiliki kesamaan budaya. Budaya itu ialah orientasi kepada al khair, memiliki mekanisme amar ma’ruf nahi munkar, aturan tatanan atau pemerintahan yang adil dan beriman kepada Allah.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.