Hubungan Antara Khair Dengan Ma’ruf

Hubungan Antara Khair Dengan Ma’ruf

Hubungan Antara Khair Dengan Ma’ruf

Oleh: Ali Nurdin

 

Al Qur’an surah Ali Imran ayat 104 menyebut khair dengan ma’ruf dalam satu rangkaian kata.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”

Para mufassir berbeda pendapat ketika menafsirkan ayat ini. Sayyid Qutub, misalnya, berpendapat bahwa penggunaan dua kata yang berbeda itu menunjukkan keharusan adanya dua kelompok masyarakat Islam. Kelompok pertama yang bertugas mengajak dan kelompok kedua yang bertugas memerintah dan melarang. Kelompok kedua ini tentulah memiliki kekuasaan di bumi. Jika untuk melakukan seruan dapat dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kekuasaan. Sementara untuk amar ma’ruf dan nahi munkar tidak mungkin dilakukan kecuali oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan.

Aturan Allah di bumi ini bukan semata-mata nasihat, bimbingan dan penjelasan. Ini adalah satu sisi. Sedangkan sisi lainnya adalah tegaknya kekuasaan perintah dan larangan untuk merealisasikan yang ma’ruf dan memberantas kemungkaran dari kehidupan manusia.

Sayyid Qutub dalam menjelaskan ayat tersebut khususnya yang berkaitan dengan al khair dan al ma’ruf  terlihat mempersamakan antara keduanya. Padahal dalam pandangan para ulama Al Qur’an tidak ada dua kata yang berbeda, walau sama akar katanya kecuali mengandung pula perbedaan maknanya.

Ibnu Katsir mengutip pendapat Abu Ja’far al Baqir memberi arti al Khair dalam ayat tersebut dengan “mengikuti Al Qur’an dan Sunnahku”. Ini semakna dengan pengertian yang diberikan oleh Jalaluddin al Mahalli dan Jalaluddin al Suyuti yang memberikan makna istilah tersebut dengan al Islam. Dengan demikian al Khair dalam ayat ini dapat diartikan sebagai nilai universal yang diajarkan oleh Al Qur’an dan Sunnah.

 

 

 

 

 

 

 

 

Sementara al-Ma’ruf sebagaimana telah dijelaskan di atas mengandung pengertian sebagai sesuatu yang baik dan pantas menurut pandangan umum satu masyarakat. Karena sifat masyarakat yang dinamis dan terus berkembang termasuk di dalamnya nilai-nilai dan pandangan hidupnya, maka harus ada koridor yang jelas bagi nilai yang terkandung dalam al ma’ruf. Batasan tersebut tidak lain adalah  al khair. Dengan demikian, sejauh apa pun perbedaan yang terjadi sepanjang masih dalam koridor al khair  maka kesepakatan tentang nilai-nilai tersebut dapat dikatakan al ma’ruf.

Yang cukup menarik untuk dicermati adalah frasa (يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ) “mengajak kepada khair”. Sementara untuk al ma’ruf  digunakan redaksi (وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ) “memerintahkan kepada yang ma’ruf”. Karena al khair  adalah nilai-nilai universal yang ditetapkan oleh Allah dalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, maka dalam aplikasinya tidak boleh dipaksakan, hanya sebatas mengajak. Kode etika seperti ini lebih dipertegas dalam QS. Al Nahl/16: 125:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ayat ini dipahami oleh sementara ulama sebagai penjelasan tiga macam metode dakwah yang harus disesuaikan dengan objek dakwah. Terhadap kelompok cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi diperintahkan menyampaikan dakwah dengan hikmah yaitu dalam bentuk dialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Terhadap kelompok awam diperintahkan untuk menerapkan mau’izhah yaitu memberikan nasihat dan gambaran yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Sedangkan terhadap ahl al kitab dan penganut agama-agama lain yang diperintahkan adalah jidal, perdebatan dengan cara terbaik.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.