Menanamkan Sifat Shiddiq

Menanamkan Sifat Shiddiq

Menanamkan Sifat Shiddiq

Oleh: Ali Nurdin

Kita tahu bahwa kriteria pertama dari seorang pemimpin haruslah memiliki sifat jujur, yang mengindikasikan seseorang yang memiliki integritas dalam bentuknya yang sangat nyata adalah pikiran dan ucapannya selalu benar, demikian halnya dengan tindakan. Jadi, ada kesamaan antara apa yang dia pikirkan, ia ucapkan dan ia lakukan itu singkron.

Coba kita bayangkan kalau seseorang yang mendapat amanat untuk memegang kekuasaan politik tetapi antara ucapan dan tindakan berbeda apalagi dengan yang dia pikirkan, sehingga ada istilah lain di mulut lain di hati. Bayangkan lagi itu terjadi dalam masyarakat yang masih kental pola paternalistiknya (yaitu peran pemimpin politik masih begitu dominan bagi warganya), seperti Indonesia, maka pemimpin tersebut tentu tidak dapat menjalankan tugas kepemimpinannya dengan baik. Karena rakyat tidak akan mau melaksanakannya apa yang dia perintahkan melihat sikapnya tersebut. Di sisi lain bagi yang selalu berkata benar tentu akan mudah mendapatkan apresiasi dari rakyat yang dipimpinnya.

Maka bagi orang yang memiliki sifat selalu shiddiq ini Al Qur’an memujinya sebagai orang-orang yang memperoleh nikmat yang tinggi dari Allah Swt. dan disandingkan dengan para nabi. Hal ini ditegaskan dalam surah an Nisaa ayat 69 berikut:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Artinya: “Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An Nisa’ [4]: 69)

Dari ayat di atas kita lihat khususnya di bagian terjemah shiddiqin, yaitu orang-orang yang selalu berpikir, berkata dan bertindak benar. Maka wajar dalam deretan secara berurutan kelompok orang yang selalu berkata benar hanya setingkat lebih bawah dari para nabi yang memang mendapatkan posisi yang mulia karena kemuliaan akhlaknya.

Hal ini juga dapat kita tarik kesimpulan bahwa untuk menjadi pemegang kekuasaan politik terlebih dalam sistem yang kurang baik, menjadi orang yang selalu berpikir, berkata dan bertindak benar bukanlah suatu yang mudah dan tanpa risiko. Namun demikian bagi yang bersedia melaksanakannya tentu membutuhkan tekad yang kuat agar kepemimpinan politik yang ada di pundaknya dapat membawa maslahat bagi yang dipimpinannya.

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.