Urgensi Tolong Menolong

Urgensi Tolong Menolong

Urgensi Tolong Menolong

Oleh: Ali Nurdin

Manusia adalah makhluk sosial, tidak mungkin seseorang dapat bertahan hidup sendirian tanpa bantuan pihak lain. Coba Anda bayangkan bagaimana besarnya sifat ketergantungan manusia kepada pihak lain. Saya akan bantu Anda dengan membuat contoh yaitu; manusia sejak masih berwujud janin dia tergantung kepada ibunya, bahkan ini dalam arti yang sebenarnya yaitu bergantung di rahim ibunya. Ketika sudah dalam bentuk bayi yang sempurna dan masih tinggal di rahim ibu juga butuh bantuan orang lain. Setelah lahir tidak ada bayi manusia yang langsung mandiri, pasti juga membutuhkan bantuan pihak lain, yaitu orang-orang di sekelilingnya khususnya keua orang tuanya. Demikian juga ketika menginjak usia anak-anak bahkan setelah dewasa dan berumah tangga sekalipun, manusia tetap membutuhkan bantuan orang lain.

Dari contoh di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa tolong-menolong adalah prinsip utama dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Kita dapat bayangkan seandainya satu komunitas sudah luntur nilai saling menolong maka cepat atau lambat masyarakat tersebut pasti akan hancur. Dari sinilah kita dapat memahami ajaran Al Qur’an yang menganjurkan untuk saling menolong dalam kebaikan. Hal ini ditegaskan dalam surah Al Maaidah:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: “… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maaidah [5]: 2)

Ayat tersebut secara jelas memerintahkan kepada manusia untuk bekerja sama dalam hal-hal yang baik demi untuk kebaikan bersama. Dan melarang secara tegas bekerja sama atau tolong menolong dalam perbuatan dosa dan keburukan. Dan di akhir ayat Allah Swt. sudah memeringatkan apabila sesama manusia lebih-lebih yang ada dalam satu ikatan komunitas kebangsaan jika tidak mau saling menolong maka yang terjadi adalah kehancuran yang diisyaratkan dalam ayat tersebut sebagai azab yang pedih.

 

Maka sungguh tepat apa yang dipaparkan oleh Al Qur’an bahwa manusia tidak akan pernah rugi selama mereka masih mau menegakkan nilai-nilai saling menolong di samping juga beriman dan beramal shalih. Secara jelas ditegaskan dalam surah Al ‘Ashr:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Artinya: 1. Demi masa.

  1. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
  2. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al ‘Ashr [103]: 1-3)

Saya percaya Anda sudah tahu bahkan hafal surah tersebut. Pada bagian akhir surah tersebut jelas sekali menyatakan bahwa manusia tidak akan rugi berarti dia beruntung apabila mau melakukan aktivitas saling mengingatkan dalam hal kebenaran dan kesabaran. Sekali lagi tentu di samping beriman dan beramal shalih. Sungguh tepat komentar yang disampaikan oleh Imam Syafi’i tentang surah tersebut: “Seandainya Al Qur’an itu turun hanya satu surah tersebut (al ‘Ashr), itu sudah cukup.”

Tentu itu hanya sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa pentingnya di samping beriman dan beramal shalih adalah sikap saling menasihati sebagai perwujudan sikap saling menolong. Pada gilirannya hal tersebut tentu akan memperkokoh bangunan kehidupan sosial dalam masyarakat dan bangsa.

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.