Memahami Makna “Ummatun Muqtashidah”

Memahami Makna “Ummatun Muqtashidah”

Memahami Makna “Ummatun Muqtashidah”

Oleh: Ali Nurdin

Dalam Al Qur’an, ungkapan “Ummatun Muqtashidah” hanya disebut sekali yaitu pada Surah al Maidah ayat 66.

وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ

Artinya: “Dan Sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan, dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.” (QS. Al Maidah [5]: 66)

Ungkapan ummatun muqtashidah dalam ayat ini diartikan dengan kelompok pertengahan yaitu mereka adalah segolongan kelompok yang berlaku pertengahan dalam melakukan agamanya, tidak berlebihan juga tidak melalaikan. Pada awalnya ayat di atas adalah menunjuk kepada sekelompok dari kaum Yahudi dan juga Nasrani. Dari kelompok inilah yang kemudian dapat menerima dakwah Nabi Muhammad Saw. Sebagai contoh dari kelompok Yahudi antara lain Abdullah bin Salam, sedangkan dari golongan Nasrani seperti al Najasyi.

Sebagai bukti bahwa sebagian ahlul kitab itu berlaku pertengahan dan adil seperti tersebut dalam ayat di atas dijelaskan pula dalam ayat lain berikut ini:

وَمِنْ قَوْمِ مُوسَى أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ

Artinya: “Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak Itulah mereka menjalankan keadilan.” (QS. Al A’raf [7]: 159)

Masyarakat yang diidealkan oleh Al Qur’an –yang boleh jadi itu juga terdapat pada kelompok ummat sebelum Al Qur’an diturunkan- adalah sebuah masyarakat yang dalam sifatnya berada pada posisi pertengahan di antara dua kutub yang ekstrim. Beberapa teks Al Qur’an yang menyebutkan hal ini antara lain:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

Artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al Furqon [25]: 67)

 

Dalam ayat tersebut sifat pertengahan diisyaratkan dengan term qawaman, yang juga berarti adil dan moderat. Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa sebagai anggota masyarakat, seorang muslim harus dapat bersifat benar terhadap harta yang dianugerahkan Allah. Tidak boleh bersikap boros dan tidak boleh juga besikap menahan harta tersebut atau bersikap bakhil sehingga mengorbankan kepentingan pribadi, keluarga atau anggota masyarakat lain yang membutuhkan.

Moderasi tersebut berlaku dalam kondisi normal. Tetapi apabila situasi menghendaki penafkahan seluruh harta maka moderasi tersebut tidak berlaku. Itu berarti apabila seorang muslim menafkahkan seluruh harta atau sebagiannya di jalan Allah di saat dibutuhkan, maka bukan berarti pemborosan. Seperti terjadi pada masa Rasulullah yang dilakukan oleh sahabat Abu Bakar yang menafkahkan seluruh hartanya dan Utsman yang menafkahkan setengah hartanya.

 

 

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.