“Keseimbangan” Sebagai Dimensi Keadilan

“Keseimbangan” Sebagai Dimensi Keadilan

“Keseimbangan” Sebagai Dimensi Keadilan

Oleh: Ali Nurdin

Adil dalam konteks ini tidak mengharuskan kesamaan di antara masing-masing unsur, namun yang terpenting adalah bahwa terjadi keseimbangan meskipun kadarnya berbeda. Keseimbangan tersebut diperlukan untuk tercapainya suatu tujuan yang telah ditetapkan. Ayat yang menginformasikan hal ini antara lain:

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ  #  الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ

Artinya: “Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. # yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” (QS. Al Infithar [82]: 6-7)

Dalam ayat tersebut diinformasikan kepada manusia bahwa salah satu sifat kemuliaan Alllah Swt. adalah telah menciptakan (tubuh) manusia yang secara ke seluruhan mengikuti prinsip-prinsip keseimbangan. Dengan prinsip-prinsip tersebut manusia mencapai susunan yang sempurna. Pengertian ini juga terdapat dalam ayat berikut:

وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya: “Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang benar. Itulah yang lebih utama bagimu dan lebih bagi akibatnya.  (QS. Al Isra’ [17]: 35)

Kata al-qisthas yang dalam ayat tersebut dirangkai dengan kata al mustaqim, ada yang memahaminya dalam arti neraca timbangan sebagaimana dalam terjemahan di atas. Namun, ada juga yang mengartikan adil. Kata ini menurut Ibn Mujahid merupakan kata serapan dari bahasa Romawi yang masuk beralkulturasi dalam perbendaharaan bahasa Arab yang digunakan Al Qur’an. Sebenarnya kedua makna yang dikemukakan di atas dapat dipertemukan dengan pertimbangan bahwa untuk mewujudkan keadiilan maka diperlukan tolak ukur yang pasti yaitu timbangan, dan sebaliknya apabila penggunaan timbangan itu dilakukan secara baik dan benar pasti akan melahirkan keadilan.

Keseimbangan sebagai salah satu dimensi keadilan tidak hanya berlaku bagi manusia, namun juga bagi alam raya beserta ekosistemnya. Hal ini diisyaratkan oleh Allah dalam ayat berikut:

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ

Artinya: “(Allah) yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al Mulk [67]: 3)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keseimbangan dalam konteks ini jelas berbeda dengan kesamaan, sehingga tidak dibutuhkan sama sekali kesamaan untuk dapat mencapai keseimbangan.catatan ini perlu diberikan mengingat banyak petunjuk Al Qur’an yang terkesan membedakan satu dengan yang lain, yang kemudian oleh sementara orang secara sembrono dikatakan bahwa Al Qur’an tidak menganut prinsip keadilan. Sebagai contoh adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal waris maupun dalam persaksian. Dalam hal ini keadilan harus diartikan sebagai keseimbangan bukan kesamaan.

Pemahaman seperti ini akan menghantarkan kepada keyakinan bahwa segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. adalah adil karena Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu. Hal ini antara lain diisyaratkan dalam ayat berikut:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Artinya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya.” (QS. Al Qamar [54]: 49)

 

 

 

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.