Adil Versus Zalim

Adil Versus Zalim

Adil Versus Zalim

Oleh: Ali Nurdin

Keadilan dalam konteks ini biasa juga diberi arti dengan “menempatkan segala sesuatu pada tempatnya atau memberikan setiap hak kepada pemiliknya.” Untuk mengurai dimensi keadilan yang merupakan lawan dari kezaliman yang disebut oleh Al Qur’an bukanlah perkara yang mudah. Salah satu alasannya adalah bahwa kata ini dengan segala perubahannya terulang cukup banyak dalam Al Qur’an yaitu sebanyak 315 kali. Mengingat frekuensi penyebutan kata zalim yang cukup banyak maka di bawah ini akan dikemukakan beberapa contoh saja yang diharapkan dapat memberikan penjelasan makna zalim sebagai salah satu makna ketidakadilan.

Misalnya, kata dhalama yang disebut dalam ayat berikut mengandung makna sebuah keyakinan yang keliru menyangkut akidah:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, Sesungguhnya kamu telah Menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; Maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah [2]: 54)

Yang dimaksud dengan telah menganiaya dirimu sendiri dalam ayat tersebut adalah penyembahan terhadap anak sapi yang dilakukan oleh Bani Israil, ketika mereka ditinggalkan oleh Nabi Musa as. Bani Israil dipasrahkan kepada saudaranya yaitu Nabi Harus as. Dalam realitasnya, Nabi Harun as. tidak kuasa mencegah perbuatan Bani Israil tersebut yaitu menyembah anak sapi. Perbuatan tersebut dimotori oleh seorang tokoh yang bernama Samiriy. Kisah ini antara lain disebutkan dalam QS. Thoha/20: 85-98.

Jadi yang dimaksud dengan men-zalimi diri sendiri dalam ayat tersebut adalah kemusyrikan. Beberapa ayat yang lain juga menegaskan tentang hal serupa, bahkan dalam QS. Luqman/31: 13, ditegaskan bahwa kemusyrikan adalah kezaliman yang paling besar.

Kezaliman yang disebut Al Qur’an tidak terbatas dalam soal aqidah. Dalam pemakaiannya secara umum lebih kepada makna pelanggaran hak atau tidak memberikan hak kepada pemiliknya. Dalam konteks ini pulalah ayat-ayat Al Qur’an juga menjelaskan bahwa Allah Swt. tidak men-zalimi sedikitpun hamba-hamba-Nya, dalam ayat berikut secara tegas Allah menyatakan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS. An Nisa’ [4]: 40)

Pemahaman terhadap ayat di atas dan juga ayat-ayat lain yang semakna akan menghantarkan kepada keyakinan akan keadilan Allah Swt. terhadap hamba-Nya. Bahwa sekecil apapun perbuatan baik manusia akan mendapatkan pahala di sisi Allah, bahkan pahala tersebut berlipat ganda. Hal ini berbeda dengan keadilan yang berlaku bagi manusia yang biasanya diartikan dengan memberikan sepadan dari yang dia terima atau kewajiban yang dilakukan oleh manusia akan berimplikasi kepada hak yang sebanding dengan kewajibannya yang akan diterima.

Pemahaman seperti ini juga akan menghantarkan kepada keyakinan bahwa apa pun yang telah diputuskan oleh Allah Swt. pada dasarnya adalah demi kebaikan manusia. Perhatikan ayat berikut:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ

Artinya: “Dialah yang membuat segala sesuatu dengan sebaik-baiknya.” (QS. As Sajdah [32]: 7)

Kalau ada keburukan maka keburukan tersebut berasal dari manusia. Ayat berikut menegaskan hal ini:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Artinya: “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An Nisa’ [4]: 79)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada keputusan dan ketetapan Allah yang jelek meskipun terkadang manusia sulit memahaminya. Maka manusia harus selalu berprasangka baik kepada Allah, karena Allah telah menegaskan dalam ayat ini:

 

 وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyenangi sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui dan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]: 216)

Bahwa perintah untuk menegakkan keadilan dan menghilangkan kezaliman adalah sebuah keniscayaan dalam hidup bermasyarakat, terlebih bagi orang-orang yang beriman. Sikap adil ini lebih dekat kepada taqwa. Hal ini diisyaratkan secara jelas dalam ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah [5]: 8)

Wallahu a’lam bish showab.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.