Karakter Muslim Berbudaya Akademik

Karakter Muslim Berbudaya Akademik

>>> Karakter Muslim Berbudaya Akademik <<<
Oleh: Ali Nurdin

Ayat pokok yang menjelaskan hal adalah Ali Imran/3: 190-191:
إِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّأُولِى الْأَلْبَابِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,

اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

Dalam ayat tersebut seorang muslim yang memiliki karakter berbudaya akademik disebut dengan istilah ulul albab yang secara kebahasaan mengandung arti “orang-orang yang memiliki akal yang murni”. Dalam ayat tersebut jelas dinyatakan bahwa mereka memiliki paling tidak dua karakter yaitu:

1. Orang yang selalu mengingat Allah Swt. dalam keadaan berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring.
2. Mereka selalu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.

Dari dua karakter tersebut dapat ditarik beberapa pelajaran di antaranya adalah; pertama, karakter orang yang memiliki budaya akademik dalam pandangan al Qur’an adalah orang yang mampu mengoptimalkan kemampuan spiritualnya untuk selalu ingat kepada Allah Swt. dalam setiap keadaan. Dalam ayat tersebut dijelaskan dengan ungkapan “selalu mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring”.

Keadaan manusia hanya terdiri dari tiga keadaan; kalau tidak berdiri mungkin duduk kalau tidak keduanya pasti berbaring. Dan sebagai bukti dari aktivitas zikir tersebut adalah kemampuannya untuk menggunakan pikirannya secara maksimal untuk memikirkan semua ciptaan Allah yang tergelar di alam semesta.

Kedua, ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah Swt. yang ada di alam raya ini hanya akan dapat ditangkap oleh orang-orang yang maau mencurahkan akal dan pikirannya dan disertai dengan kebersihan hati untuk selalu mengingat Allah Swt. Kalau ada orang yang mampu memikirikan ciptaan Allah tetapi tanpa disertai usaha mengingat Allah Swt. maka tidak akan menghasilkan sikap budaya akademik yang diidealkan oleh Islam. Al Qur’an mengajarkan untuk selalu mengaitkan aktivitas berpikir ilmiah yang kita lakukan dengan usaha untuk selalu mengingat Allah Swt.

Dari usaha tersebut maka lahirlah sebuah kesadaran yang tulus untuk mengakui betapa agungnya Allah Swt. dan betapa lemahnya manusia di hadapat ke Mahakuasaan Allah Swt. ekspresi seperti ini diungkapkan dalam lanjutan ayat di surat Ali Imran/3: 192:

رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهٗۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang yang zalim.

Hal ini bukan berarti Allah Swt. akan semena-mena memasukkan orang ke dalam siksa neraka, karena kalau itu terjadi akan berlawanan dengan sifat Allah Swt. yang Maha Rahman dan Maha Rahim.

Pernyataan dalam doa tersebut lebih sebagai bentuk ekspresi sikap seorang hamba yang mengakui bahwa telah banyak angerah yang diberikan oleh Allah Swt. tapi ternyata tidak menjadikan manusia sadar akan jati dirinya yang hanya juga sebagai ciptaan (hamba), maka doa tersebut adalah pengakuan kalau pada akhirnya ada orang yang masuk neraka itu karena semata-mata sikap orang tersebut yang tidak mau menggunakan akalnya secara benar atau tidak mau mengikuti tradisi akademik yang diajarkan Allah Swt. Sehingga konsekuensinya adalah siksa di neraka.

Karakter ketiga orang yang berbudaya akademik disebutkan dalam surat Az Zumar/39: 18:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.

Dari ayat tersebut jelas terbaca bahwa karakter orang yang memiliki budaya akademik yang baik adalah orang yang secara sungguh-sungguh dan konsisten selalu mau mau mendengarkan hal-hal atau informasi yang baik. Kemudian dari sekian banyak informasi baik yang mereka terima kemudian dipilihlah informasi terbaik dan kemudian dengan sepenuh hati melaksanakan informasi tersebut.

Informasi terbaik menurut ayat tersebut bukan tanpa kriteria. Kriteria yang dijadikan pegangan adalah petunjuk Allah Swt. dan Rasul-Nya serta berdasarkan logika yang lurus dan hati nurani yang bersih. Mereka itulah yang dalam ayat tersebut kemudia juga disebut dengan ulul albab.

Namun demikian, seorang muslim meskipun telah memperoleh kemampuan tersebut tetap bersikap rendah hati dengan mengakui bahwa perolehan tersebut merupakan semata-mata karunia dan petunjuk Allah Swt.

Hal ini diisyaratkan dalam ayat di atas dengan redaksi “mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk”. Petunjuk tersebut tentu hanya akan diperoleh bagi yang bersungguh-sungguh ingin meraihnya.

Orang yang tidak pernah berikhtiar untuk meraih petunjuk maka jangan pernah berharap dapat memperoleh petunjuk. Di sini bertemu antara anugerah Allah yang Maha Memberi petunjuk dengan usaha manusia yang ingin meraih petunjuk.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.