Musuh Terbesar Manusia

Musuh Terbesar Manusia

Musuh Terbesar Manusia

Oleh: Ali Nurdin

Manusia adalah makhluk yang dianugerahi oleh Allah dua potensi. Allah jelaskan hal tersebut dalam firman-Nya pada surah ke 91 (asy-Syams) ayat ke 8:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”

Allah ilhamkan dalam jiwa manusia potensi keburukan dan kebaikan.

Dorongan keburukan ini yang kemudian disebut dengan istilah hawa nafsu. Maka, pertarungan antara hawa nafsu dengan sisi-sisi baik dalam diri manusia adalah sepanjang hayat kita.

Dari penjelasan ini, kita tahu bahwa seseorang yang dapat mengendalikan hawa nafsu dengan baik maka, insya Allah, dia akan lulus dalam ujian. Namun, poin penting kita bukan di situ. Memahami cara kerja nafsu kita, sisi buruk diri kita, dalam menjerumuskan manusia untuk berbuat buruk, itu penting.

Allah tegaskan dalam surah ke 12 (Yusuf) ayat ke 53:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

Sesungguhnya nafsu manusia, jiwa manusia cenderung mendorong pada hal-hal yang buruk.

Kita ambil contoh, ketika kita sudah berbuat baik maka nafsu kita akan mendukung, akan terus meninggikan kita, maka jatuhlah kita pada kesombongan.

Karena itu, Allah berpesan; fa laa tuzakkuu anfusakum, jangan menganggap dirimu suci. Karena yang tahu siapa di antara kita yang bertakwa hanya Allah.

Contoh lagi, bagaimana orang bisa terjerumus jatuh ke dalam jalan yang salah padahal dia sudah berusaha melakukan kebaikan. Maka, dalam lanjuta penggalan ayat pada surah Yusuf di atas dikatakan, illa maa rahima rabbi, kecuali jiwa yang mendapat rahmat dari Allah Swt.

Sebab itu, kalau ada ungkapan yang mengatakan bahwa yang memahami dirinya akan memahami Tuhannya, man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, itu tidak salah dan merupakan sesuatu yang penting, suatu hal yang wajar adanya. Karena sebetulnya, peperangan atau pertarungan sisi buruk dan sisi baik dalam diri manusia adalah sepanjang hayat kita.

Jangan mencari kambing hitam di luar diri kita karena sebenarnya masalah terbesar dalam hidup kita adalah diri kita sendiri.

Seseorang yang sudah selesai dengan masalahnya dan istiqamah dalam kebaikan, insya Allah, inilah yang lurus dalam hidupnya. Sebaliknya, yang belum selesai dengan hidupnya, yang belum berdamai dengan dirinya, teruslah berjuang dan jangan putus asa karena Allah akan selalu memberi petunjuk kepada setiap orang yang bersungguh-sungguh untuk menempuh jalannya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“yang bersungguh-sungguh ingin menempuh jalan-Ku, pasti Aku akan beri petunjuk.” (QS. Al-Ankabut [29]: 69).

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.