MENCINTAI ALLAH

MENCINTAI ALLAH

MENCINTAI ALLAH

Mencintai Allah SWT direfleksikan atau direalisasikan dalam bentuk ibadah kepada Allah SWT. ada beberapa bentuk model ibadah yaitu seperti model ibadah pedagang, dengan prinsip mencari untung yang banyak, tetapi dengan modal (uang) yang sedikit.

Ibadah model pedagang biasanya orang melakukan amal ibadah kepada Allah SWT yang bernilai pahala banyak, tetapi dengan aktivitas ritual ibadah yang sedikit.

Ada juga ibadah model pegawai. Ibadah model pegawai ialah ibadah yang dilakukan dengan prinsip atasan dan bawahan, bawahan melakukan pekerjaan karena karena rasa takut kepada atasan. Model ibadah seperti ini ialah seperti orang yang mengerjakan shalat tepat waktu karena memiliki anggapan bahwa jika dilakukan dengan terlambat atau telat, pasti masuk neraka, sehingga ia berusaha untuk beribadah tidak terlambat. Itulah gambaran ibadah model pegawai.

Seharusnya seorang muslim beribadah kepada Allah SWT dengan model ibadah semata-mata karena Allah SWT. Dengan model seperti ini, maka bentuk ekspresi ibadah hanya untuk Allah SWT.

Kenapa kita harus mencintai Allah? Paling tidak ada tiga alasan, yaitu :

Pertama, segala sesuatu milik Allah SWT. Misal ada pohon. Mengapa kita suka pohon? karena di pohon ada keteduhan, maka kita mencintai pohon itu. Untuk itu kita mencintai Allah SWT karena Dia Sang Pemilik. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُّحِيْطًا ࣖ

“Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan (pengetahuan) Allah meliputi segala sesuatu.”  (QS. An-Nisa’ [4]: 126)

Ayat ini menjelaskan bahwa segala sesuatu kepunyaan dan milik Allah SWT, Dzat yang Maha Pemilik dan Pencipta (Al-Khaliq). Jika kita menghitung-hitung nikmat Allah SWT, maka tidak akan sanggup untuk menghitungnya, karena begitu banyak nikmat Allah SWT yang diberikan kepada manusia. Ibadah merupakan bentuk syukur atas karunia Allah yang tak terhitung itu.

Kedua, Allah SWT memberi segala kebutuhan manusia. Ia memberikan segala kebutuhan manusia, tetapi bukan segala keinginan, sebab kalau keinginan manusia tidak ada batasnya apalagi terhadap dunia. Manusia akan semakin haus untuk memilikinya, kecuali orang-orang yang selalu bersyukur pasti hidupnya bahagia. Dalam penggalan kalimat terakhir surah Ibrahim ayat 34, Allah menyatakan:

اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ ࣖ

“Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

(QS. Ibrahim [14]: 34)

 

Jika manusia berbuat zalim sebenarnya ia berbuat zalim dan ingkar kepada dirinya sendiri begitu juga sebaliknya manakala manusia berbuat kebaikan (ketaatan kepada Allah SWT), maka itupun untuk dirinya sendiri, bukan untuk Allah SWT. Orang-orang yang selalu berbuat kebaikan sangat sedikit jumlahnya, dan sebaliknya banyak orang melakukan kezaliman kepada dirinya sendiri.

 

Ketiga, Allah SWT selalu berbuat baik kepada makhluk-Nya. Dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 70 Allah SWT berfirman:

۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra [17]: 70)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna, bahkan malaikat di bawah manusia. Malaikat berbuat baik karena sudah tabiatnya, yaitu tabiat untuk selalu berbuat kebaikan.  Berbeda dengan manusia, manusia harus bekerja dengan keras untuk mengalahkan tabiat jahatnya. Derajat malaikat di bawah manusia kalau manusia bisa berbuat baik. Sebaliknya, kalau manusia berbuat buruk atau kejahatan maka derajatnya di bawah binatang.

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.