KHASYYAH

KHASYYAH

KHASYYAH

Kata takut dalam Al-Qur’an, antara lain, dinyatakan dengan khasyyah dan khauf. Khasyyah salah satu ciri orang yang cerdas yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Khasyyah adalah rasa takut kepada Allah SWT yang disertai dengan keagungan kepada-Nya.

Sedangkan khauf adalah rasa takut kepada Allah SWT yang disertai dengan rasa khawatir akan adzab Allah SWT yang akan ditimpakan kepada kita (seorang hamba).

Allah berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُوْنَ سُوْۤءَ الْحِسَابِ ۗ

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.(QS. Ar-Ra’d [13]: 21)

Dalam korelasinya dengan ungkapan Khasyyah seperti yang disebut dalam Al-Qur’an di atas, ada empat ciri khasyyah, yaitu :

Pertama, berhati-hati dalam lisan. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

وَاِذْ اَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۗ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْكُمْ وَاَنْتُمْ مُّعْرِضُوْنَ

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.(QS. Al-Baqarah [2]: 83)

Ayat di atas memerintahkan untuk berbicara dengan ungkapan yang baik kepada orang lain. Karena itu, ucapkanlah kata-kata yang baik, dengan menjaga lisan untuk berkata atau bicara yang baik. Mengapa diperintahkan untuk berkata-kata yang baik ? Karena semua yang diucapkan itu akan dicatat oleh malaikat.

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. Qaaf [50]:18).

Dari kedua ayat tersebut diatas Surah Al-Baqarah ayat 83 dan Surah Qaaf ayat 18, maka kita harus hati-hati dalam berkata-kata atau berbicara yang kemudian diposting di media sosial (medsos).

Orang yang memiliki rasa khasyyah akan berhati-hati dalam berkata-kata atau berbicara, sebab setan akan ikut nimbrung. Kalau pembicaraan tidak diiringi denga rasa khasyyah maka setan akan menebar persilihan dalam masyarakat melaui pembicaraan itu. Perhatikan firman Allah berikut:

وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.(QS. Al-Isra’[17]: 53)

Lisan adalah cerminan hati, ucapan yang baik itu adalah cermin keimanan kita kepada Allah SWT. Karena itu, Rasulullah mengingatkan kita:                                                                                  “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari-Muslim)

 

Kedua, berhati-hati dalam urusan harta. Mengapa harus berhati-hati dalam urusan harta? Karena harta itu bagi manusia adalah cobaan yang paling besar, masalah hidup akan mengerucut dalam masalah harta, sukses dan tidak sukses biasanya diukur dengan harta.

Allah SWT berfirman:

زُيِّنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُوْنَ مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ۘ وَالَّذِيْنَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ وَاللّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang yang kafir, dan mereka menghina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari Kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. (QS. Al-Baqarah [2]: 212).

Dalam masalah harta Allah SWT akan memberikan rezeki tanpa membedakan orang beriman dan orang kafir. Kaya cobaan, tidak kaya juga cobaan.

Ketiga, berhati-hati dalam pendengaran dan penglihatan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

 

قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.(QS. An-Nur [24]: 30)

Dalam ayat 31 di surah yang sama juga dikatakan:
وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat.”

Dari dua ayat diatas, perintah untuk menjaga pandangan ditujukan kepada laki-laki yang beriman dan wanita yang beriman. Hal ini untuk menghindari perselisihan antara laki-laki dan wanita mengenai perintah menjaga pandangan. Orang yang memiliki rasa khasyyah akan senantiasa menjaga pandangannya dari hal-hal yang maksiat.

Keempat, pandai menjaga hati. Tindakan manusia dipengaruhi oleh hati, idealnya orang yang dzikir untuk menghayati tindakan hati.  Karena itu, kita diajarkan doa agar diberi keteguhan hati dalam ketaatan, “Allahumma ya mushorrifal quluub shorrif  quluubanaa ‘ala tho’atik”
“Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!”

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.