MANAJEMEN STRES

MANAJEMEN STRES

MANAJEMEN STRES

Para ahli mendifinisikan stres adalah keinginan dan kenyataan yang tidak sama, maka akan timbul stres. Stres ada yang positif dan ada juga yang negatif. Stres yang positif, jika kita menginginkan sesuatu, maka kita terpacu untuk meraih sesuatu tersebut, dan sebaliknya stres yang negatif, jika kita menginginkan sesuatu tersebut, kita tidak terpacu untuk meraih sesuatu tersebut.

Supaya kita terhindar dari stres, maka kita diperintahkan untuk berdoa dalam  menghadapi kesedihan, kelemahan, kemalasan, takut, kikir, banyak hutang dan penindasan. Adapun bacaan doa terhindar dari stress, yaitu :

Allaahumma innii a’uudzu bika minal hammi wal hazani wa a’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasali wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhli wa a’uudzu bika min ghalabatid dayni wa qahrir rijaali.  Artinya : “Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari kemurungan dan kesusahan (kesedihan), aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung pada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung pada-Mu dari tekanan utang dan paksaan orang lain” (HR. Al-Bukhari)

Dari bacaan doa tersebut di atas kita ketahui sifat negatif yang dapat memicu stres. Di antara pemicu stres itu ialah: Pertama, hamm; kemurungan. Kemurungan itu bersumber dari pikiran yang negatif. Karena itu, cara mengubah diri yaitu dengan mengubah hati dan pikiran. Bila pikiran kita negatif, maka yang diperoleh adalah hal-hal yang negatif. Sebaliknya, bila pikiran kita positif, maka yang diperoleh juga hal-hal yang positif. Berpikir yang positif dalam Islam dikenal dengan istilah berprasangka baik (husnuzhan). Jika husnuzhon ditanamkan dalam hati dan pikiran maka akan diperoleh hal-hal yang baik juga.

Kedua, hazan ; kesedihan. Sedih yang berlebihan tidak baik. Semua yang berlebihan tentu tidak baik. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT:

۞ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”  (QS. Al-A’raf [7]: 31)

Dalam ayat ini, makan dan minum dilarang untuk berlebihan. Sedihpun seperti itu. Sedih tidak dilarang, yang dilarang adalah sedih yang berlebihan sampai meratap.

Rasulullah juga pernah sedih tatkala putranya meninggal. Orangtua juga akan sedih manakala anaknya meninggal dunia. Maka dalam agama, agar tidak terlalu sedih, harus mengikuti petunjuk dan perintah Allah SWT.

قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًا ۚ فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]: 38)

Ketiga, ajzi; lemah. Lemah atau kurang semangat dalam hidup bisa memicu stres. Al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 9 Allah Subhanahu Wa Ta‟ala berfirman.

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa’ [4]: 9)

 

Dalam ayat ini, orangtua harus khawatir, khawatir meninggalkan anak-anak yang lemah atau generasi yang lemah. Agar anak tidak lemah, kuncinya adalah bertakwa dan jujur (berkata jujur). Dalam ayat ini disebutkan, generasi yang lemah, lemah dalam arti lemah iman bukan lemah dalam arti fisik (badan-jasmani). Hal-hal yang terbaik buat anak adalah pendidikan Islam.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.