MAKNA SYUKUR

MAKNA SYUKUR

MAKNA SYUKUR

Iblis menggoda manusia dalam rangka untuk tidak bersyukur. Iblis menggoda dan mendatangi manusia dari depan dan belakang, serta dari kanan dan kiri, Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an mengkonfirmasi hal ini:

ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ
“Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf [7]: 17)

Iblis pasti disebut dalam bentuk tunggal, berbeda dengan syaitan disebut kadang disebut dalam bentuk jamak (plural). Jadi, syaitan adalah anak buah Iblis. Kenapa Iblis selalu menggoda manusia untuk tidak bersyukur? Sebab kalau manusia tidak bersyukur, hidupnya tidak bahagia, tidak tentram. Kalau manusia sedih pasti digoda oleh syaitan.

Karena itu, dalam bersyukur paling tidak ada tiga hal yang perlu dilakukan. Ini sering disebut dengan rukun bersyukur.

Pertama, Syukur dalam hati. Meyakini semua karunia datangnya dari Allah SWT, yaitu milik-Nya. Manusia yang diberi karunia wajib bersyukur kepada-Nya. Dengan bersyukur pada hakikatnya manusia bersyukur untuk dirinya sendiri. Al-Qur’an dengan jelas menerangkan dalam ayat berikut:
قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ
“Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.” (QS. An-Naml [27]: 40)

Nabi Sulaiman AS beryukur kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan oleh-Nya karena bisa berbicara dengan hewan. Ia tidak mengingkari semua karunia itu datangnya dari Allah SWT.

Berbeda dengan Qarun, yang dianugerahkan oleh Allah SWT dengan anugerah luar biasa berupa harta. Namun, Qarun tidak mensyukuri harta itu bahkan mengingkari semua itu datangnya dari Allah SWT.

Al-Qur’an menceritakan bahwa akhirnya Qarun dibinasakan karena ia beranggapan bahwa yang membuat Qarun memiliki harta begitu banyak karena ilmu yang dimiliki oleh dirinya.
Kita harus menyadari bahwa keberhasilan yang kita peroleh bukan karena ilmu semata, tetapi ada peran Allah SWT di situ. Inilah makna syukur dalam hati.

Kedua, Mengucapkan dalam lisan. Bersyukur dengan lisan, yaitu dengan mengucapkan hamdalah (Alhamdulillahirobbil ‘alamin). Ucapkan “terima kasih” jika kita menerima nikmat dan karunia dari saudara kita. Jadi kewajiban yang menerima nikmat dan karunia adalah dengan mengucapkan “terima kasih”.
Ketiga, Menggunakan nikmat sesuai dengan tempatnya. Maksudnya ialah bersyukur dalam perbuatan, seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an ayat berikut, Allah SWT berfirman:
يَعْمَلُوْنَ لَهٗ مَا يَشَاۤءُ مِنْ مَّحَارِيْبَ وَتَمَاثِيْلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُوْرٍ رّٰسِيٰتٍۗ اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا ۗوَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’ [34]: 13)

Syukur dengan perbuatan, dengan cara bekerja. Tidak bermalas-malasan, atau tidak mau bekerja. Dengan tidak bekerja justru manusia bisa sakit, karena kondisi fisik manusia tidak dioptimalkan untuk bekerja sehingga bisa sakit.

Kita berdoa agar senantiasa diberi kemampuan untuk bersyukur kepada Allah SWT, sebagaimana Al-Qur’an mengajarkan melalui doa Nabi Sulaiman:
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ
“Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. An-Naml [27]: 19)

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.