JANGAN TUNDA UNTUK BERBAHAGIA

JANGAN TUNDA UNTUK BERBAHAGIA

JANGAN TUNDA UNTUK BERBAHAGIA

Oleh: Ali Nurdin
Jangan tunda untuk berbahagia. Mau bahagia menunggu kredit KPR lunas dulu, atau menunggu anak lulus sekolah dulu dan sebagainya. Padahal kebahagiaan merupakan pilihan bukan ketetapan dari Allah SWT. Kalau kebahagian merupakan pilihan, maka hak setiap orang untuk meraih kebahagiaan. Indikator orang yang bahagia dalam rangka untuk meraih kebahagiaan terdapat dalam ayat Al-Qur’an berikut:
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰىۗ
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat.” (QS. al-A’la [87]: 14-15)
Dari ayat di atas, indikator orang yang bahagia adalah: Pertama, menyucikan diri sendiri. Modal pertama untuk meraih bahagia adalah menyucikan diri yaitu dengan cara berpikiran positif. Cara berpikir kita harus diubah, yaitu mengubah diri sendiri sehingga tidak menyalahkan orang lain. Berpikir positif adalah gratis, tinggal kita untuk memilihnya.
Kedua, mengingat nama tuhan. Dalam ayat ini tidak menggunakan redaksi “menyebut Tuhan”, tetapi “mengingat nama Tuhan” atau nama Allah SWT, di mana nama-nama-Nya berjumlah sembilan puluh sembilan nama atau yang sering dikenal dengan “asma’ul husna”. Nama yang disebut oleh manusia pasti ada nilai kebaikan, maka perintah ayat ini tidak berputus asa untuk selalu ingat kepad-Nya.
Ia Maha Memudahkan, maka kalau manusia mempunyai masalah (problem) dalam hal rezeki, maka yakinlah bahwa Allah yang memberi rezeki sebab Ia Maha Pemberi rezeki, tetapi manusia tetap harus ikhtiar (berusaha) dengan usaha yang maksimal. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
“Hai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah [2]: 153)
Seruan dalam ayat ini menggunakan “Hai orang-orang yang beriman” bukan “Hai manusia”. Orang beriman senantiasa melibatkan hati dalam setiap langkahnya, sehingga setiap kegiatannya akan bernilai ibadah. Sabar untuk melakukan hal-hal yang baik, sehingga kebaikan itu sebagai penolong bagi orang yang beriman, ikhtiar atau berusaha dengan maksimal dan tawakal. Tawakal adalah pekerjaan hati, sedangkan ikhtiar adalah pekerjaan pikiran (akal). Pertolongan Allah SWT akan datang dengan usaha yang sungguh-sungguh (maksimal).
Kalau kita lihat angka bunuh diri dari tahun ke tahun semakin meningkat, hal ini disebabkan faktor ekonomi. Karena itu, dalam ayat di atas sebut nama Tuhan, apa artinya? Yakin kepada Allah SWT. Kalau ada masalah (problem) yang menimpa diri kita, tentu pikiran (akal) kita yang bermasalah.
Jaminan ketiga agar orang bahagia dalam ayat di atas ialah doa atau ibadah. Orang yang berusaha dengan maksimal untuk mencapai keinginannya kemudian diikuti dengan doa sebagai bentuk kepasrahan kepada Allah itulah yang akan meraih kebahagiaan.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.