MEMETIK HIKMAH TAHUN BARU

MEMETIK HIKMAH TAHUN BARU

MEMETIK HIKMAH TAHUN BARU

Oleh: Ali Nurdin

Pergantian tahun terjadi setiap tahun. Dengan pergantian tahun banyak orang yang kreatif, seperti membuat kalender yang banyak tanggal merah, dan menawarkan bisnis kalender. Bagaimana sebenarnya fenomena pergantian tahun baru? Arti penting dari pergantian tahun adalah tentang pentingnya waktu. Allah SWT telah bersumpah demi waktu, misalnya, dalam firman-Nya:

وَٱلْعَصْرِ -إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ -إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. al-‘Asr [103]: 1-3)

Kehidupan manusia akan semakin tua, jika manusia tidak memanfaatkan waktu maka akan merugi. Dengan totalitas memanfaatkan waktu yang ada, manusia juga akan tetap merugi kecuali orang-orang yang beriman. Sementara iman perlu pembuktian dalam bentuk amal shaleh. Apa itu amal shaleh? Yaitu segala bentuk yang bermanfaat itu amal shaleh, segala hal yang membawa manfaat itu bentuk amal shaleh. Jadi, jika tidak ada iman, manusia tetap merugi.

Watawaashau bilhaq watawaashau bishobr, saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran, saling menasehati dalam kebaikan, saling silaturahim. Silaturahim kepada yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Ziarah kubur sebagai bentuk silaturahim kita kepada orang yang telah berpulang.

Ayat di atas juga mempunyai hikmah tentang sabar, sabar dalam memberikan nasehat. Karena itu, dengan tahun baru seorang muslim, bisa membuat resolusi, “bertambah sabar”.

Tentang pentingnya waktu, Rasulullah juga telah menasihati, jagalah lima hal sebelum datang yang 5 lima: sehat sebelum sakit, masih sehat gunakan yang bermanfaat. Muda sebelum tua. Kaya sebelum miskin, lebih utama dalam kaya hati. Kemudian lapang sebelum sempit, dan terakhir hidup sebelum mati.

Pentingnya waktu itu seperti air, akan berubah terus, ada hari senin, selasa dan sampai hari ahad. Hari senin kemarin dan hari senin yang akan datang pasti berbeda. Bagaimana agar hidup tidak merugi menurut Al-Qur’an? Hidup di dunia adalah sementara, sementara hidup di akhirat adalah hidup yang sempurna. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (QS. al-‘Ankabut [29]: 64). Jangan sampai dunia dijadikan tempat yang sempurna.

Kemanapun kita pergi, maka akan kembali ke Allah, karena rumah sebenarnya ada di surga, di akhirat. Untuk mencapai surga kita diperintahkan bersegera atau cepat untuk menuju ampunan Allah SWT.

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali Imran [3]: 133). Redaksi yang sama terdapat di dalam ayat lain:

سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (QS. Al-Hadid [57]: 21).

Dalam urusan akhirat, cepat dalam arti berkolaborasi untuk meraih ampunan Allah dan surga, bekerjasama untuk saling menguatkan dan saling memberikan nasehat bukan kompetisi untuk saling menjatuhkan apalagi saling mengkafirkan.

Makna terpenting dari segera menuju ampunan Allah ialah di antaranya dengan shalat. Al-Qur’an menjelaskan tentang ini dalam ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum´at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. Al-Jumuah [62]: 9).

Dari ayat di atas, perintah shalat, menggunakan perintah untuk bersegera. Namun, perintah untuk mencari dunia menggunakan perintah berjalan untuk mencari karunia Allah SWT. Perhatikan ayat berikut:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (QS. Al-Mulk [67]: 15).

Redaksi yang lain tentang rezeki Allah SWT juga firmankan:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah [62]: 10).

Jangan sampai manusia stress karena mencari akhirat dengan santai tetapi untuk mencari dunia dengan semangat. Seharusnya terbalik, spirit mencari dunia jangan ngotot, karena karunia Allah SWT sudah ditetapkan. Di dalam Al-Qur’an Allah SWT menjelaskan:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Yunus [10]: 107).

Dari ayat di atas, segala kebaikan, rezeki, dan juga segala kelapangan telah ada, sehingga tidak akan kemana-mana. Jika karunia itu bukan bagian kita maka memang sudah ditakdirkan.
Manusia disuruh untuk ikhtiar, hasilnya diserahkan kepada Allah SWT. Allah SWT menerangkan hal ini dalam firman-Nya:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. At-Taubah : 105).

Karena itu, tahun baru buatlah resolusi agar kita bisa istiqamah dalam kebaikan, berakhlak baik, bertambahnya ketaatan kepada Allah SWT, lebih dekat kepada-Nya, dengan harapan semoga kita dipertemukan di akhirat di surga. aamiin.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.