REVISI TERJEMAH AL-QUR’AN

REVISI TERJEMAH AL-QUR’AN

REVISI TERJEMAH AL-QUR’AN

Oleh: Ali Nurdin

Kali ini kita akan berbicara tentang seputar Al-Qur’an dan terjemahnya. Allah Swt. di surah 15 (Al-Hijr) ayat 9, berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sungguh kami yang telah menurunkan Al-Qur’an dan Kami lah yang akan selalu menjaganya.” Itu adalah penegasan bahwa Al-Qur’an yang kita miliki itu akan terus dijaga otentisitasnya sampai hari kiamat. Namun, berbeda dengan terjemah dan tafsirnya, keduanya akan mengalami perubahan, perbaikan, dan penyempurnaan, itu hal yang wajar.

Al-Qur’an dan Terjemah Kementerian Agama versi yang telah disempurnakan dan direvisi terbit tahun 2019 lalu. Ini perlu kami sampaikan karena ada sementara masyarakat kita yang menganggap terjemahan itu adalah Al-Qur’an. Tidak. Itu keliru. Terjemah bukan Al-Qur’an. Tafsir bukan Al-Qur’an. Tapi terjemah adalah usaha dari manusia untuk memahami Al-Qur’an. Usaha untuk memahami firman-firman Allah dalam Al-Qur’an yang kemudian menghasilkan satu bentuk pemahaman yang dituangkan dalam bentuk sebuah karya baik berupa terjemah, tafsir, dan seterusnya bukanlah Al-Qur’an.

Maka, jangan pernah mensakralkan terjemahan Al-Qur’an. Al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah yang jelas tidak akan berubah, sampai hari kiamat tidak akan berubah. Tapi terjemah dan juga tafsirnya akan terus mengalami update, penyempurnaan dari para ulama kita, itu hal yang wajar. Sekiranya ada perbedaan dalam penerjemahan, perbedaan dalam penafsiran, sepanjang perbedaan itu terjadi akibat pemahaman dari para ahlinya maka kita harus saling toleran dan menghormatinya. Karena itu hal yang wajar dan selalu akan ada di sepanjang masa.

Tetaplah kita terus mencintai Al-Qur’an, menghormati Al-Qur’an, memuliakan Al-Qur’an dengan cara yang tepat dan proporsional. Yaitu apa? Dengan terus berusaha mempelajarinya, mengkajinya, dan yang terpenting adalah mengamalkannya. Boleh kita belajar melalui terjemah, dan seharusnya juga kita membaca tafsiran ayat yang kita pelajari dari kitab tafsir. Namun, jangan menganggap bahwa karya itu, tafsir dan terjemah yang ada pada kita adalah suatu yang tidak boleh untuk diubah, sesuatu yang tidak boleh berbeda. Itu kurang tepat. Kita bersikap bijak dan proporsional ketika menyikapi terjemahan dan penafsiran yang berbeda karena itu adalah hasil ijitihad dari para ulama kita.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.