BISA KARENA BIASA DAN BIASA KARENA DIPAKSA?

BISA KARENA BIASA DAN BIASA KARENA DIPAKSA?

 

BISA KARENA BIASA DAN BIASA KARENA DIPAKSA?

Ali Nurdin

Pembelajar dari Tangerang Selatan

Koordinator cariustadz.id

 

Tulisan ini bagian dari ikhtiar untuk urun rembug atas SKB tiga menteri yang diprotes bapak-bapak MUI tentang penggunaan pakaian seragam dan atribut bagi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan  sekolah yang diselenggarakan PEMDA.

MUI menyatakan bahwa; memang usia sekolah itu perlu dipaksa melakukan yang baik dari perintah agama karena untuk pembiasaan pelajar. (Republika.co.id 5/2/21).

Benarkah yang disampaikan MUI?

Apakah itu satu satunya pendekatan dalam mengajarkan dan  menanamkan perintah agama kepada peserta didik di level pendidikan dasar dan menengah. Mungkin MUI mengikuti pepatah dalam judul di atas: BISA KARENA BIASA DAN BIASA KARENA DIPAKSA.

Nampaknya bapak-bapak MUI terburu-buru mengambil kesimpulan sehingga meminta SKB tersebut untuk dicabut. Terlihat yang dipersoalkan bukan substansi melainkan pendekatannya. Baik MUI maupun SKB memiliki kesamaan spirit untuk memberikan pendidikan karakter yang baik untuk anak-anak bangsa. Perbedaannya pada pendekatannya.

MUI dengan pendekatan memaksa sehingga peserta didik harus diwajibkan untuk menanamkan ajaran agama. Sedangkan spirit SKB adalah menanamkan dan mengajarkan nilai dan perintah  agama dengan kesadaran. Harapannya adalah itu akan jauh lebih efektif dan merefleksikan semangat belajar merdeka.

Para ahli pendidikan sudah lama mendiskusikan hal ini dan ini hampir mirip dengan masalah ujian nasional. Diadakannya ujian nasional sebagai penentu kelulusan didasari pada asumsi bahwa anak itu malas maka  harus dipaksa untuk belajar agar lulus ujian.

Nah, demikian juga dengan asumsi bapak MUI pelajar umumnya kurang semangat menjalankan perintah agama maka harus dipaksa dan diwajibkan oleh sekolah. Pendekatan pemaksaan ini jelas bertolak belakang dengan cita-cita membangun karakter anak bangsa yang baik,  yang diyakini itu tidak bisa  dengan pemaksaan.

Generasi melenial yang bercirikan berpikiran terbuka dengan derasnya informasi harus diajarkan dengan pendekatan kesadaran. Anak anak didik kita bukan obyek melainkan juga subyek pendidikan. Mereka harus kita dorong untuk terus belajar mengembangkan diri dan membentuk karakter yang baik dengan penuh kesadaran, bukan dengan pemaksaan.

Kalam akhir, kalau toh ada perbedaan pendekatan semestinya bapak-bapak  MUI tidak terburu-buru meminta SKB  untuk dicabut, tetapi duduk bersama dengan bapak-bapak mentri yang membuat SKB tersebut. Itu cara yang elegan dan menunjukkan niat dan karakter yang baik dalam menyelesaikan masalah.

Salam.

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.