MAKNA ALHAMDULILLAH

MAKNA ALHAMDULILLAH

MAKNA ALHAMDULILLAH

Oleh: Ali Nurdin

Kali ini kita akan membahas tentang ucapan yang sering kita lontarkan ketika, misalnya, mendapat nikmat, yaitu kalimat “Alhamdulillah”. Ketika kita ditanya kabar, biasanya akan menjawab dengan iringan kalimat ini.

Apa sebenarnya makna kalimat ini? Ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah di mana bunyinya ialah ucapkanlah “Alhamdulillah” dengan memuji Allah yang telah memberi nikmat sehingga sempurnalah kebaikan itu. Dan juga ucapkanlah “Alhamdulillah” dalam setiap keadaan ketika kita tertimpa sesuatu yang tidak nyaman.

Jadi, dalam agama kita diajarkan untuk selalu mengucapkan “Alhamdulillah”. Ini berarti apa? Berprasangka baik kepada Allah SWT. Selain itu, hal yang menarik adalah dalam Al-Qur’an di mana dari sekian banyak bacaan dzikir yang diajarkan; tasbih, tahmid, tahlil, takbir yaitu ucapan Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar. Dari empat bacaan dzikir tersebut, ungkapan Al-Qur’an ketika memerintahkan untuk membacanya menggunakan kata “Qul”, ucapkanlah, itu hanya pada perintah untuk mengucapkan “Alhamdulillah”. Dalam Al-Qur’an tidak ada yang menyebutkan secara eksplisit dengan ungkapan “ucapkanlah subhanallah atau ucapkanlah Allahu Akbar”, tetapi yang ada perintahnya menggubnakah “Sabbih” yang berarti bertasbihlah atau “Kabbir” yang berarti bertakbirlah, agungkanlah. Ini maksudnya adalah bahwa substansinya atau yang paling penting bukan diucapkannya tetapi pada sikap batinnya.

Namun untuk ungkapan “Alhamdulillah” tidak demikian. Allah memerintahkan dengan ungkapan langsung yakni “Wa qulil hamdulillah”, yang berarti ucapkanlah Alhamdulillah. Misalnya, bisa dilihat di akhir surah al-Isra’ berikut:

وَقُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌ فِى ٱلْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ وَلِىٌّ مِّنَ ٱلذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًۢا
“Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 111)

Ini mengajarkan seandainya hidup kita dalam keadaan kesulitan, kesempitan, tertimpa masalah, atau ibarat kata pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, tetap memuji Allah, tetaplah berprasangka baik kepada Allah SWT. Itu makna utama kenapa kita harus mengucapkan “Alhamdulillah” dalam setiap keadaan. Kenapa dalam setiap keadaan? Karena misalnya dalam situasi mendapat kesusahan sebenarnya Allah Mahakuasa untuk menimpakan kesusahan yang lebih dari itu, kalau Dia mau. Tapi kenapa Allah menimpakan seperti keadaan yang sedang dihadapi? Itu berarti Allah menilai kita mampu menghadapi cobaan itu karena Dia tidak akan memberikan cobaan di luar kesanggupan kita. Selain itu, Allah juga tegaskan:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظْلِمُ ٱلنَّاسَ شَيْـًٔا وَلَٰكِنَّ ٱلنَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” (QS. Yunus [10]: 44)

Jika di antara kita ada yang mendapat masalah tetaplah memuji Allah dengan segala nikmat  yang masih ada pada kita dan apalagi yang sedang mendapat nikmat tetaplah untuk lebih sering lagi memuji Allah. Ingatlah! Nikmat yang kita terima bukan karena kerja keras kita, bukan karena kecerdasan kita tapi itu semua semata-mata karena karunia Allah. Sementara ikhtiar yang kita lakukan itu juga harus kita lakukan karena itu sudah aturannya. Namun, kita harus sadari bahwa yang memberikan anugerah, keputusan akhir, atau hasil akhir hanyalah Allah SWT.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.