MEMAHAMI INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN

MEMAHAMI INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN

MEMAHAMI INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN

Oleh: Ali Nurdin

Kali ini dalam tulisan yang sederhana akan membahas tentang ungkapan innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Ungkapan ini begitu dahsyat maknanya. Hanya saja mungkin karena terlanjur menjadi kebiasaan sehingga terkadang ada yang kurang memahami makna dari ungkapan ini. Ungkapan ini terdapat dalam Al-Qur’an ayat ke 156 dari surah al-Baqarah.

اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah [2]: 156)

Ayat ini menjelaskan bagaimana cara kita agar bersabar ketika mendapat musibah. Dengan cara apa? Yaitu kita kembali kepada sebuah keyakinan bahwa semua yang ada adalah milik Allah. Yang menyebabkan orang menjadi sulit untuk berbahagia dan mudah untuk menderita adalah karena ia merasa apa yang dipunyai sebagai miliknya. Itu masalah. Orang yang merasa apa yang dimiliki sebagai miliknya menyebabkan orang tersebut mengalami kesedihan ketika kehilangan sesuatu yang dimilikinya.

Karena itu, Allah ajarkan untuk yakin bahwa semua yang manusia miliki adalah milik-Nya. Jangankan harta benda, bahkan diri kita pun miliki Allah. Buktinya apa? Kita tidak ikut merencanakan kelahiran kita. Tidak ada sedikitpun saham dalam hidup ini atas kelahiran kita ke dunia. Maka, dalam proses selanjutnya kita menjalani apa yang telah dianugerahkan dan ditetapkan oleh Allah atas diri kita.

Ungkapan di atas biasaya disebut dengan Istirja’. Ungkapan ini begitu dahsyat kalau kita memahami maknanya sehingga untuk menjadi bahagia itu sangat mudah. Saat mendapat musibah pun Allah ajarkan untuk ingat bahwa semuanya itu milik Allah dan pada akhirnya semuanya juga akan kembali kepada-Nya.

Dengan menghayati ungkapan istirja’ ini, seandainya kita tertimpa sesuatu yang tidak kita sukai, maka insya Allah hal itu akan terasa ringan bila kita melepas semua itu sebagai milik Allah SWT. Misal kita kehilangan kendaraan atau mengalami lecet atau kecelakaan yang menyebabkan kerusakan maka segera ingat bahwa semua milik Allah. Contoh lagi misalnya badan kita yang ditakdirkan sakit yang boleh jadi karena kesalahan kita maka segera ingat dan sadar bahwa badan kita adalah milik Allah. Dengan menyadari hal ini, ketika Allah ingin menjadikan badan kita dalam kondisi apapun maka kita harus ikhlas menjalaninya. Kenapa harus ikhlas? Karena badan kita adalah milik Allah.

Bukti bahwa kita tidak berkuasa atas apapun dalam hidup kita ialah tantangan Allah yang terdapat misalnya dalam ayat berikut:
فَلَوْلَآ اِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُوْمَۙ

“Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika (nyawa) telah sampai di kerongkongan,” (QS. Al-Waqi’ah [56]: 83)

Ayat ini menantang manusia, jika memang berkuasa atas diri atau ruh maka ditantang agar ketika ruh sampai di kerongkongan untuk dihentikan sehingga tidak keluar dari tubuh. Tentu hal ini tidak akan bisa. Karena itu, kita harus kembali pada sebuah kesadaran bahwa semuanya adalah milik Allah SWT. itulah makna Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Dengan menghayati ungkapan ini, hidup kita akan terasa ringan dan menjadi bahagia itu mudah.

 

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.