MAKNA QADARULLAH

MAKNA QADARULLAH

MAKNA QADARULLAH

Suatu saat kami diundang untuk hadir dalam sebuah majlis pengajian tetapi saya izin tidak bisa hadir karena kurang sehat. Mendengar saya izin, orang yang mengundang saya bilang, “Qadarullah, ustadz. Tidak apa-apa. Mudah-mudahan cepat sembuh.” Dan mungkin dalam banyak kesempatan lain kita sering mengucapkan ungkapan ini. Apa sebenarnya makna dari Qadarullah itu?

Dari segi bahasa ungkapan tersebut bermakna ketetapan Allah. Namun, pelajaran apa yang bisa kita petik dari makna ungkapan ini? Kalau kita merujuk pada Al-Qur’an ungkapan ini secara garis besar memberikan pengertian bahwa segala sesuatu yang terjadi pada makhluk itu telah ditetapkan oleh Allah SWT dan ada dalam konteks ketetapan Allah SWT. Misalnya, dalam Al-Qur’an disebutkan:

الَّذِيْ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَّلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهٗ تَقْدِيْرًا

“Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(-Nya), dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat.” (QS. Al-Furqan [25]: 2)

Dan di ayat yang lain:

وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدٰىۖ

“Yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,” (QS. Al-A’laa [87]: 3)

Ayat-ayat di atas mengajarkan bahwa manusia memang tidak bisa keluar aturan dan ketetapan Allah SWT. Yang bisa kita lakukan adalah terus berusaha untuk senantiasa ridha dengan ketetapan Allah SWT. karena memang manusia tidak bisa memilih pada hal-hal terntentu. Allah dalam ayat yang lain, misalnya, berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ وَيَخْتَارُ ۗمَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۗسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

“Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Qashash [28]: 68)

Ayat di atas menunjukkan bahwa ridha terhadap ketetapan Allah dan rela dengan ketentuan-Nya merupakan etika dan sikap mukmin yang baik. Sebaliknya, kalau seseorang tidak rela atas ketetapan Allah dengan cara menggugat, misalnya, atau berprasangka buruk dengan ucapan yang tidak layak seperti “Apa dosaku?”, “Apa salahku?”, “Kenapa Aku diperlakukan tidak adil?”, dan ungkapan lainnya maka itu bukanlah sikap seorang muslim dan mukmin yang baik.

Mudah-mudahan kita semua bisa rela atas semua ketentuan Allah dalam hidup kita.

 

 

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.