MAKNA HAUQALAH

MAKNA HAUQALAH

MAKNA HAUQALAH

Oleh: Ali Nurdin

Salah satu ungkapan populer di masyarakat kita sebagai seorang muslim adalah ucapan “Laa haula wa laa quwwata illaa biLLaah”. Ungkapan ini biasa dikenal nama hauqalah. Ungkapan ini dalam hadis Rasulullah SAW disebutkan bahwa bagi siapa yang mengucapkan itu niscaya Allah akan memberikan anugerah yang luar biasa. Apa sebenarnya isi kandungan ucapan itu?

Para ulama menafsirkan “Laa haula” itu artinya tidak ada kemampuan untuk menghindarkan kita dari maksiat atau tidak ada kemampuan untuk menjauhi perbuatan dosa dan juga tidak ada kekuatan untuk melaksanakan kebaikan atau meraih pahala kecuali atas pertolongan Allah SWT. Ungkapan ini mengandung makna pertama bahwa kekuasaan Allah itu mutlak atas manusia. Karena itu, kalau kita rujuk ke sekian banyak ayat, kemutlakan kekuasaan Allah itu apa? Misalnya, perhatikan dalam ayat berikut:

۞ وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am [6]: 59)

Dalam ayat lain Allah juga menegaskan dalam firman-Nya:

اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Tidakkah kamu tahu bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?” (QS. Al-Baqarah [2]: 106)

Banyak ayat lain yang senada dengan bunyi ayat di atas di mana inti maknanya berkaitan dengan kuasa Allah yang mutlak atas makhluk-Nya. Kemutlakan itu baik dalam menghidupkan dan mematikan, dalam mengurus alam semesta.

Kedua, kuasa Allah yang mutlak bukan untuk semena-mena atau berbuat dikatator tetapi untuk kemaslahatan manusia. Al-Qur’an menegaskan berulang-ulang ungkapan yang mengatakan bahwa Allah tidak berbuat zalim kepada manusia. Kita lihat, misalnya, dalam ayat berikut:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْـًٔا وَّلٰكِنَّ النَّاسَ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menzalimi dirinya sendiri.” (QS. Yunus [10]: 44)

Karena itu, ketika kita mengekspresikan diri dengan kalimat hauqalah itu menunjukkan wujud kerendah hatian kita di hadapan keagungan Allah SWT. Qarun dilaknat bukan karena dia tidak beriman tapi dia menyatakan keberhasilannya itu karena jerih payahnya. (QS. 28: 78) “Aku sukses karena ilmuku, karena kecerdasanku,” akunya. Tuhan marah dan tidak suka dengan sikap seperti itu. Kita harus kembali kepada prinsip bahwa yang kita lakukan itu atas pertolongan Allah sehingga kita menyadari bahwa apa yang kita raih juga hakikatnya itu adalah dari Allah. Karena itulah berbeda dengan Qarun, Nabi Sulaiman berkata, “Hadza min fadli rabbi”, ini semua karunia Tuhanku. (QS. 27: 40)

Jangan sampai kita termasuk orang yang takabbur (sombong), yang menganggap semua jerih payah, semua prestasi ini sebagai hasil usaha kita. Hakikatnya ini semua dari pertolongan Allah. Bagaimana cara kita menghayati ini? Gampang. Kita ambil contoh, kalau kita punya inisiatif, bekerja keras, tenaga yang cukup, pikiran yang cerdas. Ingat! Semua itu dari siapa? Itu dari Allah dan itu milik-Nya. Karena itu, sekali lagi, ucapan “Laa haula wa laa quwwata illaa biLLaah” merupakan sikap kerendah hatian kita di hadapan keagungan Allah SWT.

 

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.