MAKNA INSYA ALLAH

MAKNA INSYA ALLAH

MAKNA INSYA ALLAH

Oleh: Ali Nurdin

Kali ini kita akan berbicara istilah yang sering digunakan sehari-hari yaitu kalimat “Insya Allah”. Kalimat ini secara bahasa berarti “jika Allah menghendaki”. Ungkapan ini menunjukkan kerendah hatian kita. Ungkapan ini mengajarkan bahwa manusia itu posisinya hanya sebatas merencanakan, memiliki sedikit niat atau kehendak, di mana hakikatnya yang mewujudkan itu semua adalah Allah SWT.

Sekuat apapun posisi atau keadaan kita, untuk hal yang akan dikerjakan, kita diajarkan untuk mengatakan “Insya Allah”, jika Allah menghendaki.

Ungkapan ini terdapat pada ayat berikut:

وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ ۖوَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّهْدِيَنِ رَبِّيْ لِاَقْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi,” kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.” Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.” (QS. Al-Kahfi [18]: 23-24)

Dari ayat di atas, Allah menegur kalau ada orang yang mengucapkan untuk melakukan sesuatu di masa depan tanpa diiringi dengan ungkapan “Insya Allah”. Ini maknanya untuk menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang dhoif, lemah. Kita harus meyakini dalam hati bahwa yang mewujudkan rencana kita adalah Allah SWT.

Ada hal yang menarik ketika kita lihat di Al-Qur’an, ada ungkapan yang mirip dengan Insya Allah yaitu biidznillah yang terjemahannya adalah dengan izin Allah. Apa bedanya? Pertama, dari beberapa ayat yang mengandung istilah itu, makna biidznillah biasanya digunakan untuk sesuatu yang telah terjadi, sedangkan insya Allah untuk sesuatu yang akan dan belum terjadi. Misalnya dalam firman Allah:

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗوَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun [64]: 11)

Kedua, kalau Insya Allah itu penanggung jawab rencana aktivitas itu adalah manusia. Misalnya, kita berkata, “Saya akan berangkat besok ke luar kota, insya Allah.”Tidak menggunakan biidznillah. Karena ungkapan biidznillah yang menjadi penanggung jawab dari aktivitas itu adalah Allah SWT. Karena itu, terjadinya musibah itu semata-mata kehendak Allah.

Contohnya ketika Nabi Isa mempunyai kemampuan mukjizat untuk menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang sakit, bisa berbicara ketika masih bayi, semuanya diikuti redaksi biidznillah.

اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِيْ عَلَيْكَ وَعَلٰى وَالِدَتِكَ ۘاِذْ اَيَّدْتُّكَ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِى الْمَهْدِ وَكَهْلًا ۚوَاِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرٰىةَ وَالْاِنْجِيْلَ ۚوَاِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ بِاِذْنِيْ فَتَنْفُخُ فِيْهَا فَتَكُوْنُ طَيْرًاۢ بِاِذْنِيْ وَتُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ بِاِذْنِيْ ۚوَاِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتٰى بِاِذْنِيْ ۚوَاِذْ كَفَفْتُ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَنْكَ اِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

“Dan ingatlah ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan Rohulkudus. Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. Dan ingatlah ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) Hikmah, Taurat dan Injil. Dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) di kala waktu engkau mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (QS. Al-Maidah [5]: 110)

Kedua ungkapan di atas menggambarkan bahwa sehebat apapun manusia tetaplah sebagai makhluk yang lemah. Dalam firman-Nya ditegaskan:

يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” (QS. An-Nisa’ [4]: 28)

Artinya, yang Maha Agung, yang Maha Besar hanyalah Allah SWT. Jangan pernah menjadi takabbur, sombong, atas apa yang kita raih tetapi kembalikan semua yang kita raih adalah anugerah dan terjadi karena izin dan kehendak Allah SWT.

 

 

 

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.