MAKNA WALI ALLAH

MAKNA WALI ALLAH

MAKNA WALI ALLAH

Oleh: Ali Nurdin

Ada kesan di masyarakat ketika seseorang bisa melakukan sesuatu yang menyelisihi kebiasaan atau sesuatu yang luar biasa, kita sering menyebut orang tersebut sebagai wali Allah. Apakah pandangan ini benar? Tentu saja tidak sepenuhnya salah. Tapi ada juga kaidah yang mengatakan, “Laa ya’riful wali illaa wali”, tidak ada orang yang mengetahui seseorang itu wali kecuali dia seorang wali juga.

Sikap kita ialah sebaiknya tidak mudah mengatakan si A seorang wali, si B seorang wali karena itu berarti menganggap diri kita juga orang yang memiliki derajat kewalian. Sebetulnya tidak masalah juga kalau kita merujuk ke Al-Qur’an. Kriteria yang disebut kekasih Allah atau wali Allah itu apa? Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ  اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ

“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.” (QS. Yunus [10]: 62-63)

Jadi, definisi wali menurut Al-Qur’an itu simpel, gampang. Itu sangat mungkin diraih oleh siapapun, tidak hanya untuk orang tertentu. Berdasarkan ayat di atas, syaratnya ialah senantiasa punya sikap istiqomah sehingga tidak ada kekhawatiran dan kesedihan dalam hidupnya.

Itu bukan karena pasif, tapi itu semua sebuah kondisi yang dihasilkan dari konsistensi keimanan dan ketakwaan. Konsistensi itu yang menjadikan orang tersebut dikasihi oleh Allah SWT. Penjelasan ini akan ketemu dengan penjelasan ayat yang lain:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. Al-Ahqaf [46]: 13)

Dan firman-Nya:

نَحْنُ أَوْلِيَآؤُكُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِىٓ أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (QS. Fussilat [41]: 31)

Siapa yang dikatakan oleh Allah bawa mereka itu dilindungi? Mereka itu adalah orang-orang yang berkata Tuhan kami adalah Allah kemudian istiqamah dengan ucapan itu (Lihat QS. Fussilat [41]: 30).

Itulah kriteria yang disebut wali Allah atau kekasih Allah. Setiap orang bisa mencapai level seperti itu. Tapi ciri utamanya tentu saja adalah orang yang rendah hati, orang yang bersikap, misalnya, seandainya dia memiliki sesuatu yang kelebihan yang berbeda dengan orang lain tidak timbul rasa ujub. Dia bersikap rendah hati karena hasil capaian dan kondisi spiritual yang diraihnya sehingga ia menyadari  bahwa menjadi seorang kekasih Allah itupun adalah anugerah dari Allah SWT.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.