PUASA SEBAGAI KEBUTUHAN

PUASA SEBAGAI KEBUTUHAN

PUASA SEBAGAI KEBUTUHAN

Oleh: Ali Nurdin

Kita akan selalu membutuhkan ibadah kita kepada Allah. Salah satu ibadah yang sangat kita perlukan adalah ibadah puasa. Jangan pernah menduga bahwa Allah itu butuh dengan ibadah kita, termasuk puasa kita. Maka, agar puasa kita lebih bermakna, kita harus meyakini bahwa puasa itu untuk kepentingan kita, untuk kebutuhan kita.

Manusia akan selalu butuh kepada Allah dengan menjalankan ibadah-ibadah yang telah disyariatkan. Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan:

۞ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.” (QS. Fatir [35]: 15)

Agar puasa Ramadhan yang akan kita kerjakan nanti bermakna dalam hidup kita, yakinilah bahwa puasa itu adalah kebutuhan kita. Puasa itu menjadi keperluan untuk kehidupan kita, untuk kemaslahatan kita di dunia dan akhirat. Mungkin ada yang bertanya, kalau itu kebutuhan kita, mengapa Allah dalam firman-Nya menegaskan bahwa puasa diwajibkan? Ya, ini pertanyaan bagus. Dalam Al-Qur’an memang ditegaskan demikian, sebagaimana dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Ini adalah ayat utama tentang perintah puasa. Dalam ayat di atas, Allah menggunakan ungkapan “Diwajibkan atas kamu berpuasa”. Ungkapan “Diwajibkan” mengindikasikan bahwa sebenarnya manusia itu tidak selalu dan belum mengerti makna dan hikmah puasa. Karena itu, agar manusia mengerti perlu ditegaskan dengan kalimat “Diwajibkan” itu. Akan tetapi, ketika seseorang telah menyadari dan mengetahui bahwa ada sekian banyak hikmah dari ibadah puasa yang dikerjakannya maka kata “Diwajibkan” tidak akan lagi mengganggunya. Yang ada apa? Dia akan merasa bahwa memang harus berpuasa karena itu adalah kebutuhannya.

Ketika seseorang dapat menghadirkan dalam hatinya bahwa puasa sebagai sebuah kebutuhan dalam kehidupannya maka, insya Allah, ia akan menjalani ibadah puasanya dengan cara yang baik dan lebih bermakna. Yang lebih bermakna dalam konteks berpuasa seperti apa?  Tentu saja bukan sekadar hanya meyakini bahwa itu adalah sebuah kebutuhan tetapi lebih dari itu adalah bisa fokus dengan makna dan pesan-pesan moral dalam ibadah puasa yang dijalankan.

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.