AWAS JEBAKAN SETAN

AWAS JEBAKAN SETAN

AWAS JEBAKAN SETAN

Oleh: Ali Nurdin

Tema yang akan kita bahas kali ini adalah tentang jebakan setan. Topik ini menarik karena dalam sebuah hadis diinformasikan bahwa ketika datang bulan ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ada yang bertanya, kalau setan dibelenggu kenapa masih ada orang berbuat dosa selama bulan Ramadhan? Di antara hikmah terpentingnya adalah semestinya orang yang beribadah puasa bisa mengendalikan hawa nafsunya sehingga setan itulah yang maksudnya untuk dikendalikan. Atau seandainya setan dari golongan jin yang benar-benar dibelenggu, tapi ingat! Setan “manusia” itu tidak terbelenggu, masih berkeliaran.

Karena itu, yang harus kita waspadai adalah setan yang ada dalam diri kita masing-masing, berupa sikap-sikap yang negatif. Misalnya apa? Kita sudah berusaha untuk menjalankan ibadah dengan baik tapi ada saja sisi negatif dalam diri kita yang mengatakan, “Kamu, kan, orang baik. Coba kasih tahu ke orang lain biar yang lain tahu kalau kamu orang baik.” Itu yang disebut dengan dorongan untuk bersikap riya’. Sikap ini jika dilakukan akan menyebabkan pahala amal berguguran. Maka, hendaknya kita berhati-hati dengan jebakan setan lewat jalur ini.

Dalam beramal, kita jangan terlalu atraktif untuk menginformasikan setiap amal shaleh kita. Misalnya, mungkin karena terlalu bersemangat, setiap bentuk ibadah yang kita kerjakan langsung difoto kemudian diuplod disertai informasi-informasi tertentu.

Kita tidak su-uzhan (buruk sangka) dengan niat seseorang karena hal tersebut tidak kita ketahui, yang tahu hanya Allah. Tetapi, bisa saja itu menjadi jebakan setan untuk menggelincirkan manusia dari niat yang ikhlas dalam ibadah kepada-Nya.

Bersikap hati-hati adalah tanda sikap orang yang bijaksana dalam beribadah. Jangan sampai ibadah kita kurang bermakna bahkan menjadi sia-sia karena disebabkan kita keliru dalam mengelola niat kita. Cukuplah Allah yang kita jadikan sebagai penentu dan yang akan menilai ibadah kita. Namun, kalau kita ingin berdakwah, ingin mensyi’arkan kebaikan yang sedang kita lakukan, atau menginspirasi untuk mengajak orang lain agar bersikap baik dan berbuat kebaikan, itu suatu niat yang baik, tapi kita harus tetap berhati-hati. Kalau bisa, kita jangan terlalu sering untuk “memamerkan” amal-amal shaleh kita agar kita selamat dari penyakit riya’ dalam setiap amal ibadah kita.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.