PUASA MENYIKAPI PERBEDAAN

PUASA MENYIKAPI PERBEDAAN

PUASA MENYIKAPI PERBEDAAN

Oleh: Ali Nurdin

Perbedaan itu sebuah keniscayaan. Segala hal pasti ada perbedaan. Ciptaan Allah dalam segala bentuknya itu berbeda-beda. Demikian halnya manusia, berbeda dalam banyak hal, termasuk dalam memahami sesuatu pasti ada perbedaan. Rambut boleh sama hitamnya tapi isi kepala bisa berbeda-beda.

Isi kepala salah satunya adalah pemikiran dan pemahaman, termasuk memahami satu ajaran agama. Ada perbedaan. Maka, bagaimana menyikapi perbedaan terlebih bagi orang yang sedang berpuasa? Untuk menyikapi perbedaan yang tepat sebagai sebuah hasil puasa yang baik seperti apa?

Untuk sesuatu yang tidak bisa disatukan, biarkanlah tetap berbeda. Bersikaplah bijak dengan menyikapi sebuah perbedaan yang memang itu tidak bisa disatukan. Banyak hal dalam kehidupan kita termasuk dalam keyakinan agama kita yang sama dan menyatukan kita. Misalnya, sebagai seorang muslim, Allah kita sama, Rasul kita sama, kitab suci dan kiblat shalat kita juga sama. Itu semua yang menguatkan kita untuk terus kita jaga. Kalau ada sedikit perbedaan, misalnya tentang penentuan awal puasa, ada yang menggunakan metode rukyah (melihat bulan secara langsung) dan ada yang menggunakan metode hisab (perhitungan), yang hasilnya terkadang berbeda maka kita tidak seharusnya menghabiskan energi untuk memaksakan satu hal yang berbeda yang tidak bisa disatukan.

Sikap kita dalam menyikapi perbedaan adalah biarkanlah setiap orang meyakini pemahaman dan keyakinannya serta juga kita tidak mengurangi dan tidak mengorbankan sisi keyakinan idealisme kita dalam meyakini suatu kebenaran. Seseorang yang bijaksana akan selalu berikhtiar untuk mencari titik temu dan titik kesamaan tanpa mengorbankan keyakinan masing-masing.

Contoh lain, ialah suami dan istri. Mereka memang berbeda. Suami cenderung lebih kuat dalam aspek tenaganya. Istri cenderung lebih lemah lembut dalam sikapnya. Tentu saja itu skenario Allah. Demikian halnya dalam menyikapi perbedaan dalam kehidupan kita dan dalam pemahaman agama kita. Silahkan kita meyakini kebenaran yang sudah kita pahami, pada saat yang sama biarkan orang lain juga meyakini kebenaran yang ingin diyakininya.

Nanti siapa yang benar di antara hal yang berbeda itu tentu ada yang akan memberikan penilaian atau penghakiman. Siapa? Allah, Hakim yang Mahaadil. Silahkan kita meyakini tanpa menghakimi. Itulah sikap atas perbedaan yang terjadi. Kalau itu bisa kita raih dan bisa kita lakukan maka menjadi seorang muslim yang membawa rahmat bagi sesama bukan suatu yang sulit. Mulailah dengan cara menyikapi perbedaan secara proporsional.

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.