MENANAM KEBAIKAN

MENANAM KEBAIKAN

MENANAM KEBAIKAN

Oleh: Ali Nurdin

Bagaimana mendorong setiap orang agar berbuat baik? Salah satu hukum dasar Al-Qur’an atau logika yang digunakan Al-Qur’an tentang kebaikan yang dilakukan seseorang disebut dalam banyak ayat. Sekian ayat tersebut menyatakan bahwa setiap bentuk kebaikan yang kita kerjakan hakikatnya kembali kepada diri kita sendiri. Misalnya, dalam ayat berikut Allah berfirman:

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai.” (QS. Al-Isra’ [17]: 7)

Kalau kita beramal shaleh, misalnya, membantu orang yang tertimpa wabah maka amal shaleh itu juga akan kembali kepada kita. Ini juga ditegaskan oleh Allah dalam ayat berikut:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهٖ ۙوَمَنْ اَسَاۤءَ فَعَلَيْهَا ۗوَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ ۔

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba(-Nya).” (QS. Fussilat [41]: 46)

Selain itu, amal Shaleh yang kita lakukan, di samping niatnya tulus dan ikhlas, jangan lupa tambahkan niat sebagai bentuk syukur kepada Allah Swt.. Karena apa? Karena di saat wabah sedang melanda, sebagian kita masih diberikan karunia oleh Allah dengan keluarga yang sehat, kelapangan rizki, sehingga sebagai bentuk syukur kita berbagi atau bersedekah dengan saudara kita yang lain. Allah memuji orang yang bersyukur bahwa sebenarnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗوَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu,  ”Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman [31]: 12)

Allah sekarang memberikan kesempatan kepada kita untuk banyak berbuat amal dengan cara membantu orang yang kesusahan dan memanjatkan doa tulus kita kepada mereka. Kebaikan dan ketulusan yang kita lakukan, insya Allah, akan kembali kepada kita sendiri.

 

 

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.