PIJAKAN ORANG SUKSES

PIJAKAN ORANG SUKSES

PIJAKAN ORANG SUKSES

Oleh: Ali Nurdin

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang orang yang paling sukses pada masanya, yaitu Qarun. Saking suksesnya, sampai menjadi mitos hingga hari ini kita mengenal setiap menemukan harta tersembunyi disebut dengan harta karun. Tokoh ini diambil dari Al-Qur’an pada surah al-Qasas pada ayat 76-82. Dalam rangkaian ayat tersebut, terdapat satu ayat, tepatnya pada ayat 77, yang tidak berbicara tentang tokoh tersebut. Tetapi ayat tersebut berbicara tentang bagaimana menyikapi kesuksesan atas anugerah Tuhan. Allah berfirman:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qasas [28]: 77)

Dalam ayat tersebut, ada empat pilar yang seharusnya menjadi pijakan dan pegangan kita semua ketika dianugerahi kesuksesan. Pertama, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat. Artinya, atas semua keberhasilan yang diberikan oleh Allah kemudian kita pertahankan dan teruskan dengan niat dalam hati untuk bekerja mengharap ridha Tuhan. Maka, dalam melanjutkan pekerjaan kita, tidak hanya bekerja dengan fikiran dan tenaga kita tapi juga dengan hati kita karena motif utama kita dalam melakukan pekerjaan kita adalah untuk meraih ridha Tuhan.

Kedua, janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Maksudnya, meskipun niat kita untuk kebahagiaan akhirat tetapi Allah SWT menciptakan hukum-hukum di dunia yang harus diikuti oleh siapapun yang ingin meraih keberhasilan di dunia ini. Yang ingin panen harus menanam. Yang ingin berhasil harus berjuang dengan sungguh-sungguh. Itulah hukum di dunia yang bersifat universal. Karena itu, bertransformasi itu bukan pilihan, itu adalah keharusan agar tetap bisa berkontribusi untuk kemajuan.

Pijakan orang sukses yang ketiga adalah berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Maksudnya ialah setelah niat kita luruskan, bekerja keras sudah dikokohkan selanjutkan adalah berkontribusi dengan cara selalu berbuat kebaikan kepada sesama. Pilar ketiga ini selain cara agar kita mendapat kesuksesan juga agar apa yang kita raih bisa membawa keberkahan. Al-Qur’an menggarisbawahi sebuah hukum universal: in ahsantum, ahsantum li anfusikum, jika kita berbuat baik sebenarnya perbuatan baik itu untuk diri kita sendiri. Ini tidak berlaku hanya secara individu tetapi juga berlaku untuk institusi atau perusahaan.

Pijakan yang keempat ialah janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Artinya, apa yang sudah kita bangun atau yang kita capai jangan sampai ada orang yang melanggar norma. Katakan “tidak” untuk semua jenis pelanggaran, apapun bentuknya. Kalau ada suatu pihak atau kelompok yang kita biarkan melanggar aturan yang telah disepakati bersama yang merugi bukan hanya yang melanggar tetapi kita semua ikut rugi.

Karena itu Allah mengingatkan kita:

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai Kembali. (QS. An-Nahl [16]: 92)

Kesuksesan apapun yang telah dicapai jangan “dicerai berai” kembali. Kalau tidak bisa memberi kontribusi positif maka minimal jangan melakukan hal yang merusak pencapaian kita.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.