CEMBURU YANG DIBOLEHKAN

CEMBURU YANG DIBOLEHKAN

CEMBURU YANG DIBOLEHKAN

Oleh: Ali Nurdin

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Rasulullah, disebutkan tentang bentuk iri atau cemburu yang dibolehkan. Hadis itu berbunyi:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ علمه الله القرآن فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ فَسَمِعَهُ جار له فَقَالَ يَا لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ هَذَا فَعَمِلْتُ مَا يَعْمَلُ – وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الْحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا لَيْتَنِى أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فلان فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَل رواه البخاري وأحمد

“Tidak ada hasad/iri kecuali kepada dua orang yaitu kepada orang yang Allah ajarkan Al-Qur’an lalu ia membacanya siang dan malam, lalu tetangganya mendengarnya dan berkata, seandainya aku diberikan seperti yang diberikan kepada orang tersebut, pasti aku akan berbuat seperti yang ia lakukan. Dan kepada orang yang Allah berikan kepadanya harta lalu ia menghabiskannya di jalan kebenaran, lalu seseorang berkata, seandainya aku diberikan harta seperti yang diberikan kepada orang itu, pasti aku akan berbuat seperti yang ia lakukan.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Para ulama menyebut bahwa makna hasad di sini bukan seperti makna hasad yang sering kita dengar sebagai sifat negatif. Makna hasad dalam hadis ini maksudnya adalah Ghibthah. Apa bedanya? Kalau hasad itu seperti yang disebut dalam Al-Qur’an:

اِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْۖ وَاِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَّفْرَحُوْا بِهَا ۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـًٔا ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ ࣖ

“Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran [3]: 120)

Ayat di atas menerangkan tentang makna hasad yang berarti dengki. Orang dengki itu SMS, senang melihat orang susah, susah melihat orang senang. Sedangkan yang dimaksud hasad yang bermakna Ghibthah seperti yang disebut dalam hadis di atas ialah keinginan agar diberi anugerah seperti yang diberikan oleh Allah kepada orang lain tetapi tanpa bermaksud orang yang kita inginkan itu kehilangan anugerahnya. Bahasa mudahnya, tidak ada kebencian ketika menginginkan anugerah seperti yang didapat orang lain. Ini yang disebut dengan cemburu yang dibolehkan.

Hadis di atas menyebutkan cemburu yang boleh itu ada dua. Pertama, kalau kita melihat ada orang yang dianugerahi oleh Allah berupa interaksi dan kesungguhannya dalam berkhidmah pada Al-Qur’an sehingga ia menjadi orang yang senantiasa berusaha bersama Al-Qur’an dan mencintainya, serta selain membaca juga mengajarkannya maka kita dibolehkan agar bisa diberi anugerah seperti yang diberikan kepada orang itu.

Kedua, kalau kita melihat ada orang yang diberi anugerah dengan kelapangan rezeki berupa harta di mana dengan harta tersebut ia banyak beramal dalam bentuk ibadah sosial dengan membantu sesama maka kita dibolehkan agar diberi seperti itu.

Tapi sebaliknya kalau kita melihat ada orang yang diberi anugerah oleh Allah dengan kelapangan rezeki berupa banyak harta tapi kok pelit, sombong lagi, maka kita tidak perlu menginginkannya. Kita tidak boleh menginginkan hal seperti itu.

Keinginan kita yang dibolehkan ialah kalau kita diberikan kesempatan atau anugerah seperti yang diberikan Allah kepada orang yang memiliki kelebihan harta di mana kita pun menginginkan dengan harta itu bisa banyak beramal sosial berupa sedekah atau infak. Ini merupakan keinginan yang baik.

Pelajaran pentingnya adalah, hadis ini ingin menggarisbawahi bahwa atas anugerah Allah yang diberikan kepada orang lain, boleh kita menginginkannya dengan syarat anugerah itu dimanfaatkan untuk kebaikan. Kalau anugerah itu ternyata membawa pada hal-hal yang negatif bagi pemiliknya maka kita tidak perlu menginginkannya.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.