AGAR HIDUP PENUH BERKAH

AGAR HIDUP PENUH BERKAH

AGAR HIDUP PENUH BERKAH

Oleh: Ali Nurdin

Berkah berasal dari bahasa Arab yaitu Barokah yang makna dasarnya berarti berkembang, tumbuh, dan tetap. Dalam istilah agama, berkah bermakna langgengnya dan bertambahnya kebaikan. Langgengnya kebaikan dalam sesuatu itu namanya berkah. Rumah disebut berkah jika di dalamnya selalu terdapat kebaikan.

Bagaimana hidup kita agar selalu mendapat keberkahan? Agar hidup kita penuh keberkahan dan selalu tercurah kebaikan, mari kita renungi ayat berikut:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 96)

Dalam ayat ini, ada dua persyaratan agar masyarakat bisa mendapat curahan keberkahan, baik dari langit maupun dari bumi, yaitu iman dan takwa. Syarat pertama untuk mendapat keberkahan adalah iman kita. Kita hendaknya memiliki keyakinan yang benar dan akidah yang lurus kepada Allah SWT. Iman seperti apa yang bisa mengundang keberkahan? Iman yang mengundang keberkahan bukan hanya percaya bahwa Allah itu ada tetapi yakin bahwa Allah itu Maha segalanya. Allah memiliki kekuasaan yang tidak terbatas. Keimanan yang benar ialah kita meyakini dengan keimanan penuh bahwa Allah itu Esa, tiada Tuhan yang berhak disembah selain-Nya.

Keimanan yang benar juga meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang mematikan dan menghidupkan. Keimanan kita terhadap yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan hendaknya tidak disalahpahami yang menyebabkan melanggar aturan Allah. Misalnya, pada saat Pandemi ini, karena percaya bahwa Allah adalah Dzat yang mematikan dan menghidupkan sehingga tidak mau memakai protokol kesehatan. Ini bukan sikap keimanan yang benar. Keimanan kita harus mengikuti aturan yang juga ditetapkan oleh Allah.

Keimanan yang mengundang keberkahan juga ialah kita yakin bahwa Allah senantiasa mengurus hamba-Nya. Ia tidak pernah pensiun. Allah selalu sibuk mengurus kepentingan dan keperluan hamba-Nya. Ia senantiasa sibuk mengabulkan doa-doa hambanya.

يَسْـَٔلُهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْنٍ
Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. (QS. Ar-Rahman [55]: 29)
Selanjutnya, selain iman, hal yang mendatangkan keberkahan juga adalah takwa. Memang salah satu ciri orang yang bertakwa ialah orang yang beriman. Namun, ketika disebut terpisah antara iman dan takwa seperti pada ayat 96 surah al-A’raf di atas, itu berarti bahwa takwa yang dimaksud adalah segala bentuk tindakan, eksekusi nyata dari keimanan yang ada dalam hati seseorang. Rincian tindakan nyata dari ciri orang yang bertakwa bisa dilihat dalam ayat berikut:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Di antara perilaku yang dilakukan oleh bertakwa ialah senantiasa memberikan bantuan harta kepada orang lain, menepati janji, dan bersabar dalam setiap cobaan. Sehingga para ulama memberikan definisi takwa ialah orang yang berusaha melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Karena itu, ketika orang yang beriman kemudian menyempurnakan dengan sikap takwanya maka Allah akan turunkan keberkahan dari langit dan dari bumi.

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.