SYARIAT KURBAN

SYARIAT KURBAN

SYARIAT KURBAN

Oleh: Ali Nurdin

Salah satu ayat Al-Qur’an yang menjadi dalil mengenai syariat kurban ialah Firman Allah SWT dalam berikut ini:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ

“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (QS. Al-Kautsar [108] : 2)

Berkurban adalah salah satu taqarrub (pendekatan diri kepada Allah) yang utama apalagi di hari idul adha. Hal ini karena tidak ada ibadah yang paling dicintai oleh Allah SWT pada hari itu kecuali mengalirkan darah hewan kurban. Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:

وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱبْنَىْ ءَادَمَ بِٱلْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ ٱلْءَاخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Maidah [5]: 27).

Dari ayat tersebut tersirat perintah untuk melaksanakan kurban. Arti kurban adalah dekat, jadi ibadah kurban dilakukan dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pada masa Nabi Adam AS belum ada syariat untuk shalat, tetapi sudah ada syariat untuk semua umat, yaitu syariat untuk kurban. Syariat kurban adalah syariat awal yang muncul dan menjadi salah satu cara penghambaan manusia kepada Allah SWT. Ia berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang[1]orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”. (QS. Al-Hajj [22]: 34).

Dari ayat tersebut diterangkan bahwa setiap umat dari Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk berkurban dengan hewan yang disembelih dari jenis binatang ternak. Para ulama telah sepakat bahwa binatang ternak itu hewan unta, sapi, kerbau dan kambing. Jika ada yang berkurban dengan ayam atau bebek itu bukan untuk berkurban, tetapi jatuhnya sedekah. Begitu juga kalau berkurban dengan jenis ikan hanya dianggap sebagai sedekah biasa.

Dalam hal pembagian daging kurban, Allah SWT berfirman:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۖ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir”. (QS. Al-Hajj [22]: 28)

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ ۖ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi´ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua[1]unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”. (QS. Al-Hajj [22]: 36)

Berdasarkan kedua ayat tersebut maka para ulama membagi daging kurban menjadi tiga bagian; sepertiga untuk diri sendiri, sepertiga diberikan sebagai hadiah untuk orang-orang mampu dan sepertiga lagi diberikan sebagai sedekah untuk fakir dan miskin. Ini dengan catatan bahwa daging hewan kurban disembelih sendiri. Akan tetapi, jika diserahkan kepada panitia kurban, maka untuk distribusi daging kurban hendaknya diserahkan kepada panitia kurban.

Dalam proses penyembelihan hewan kurban dilakukan pada hari raya idul adha (10 Dzulhijjah) dan pada hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Daging kurban boleh dipacking, dibungkus dan didistribusikan di luar hari tasyrik.

Baca juga: TAKUT PADA ALLAH VS TAKUT PADA VIRUS

Dalam pensyariatan kurban perlu diperhatikan bahwa bukan hanya urusan daging dan darah tetapi ada tujuan tinggi yang akan dicapai melalui ibadah ini, yaitu takwa. Allah SWT berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Hajj [22]: 37).

Dari ayat tersebut, maka yang sampai kepada Allah SWT adalah ketakwaan orang yang berkurban bukan daging dan darah hewan yang disembelih. Karena itu, misalnya, jika ada orang niat kurban namun dananya belum cukup dan di sisi lain ada saudaranya yang sangat membutuhkan dana tersebut, kemudian kita berikan dana itu kepada saudara kita maka, insya Allah, juga akan dapat pahala ibadah kurban.

 

 

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.